“Guru Garis depan lahir dari SM-3T, menjadi guru garis depan tidak lepas dari rangkaian SM-3T,” begitu pengakuan Arfrah Jufri, calon peserta Guru Garis Depan yang merupakan alumni SM-3T. Ia menyampaikannya di hadapanĀ  Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir dan segenap undangan lain yang hadir dalam pameran pendidikan dan peresmian program Guru Garis Depan, di Hotel Golden Boutiqe, Jakarta, Minggu (24/5).

Guru Garis Depan adalah program sinergis antara Kemristekdikti, Kemdikbud, dan KemenPANRB yang mengapresiasi para sarjana yang akan berkarier sebagai PNS guru di garis depan Nusantara. Cikal bakal program ini bermula dari tahun 2011 saat Direktorat Pendidik dan Tenaga Kependidkan Direkorat Jenderal Pendidikan Tinggi menciptakan mekanisme pengawalan guru profesional melalui Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM-3T).

“Kami (Kemristekdikti-Red) menggembleng calon guru profesioanl lewat LPTK dan program profesi guru. Naungan tempat mereka berkarier ditangani oleh Kemdikbud,” kata Menteri Nasir, ketika ditanyakan kontribusi ke depan yang akan terus dilakukan untuk membina calon guru.

Supriadi Rustad, Direktur Diktendik menambahkan, tanggung jawab mengawal guru berada pada lapisan Pendidikan Tinggi, terutama dari kampus berlabel Lembaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan atau LPTK. Ke depan, Kemristekdikti akan tetap terus mempersiapkan calon-calon guru untuk kebutuhan hari mendatang, melalui reformasi LPTK. Ikhtiar ini dimulai dari proses penerimaan calon mahasiswa ilmu keguruan, revitalisasi kurikulum, dan program pendidikan guru berasrama. (nrs)