SIARAN PERS

No. 17/SP/HM/BKKP/IX/2016

Jakarta, 2 September 2016

Kajian analisis risiko yang dilakukan oleh tim independen yang dibentuk oleh Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menunjukkan hasil bahwa penelitian pengendalian demam berdarah dengue (DBD) yang digawangi oleh Eliminate Dengue Project Yogyakarta (EDP-Yogya) dengan teknologi Wolbachia aman atau memiliki risiko yang dapat diabaikan (negligible risk).M enurut Ketua Tim Kajian Analisis Risiko, Damayanti Buchori, pengendalian DBD dengan Wolbachia ini aman dilihat dari empat aspek yaitu ekonomi dan sosio-kultural, pengendalian vektor, ekologi, dan kesehatan masyarakat.

EDP-Yogya yang dimotori oleh Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM) dan didanaioleh Yayasan Tahija Indonesia kini tengah mengembangkan penelitian pengendalian DBD dengan menggunakan Aedes aegypti ber-Wolbachia. Nyamuk tersebut mampu menghambat penularan virus dengue di dalam tubuh nyamuk sehingga tidak mampu menularkan virus dengue kepada manusia. Wolbachia sendiri adalah bakteri alami yang terdapat di 60% jenis serangga yang ada di bumi, termasuk kupu-kupu, lebah dan lalat buah. Wolbachia tidak terdapat dalam nyamuk Aedesaegyp tipe nyebab demam berdarah.

Dimotori oleh lima orang, tim pakar independen ini terdiri dari ahli berbagai bidang yang berasal dari akademisi dan praktisi dari universitas dan lembaga-lembaga riset di Indonesia. Selain tim inti yang terdiri dari lima orang, juga terdapat 20 anggota tim pengkaji risiko lainnya yang juga tergabung dalam kajian ini. Pelepasan nyamuk Aedesaegypti ber-Wolbachia yang sudah dilakukan di Yogyakarta pada skala kecil di sebagian wilayah Sleman dan Bantul pada 2014 lalu menyediakan bahan-bahan penting bagi pelaksanaan analisis risikoi ni.

Pada awal 2016 lalu, badan kesehatan dunia (WHO) telah merekomendasikan untuk memperluas penelitian terkait penggunaan Wolbachia untuk menangani penyakit yang disebabkan oleh nyamuk Aedes,diantaranya untuk penanganan DBD. Selain Indonesia, negara lain yang tergabung dalam EDP-Global yang telah melakukan kajian serupa adalan Vietnam dan Australia. Hasil kajian tersebut menjadi tonggak untuk melakukan kajian lebihlanjut di Indonesia, dalam latar lingkungan yang berbeda. Kemenristekdikti berharap bahwa hasil kajian analisis risiko ini bisa digunakan tim peneliti untuk terus mengembangkan penelitian, mengingat penyakit DBD masih menjadi ancaman serius di Indonesia.

 ##