Science for the Protection of Indonesian Coastal Marine Ecosystems(SPICE) telah berlangsung selama 12 tahun (2003-2015). SPICE merupakan kerjasama bilateral Indonesia-Jerman yang telah disepakati dalam pertemuan bilateral Indonesia-Jerman ‘Steering Committee for Earth and Ocean Sciences’ untuk melindungi ekosistem perairan Indonesia melalui kolaborasi riset kedua Negara.Earth and Ocean Sciences merupakan salah satu working group yang terdapat dalam kerangka kerjasama bilateral Indonesia dan Jerman dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan (Kemristekdikti) bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sebagai focal point dari Indonesia, sedangkan dari Jerman adalah Kementerian Pendidikan dan Riset (BMBF) dan Leibniz Center for Tropical Marine Ecology (ZMT).

SPICE Final Conference dilaksanakan pada tanggal 20-21 Januari 2016 di Universitas Udayana, Denpasar, Bali. Konferensi ini bertujuan untuk mempresentasikan kegiatan-kegiatan dalam fase SPICE I (2003-2007), SPICE II (2008-2011), dan SPICE III (2012-2015).Berbagai topik yang dipresentasikan dalam konferensi ini, yakni (1) Carbon Sequestration,(2) Marine Geology and Biogeochemistry, (3) Renewable Energy, (4) Governance of Coastal and Marine Ecosystems, (5) Understanding Ecological and Socio Economic Dynamics of Mangrove Ecosystems Under Pressure, (6) Pollution, Aquaculture,(7) Stakeholder Consultation, dan (8) Coral Reef-Based Ecosystems.Kemristekdikti, KKP, BPPT, LIPI dan berbagai universitas sebagai pelaksana program SPICE turut berpartisipasi dalam konferensi akhir SPICE tersebut.

“Hasil kolaborasi riset melalui SPICE ini erat kaitannya degan topik Perubahan Iklim pada World Climate Conference yang diselenggarakan oleh UNFCCC (United Nations Framework Convention on Climate Change) pada bulan Desember 2015 di Paris” demikian disampaikan Andrea Heyn dari BMBF Jerman pada pembukaan konferensi tersebut . Hasil kolaborasi riset ini tidak hanya sebagai rekomendasi kebijakan untuk Indonesia dan Jerman saja, tapi secara global dapat mengambil ini sebagai best-practice. Dalam kesempatan ini, Prof. Indroyono Soesilo sebagai salah satu pencetus program SPICE yang juga mantan Menko Kemaritiman mengemukakan bahwa berdasarkan Paris Agreement 2015 terkait Carbon Emission dan Sustainable Development Goals (SDG) 2030padaGoal 14: Conserve and sustainably use the oceans, seas, and marine resources for sustainable development, Indonesia-Jerman harus mengeratkan kerja sama walau program SPICE ini berakhir”.SDG 2030 ini telah disepakati pada tanggal 25 September 2015 oleh negara-negara yang tergabung dalam Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengakhiri kemiskinan, melindungi bumi, dan memastikan kemakmuran untuk semua dalam waktu 15 (lima belas) tahun kedepan. Prof. Made Damriyasa selaku Rektor Universitas Udayana menambahkan bahwa melalui SPICE, seluruh pemangku kepentingan dari pemerintah, akademisi, peneliti dari institusi litbang bersama melakukan riset untuk melindungi perairan Indonesia.Berbagai hal postif yang telah dihasilkan melalui program SPCE ini, antara lain joint publication, capacity building melalui beasiswa DAAD, joint training courses, seminar, dan workshops.

Pertemuan para peneliti Indonesia-Jerman yang terlibat program SPICE dilanjutkan pada tanggal 22 Januari 2016 untuk menentukan langkah kedepan kolaborasi riset bersama dalam bidang kelautan dan perikanan. (ap/kskp/sj)