Demi mendapat barang dagangan yang tetap segar, para pedagang biasanya menggunakan pengawet makanan berbahan dasar kimia. Untuk itu, Tim Pengabdian Masyarakat Biologi ITS akhirnya mengadakan pelatihan pemanfaatan bahan pengawet alami, Rabu (7/9). Dalam hal ini, mereka memanfaatkan mangrove untuk mengawetkan udang agar tetap segar.

Salah satu indikasi yang menunjukkan bahwa udang tidak lagi segar adalah munculnyablack spot atau bercak hitam. Hal itu terjadi ketika petani terlambat melakukan pembekuan pada udang. “Selain itu, bercak hitam ini juga disebabkan oleh hormon di kepala udang. Untuk mencegahnya, kami menggunakan ekstrak batang nyirih,” tutur Dr rer nat Edwin Setiawan SSi MSc.

Edwin mengatakan, batang mangrove jenis nyirih mengandung hormon xylocarpus. “Xylocarpus merupakan hormon khas yang dapat mencegah timbulnya bercak hitam pada udang,” jelas dosen Jurusan Biologi ITS tersebut.

Menurutnya, sangat mudah untuk mendapatkan ekstrak batang nyirih karena tumbuhannya mudah ditemukan, khususnya di Kelurahan Wonorejo. “Ekstrak nyirih dibuat dengan merebus batang mangrove nyirih dengan air hangat di stainless atau kendil. Sebelum direbus, batang nyirih dikeringkan terlebih dahulu, kemudian digiling ataupun dicincang kecil-kecil,” jelas alumni Universitas Airlangga tersebut.

Hasil ekstrak nyirih yang telah disaring dapat langsung digunakan pada udang dengan cara membalurkannya. Untuk lima gram udang, dibutuhkan 30 mililiter ekstrak nyirih. Udang yang dibaluri oleh ekstrak nyirih selanjutnya akan berwarna merah bata. Warna merah pada udang disebabkan oleh batang nyirih yang juga memiliki pewarna alami.

“Warna ini tidak akan memberikan efek samping apapun pada udang, karena ketika dibersihkan, warna merah akan luntur dan bersih dari udang. Ekstrak ini mampu menunda bercak hitam selama enam jam,” jelas pria asal Solo tersebut.

Edwin mengatakan, ekstrak nyirih ini merupakan salah satu alternatif alami penundaan bercak hitam yang pertama kali dilakukan. Meski begitu, ia mengakui ekstrak nyirih ini masih belum bisa digunakan untuk skala besar. “Saat ini ekstrak nyirih dapat digunakan pada satu sampai lima kilogram udang,” jelasnya.

Pria yang meraih gelar master di Universitas Gadjah Mada ini selanjutnya berencana untuk mengembangkan penelitian ini. Ia bersama timnya akan mencari senyawa lain yang dapat ditambahkan pada ekstrak nyirih agar dapat digunakan dalam skala yang lebih besar. (jel/pus)

Sumber: https://www.its.ac.id/berita/100624/en