Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (SKPM) Fakultas Ekologi Manusia (Fema) Institut Pertanian Bogor (IPB) bekerjasama dengan University of Passau, Jerman menggelar exploratory meeting, bertempat di ruang diskusi AMG Connect Fema IPB, Senin (17/4). Kegiatan yang dibuka oleh Dekan Fema, Dr. Arif Satria ini bertujuan untuk mendiskusikan rencana penelitian di bidang pertanian organik yang dikaji dari aspek sosial-ekologi, serta tindak lanjut pengembangan kerjasama kedua belah pihak di bidang pengembangan pendidikan.

Tim peneliti IndOrganic Project dari University of Passau yaitu Prof. Dr. Martina Padmanabhan (Chair of Comparative Development And Cultural Studies); Natalie Luck (Mahasiswa program Doktor di Chair of Development Economics); dan Dimas Laksmana (Mahasiswa program Doktor di Chair of Comparative Development And Cultural Studies).

Dr. Arif Satria menyampaikan bahwa kolaborasi penelitian yang akan dilaksanakan sangat baik bagi pengembangan riset dan keilmuan di Fema serta diharapkan akan memberikan manfaat bagi pengembangan pertanian organik di Indonesia.

Dalam kesempatan ini, Direktur Kerjasama dan Program Internasional IPB, Dr. Edy Hartulistiyoso menyampaikan presentasi tentang IPB. Dikatakannya, IPB telah mengembangkan sejumlah riset dan inovasi. IPB juga telah mengembangkan kerjasama dengan berbagai lembaga internasional dalam skema kegiatan yang beragam, seperti pertukaran mahasiswa, dosen, staf pendidikan, dan informasi akademik lainnya; summer course; penelitian; publikasi; dan lain-lain.

Sementara itu, Prof. Martina menyampaikan presentasi tentang rencana penelitian IndOrganic Project, yang secara garis besar memiliki tujuan untuk memahami keberlanjutan pertanian organik dan peningkatan adopsinya. Penelitian ini akan dilaksanakan di beberapa wilayah di Indonesia. Dalam presentasinya, topik pertanian organik menarik diangkat sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs). Pertanian organik dianggap mampu menjadi alternatif dalam menyediakan pangan yang berkelanjutan. Namun demikian, adopsi pertanian organik di Indonesia dihadapkan pada sejumlah hal yang kompleks mulai dari aspek sosial, ekonomi, gender, kultur, dan ekologi. Dengan demikian, IndOrganic Project menyusun penelitian interdisipliner yang mengikutsertakan beberapa ilmuan dari bidang ilmu yang beragam.

Hasil penelitian ini akan didiseminasikan secara luas melalui Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi RI. Pada kegiatan exploratory meeting ini, hadir pula dua narasumber untuk memperkaya informasi tentang pengembangan pertanian organik di Indonesia, yaitu Guru Besar Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan Fakultas Pertanian IPB, Prof. Dr Dwi Andreas Santosa; dan Hana Indriana M. Si, dosen Departemen SKPM/Mahasiswa Program Doktor di Progam Studi Sosiologi Universitas Indonesia yang juga tengah mengkaji pertanian organik.

Prof. Andreas memaparkan potensi dan tantangan pengembangan pertanian organik. Menurutnya, berbagai isu terkait pengembangan pertanian organik di Indonesia diantaranya rendahnya produktivitas, hambatan teknis, keamanan dan kedaulatan pangan, hingga kesenjangan sosial.

Sementara, Hana Indriana, M.Si menyampaikan kajian pertanian organik dari aspek kelembagaan. Berdasarkan hasil studinya di beberapa wilayah, ditemukan kisah sukses ekspor hasil pertanian organik oleh petani lokal yang didukung dengan sistem kelembagaan yang baik. Namun demikian, ada pula wilayah yang gagal dalam mengembangkan pertanian organik karena dihadapkan pada masalah kelembagaan.***