Surabaya, 8 Mei 2015-Pembangunan nasional membutuhkan SDM unggul berkualifikasi Doktor. Pada kenyataannya, Indonesia masih kekurangan Doktor.

Total dosen Perguruan Tinggi (PT) di Indonesia baru mencapai 154.968 orang. Hanya 11% dari mereka yang berkualifikasi doktor. 54% dengan kualifikasi S2 dan 36% masih dengan kualifikasi S1.

Jumlah doktor perlu ditingkatkan sehingga mencapai minimal 20% dari jumlah seluruh dosen PT. Jika hanya mengandalkan program pendidikan doktor reguler, dengan produktivitas paling banyak mencapai 1.000 doktor setiap tahun, maka diperlukan waktu hingga 14 tahun untuk mencapai proporsi 20%.

Inilah salah satu alasan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) memberikan Program Beasiswa Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU). Para peserta akselerasi program dari sarjana menjadi doktor ini, harus menyelesaikan studinya dalam waktu 4 tahun. Namun, karakteristik pendidikan doktor pada program ini tidak boleh ditawar-tawar. Program doktor memiliki paling tidak dua karakteristik utama yaitu advanced (lanjut) dan scholarly (kesujanaan).

Karakteristik “lanjut” mengandung arti materi atau subjek kajian sifatnya mendalam, tidak sekedar menguasai, mengembangkan dan mengimplementasikan teori atau dalil atau hukum yang ada, tetapi lebih jauh lagi yaitu “menemukan” teori, dalil, hukum, konsep, teknologi baru. Harapannya, doktor menjadi penemu dan kontributor bagi pengembangan Ilmu Pengetahuan (Iptek).

Karakteristik “kesujanaan” mengandung arti peserta didik diarahkan untuk menjadi cendikiawan, yaitu orang berilmu dan bijaksana. Proses pencarian dan pengembangan ilmu didasarkan atas kaidah-kaidah ilmiah yang sudah disepakati dengan menjunjung tinggi etika ilmiah.

Biaya kuliah gratis sepenuhnya. “Kalau mereka ingin melakukan penelitian di luar maupun di dalam negeri, biaya sepenuhnya akan ditanggung program ini,” ujar Direktur Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Ditjen Dikti, Supriadi Rustad.

PMDSU mengintegrasikan sistem penelitian dan sistem pengembangan karier ke dalam pendidikan doktor. Program ini juga didukung dana penelitian dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (Dit. Litabmas) Ditjen Dikti berupa hibah penelitian PMDSU selama 3 tahun.

Selain itu, program ini juga diintegrasikan dengan program pengiriman mahasiswa dan dosen ke luar negeri yaitu berupa Beasiswa PKPI (Peningkatan Kualitas Publikasi Internasional) bagi mahasiswa dan program SAME (Scheme for Academic Mobility and Exchange) bagi dosen pembimbing.

Pada program ini mahasiswa dengan kemampuan akademik tinggi, dididik Guru Besar atau profesor cemerlang dalam bidang penelitian dan pengembangan Iptek. Selain itu, promotor terpilih pun memiliki reputasi baik dalam menghasilkan serta meluluskan doktor dalam bidangnya.

Alumni PMDSU kelak diharapkan menjadi pemimpin masa depan yang menghasilkan berbagai temuan baru (novelty), dalam rangka memperkuat inovasi nasional dan daya saing bangsa. “Kekuatan pemimpin terletak pada manajerial,” ujar Walikota Surabaya, Tri Rismaharini memberikan motivasi dalam kepemimpinan kepada para peserta PMDSU.

Pada angkatan pertama tahun 2014, Dikti telah memberikan Beasiswa PMDSU kepada 57 orang calon doktor unggul pada 7 PT penyelenggara. PT tersebut adalah Institut Pertanian Bogor (18 orang), Institut Teknologi Bandung (18 orang), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (9 orang, Universitas Andalas (8 orang), Universitas Gadjah Mada (3 orang) dan Universitas Indonesia (1 orang).

Alumni PMDSU dituntut melakukan apa yang benar, baik dan patut serta menghindari hal-hal yang melanggar norma yang ada dan tidak pantas. Program ini dikembangkan tidak saja ingin mencetak doktor yang ahli, penemu yang hebat tetapi juga mencetak doktor yang cendekiawan, berilmu dan bijaksana. SDM seperti inilah yang dibutuhkan bangsa Indonesia saat ini dan masa depan.