Tanah yang subur memudahkan tanaman untuk tumbuh dan berkembang. Tidak hanya tanaman yang bermanfaat namun juga tumbuh gulma, bahkan biasanya pertumbuhan gulma ini lebih banyak dari tanaman lainnya. Salah satu gulma yang banyak tumbuh adalah krokot (portulaca oleracea) yang memiliki ciri batang berbentuk bulat, tumbuh tegak sebagian atau seluruhnya dan terletak di atas tanah tanpa mengeluarkan akar. Daun krokot memiliki warna hijau dengan batang kemerahan dan berdaun tunggal yang tebal. Tumbuhan krokot dapat dijumpai dengan mudah di sekitar lingkungan namun masyarakat masih menganggapnya sebagai tumbuhan liar yang masih kurang bermanfaat bahkan hanya dijadikan sebagai makanan cengkerik. Padahal salah satu komponen kimia di dalam tumbuhan krokot adalah omega 3. Kandungan omega 3 yang sangat penting untuk kesehatan manusia adalah a-liomlenic acid (ALA), eicosapentaenoic acid (EPA) dan docosahexaenoic acid (DHA). Omega 3 juga berfungsi sebagai daya tahan tubuh, meningkatkan kecerdasan dan sebagai antioksidan yang dapat mencegah pertumbuhan sel kanker.

Dari sinilah mahasiswa UNY tertarik untuk mengolah krokot menjadi makanan yang bergizi bagi kesehatan tubuh. Mereka adalah Irmawati dari prodi kebijakan pendidikan, Hindun Nur ‘Aisyah dan Annis Noviana Rahmat Yani Wahidah dari prodi PG PAUD FIP serta Astuti Lestari dari prodi kimia FMIPA UNY, membuat inovasi dengan membuat brownies dari tepung tumbuhan krokot yang banyak dibuang karena dianggap tidak berguna. Menurut Irmawati krokot dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit seperti radang akut usus buntu, disentri, diare akut, radang payudara, pasir berdarah, keputihan, gangguan sistem saluran kencing, sakit kuning, cacingan, dan sesak nafas. “Krokot bahkan telah diidentifikasi sebagai sumber yang sangat baik dari asam alfa-linolenat” kata Irmawati. Alfa-linolenat adalah asam lemak omega-3 yang dikenal sebagai minyak ikan. Kandungan ini dapat memainkan peran penting untuk kesehatan manusia dan mencegah penyakit. Astuti Lestari menambahkan bahwa dengan brownies krokot ini selain masyarakat dapat menikmati brownies lezat berbahan dasar sederhana juga dapat meningkatkan nilai jual tepung krokot.

Hindun Nur ‘Aisyah menjelaskan cara pembuatan brownies ini. Bahan yang diperlukan adalah tumbuhan krokot, tepung terigu, mentega, gula pasir, garam, telur, dark cooking chocolate, keju, susu kental manis dan pengembang kue. “Pertama kali krokot dijemur hingga kering lalu ditumbuk hingga halus seperti tepung” kata Hindun. Kemudian masuk pada tahap pembuatan brownies. Telur, gula pasir, pengembang kue dan garam dicampur menggunakan mixer hingga mengembang lalu tambahkan tepung krokot, tepung terigu dan coklat bubuk yang sebelumnya telah diayak dan hanya diambil bagian yang halus saja. Tunggu beberapa saat lalu tambahkan campuran mentega dan dark cooking chocolate yang telah dilelehkan. Adonan dicampur lagi hingga rata kemudian dibagi menjadi 3 bagian. Adonan pertama dimasukkan ke dalam loyang dan dikukus selama 10 menit dalam api sedang. Panci kukus harus dipastikan benar-benar panas saat adonan dimasukkan. Tutup panci kukus dibungkus dengan serbet bersih supaya air kukusan tidak turun dan membasahi kue yang sedang dikukus. Adonan kedua dicampur dengan susu kental manis lalu diaduk rata. Adonan ini ditambahkan di atas adonan pertama dan dikukus selama 10 menit. Setelah itu, adonan ketiga ditambahkan ke atas kedua adonan sebelumnya dan dikukus selama 20 menit. Brownies krokot siap diangkat dan disajikan.

Kreativitas para mahasiswa UNY ini berhasil meraih dana Dikti dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang kewirausahaan tahun 2017. (Dedy)

https://www.uny.ac.id/berita/brownies-krokot-sebagai-sumber-omega-3