Indonesia akan mengalami Gerhana Matahari Total (GMT) dan Gerhana Matahari Sebagian (GMS) pada 9 Maret 2016. GMT terjadi ketika piringan matahari tertutup seluruhnya oleh piringan bulan yang melintas di antara matahari dan bumi.

Secara statistik, Gerhana Matahari Total terjadi di suatu lokasi setiap 375 tahun. GMT terakhir yang teramati di Indonesia adalah GMT 18 Maret 1988 (Sumatera, Kalimantan) sedangkan GMT berikutnya adalah GMT 20 April 2023 (Timor, Papua). Pada saat gerhana, ukuran sudut Bulan 4 persen lebih besar dibandingkan ukuran sudut matahari. Kondisi ini memungkinkan pengamat yang berada di jalur totalitas menyaksikan korona matahari ketika piringan matahari tertutup seluruhnya. Di luar jalur totalitas, Gerhana Matahari Sebagian dapat diamati. Menurut Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan, Widodo, bahwa fenomena ini amat ditunggu oleh warga Sumatera Selatan. “Hal yang menggembirakan dari kita, terutama warga Sumatera Selatan adalah kebetulan diberikan kesempatan untuk menikmati GMT, bahkan warga asing dan peneliti asing rela memilih ke Indonesia untuk wisata karena ada fenomena ini”, ucapnya.

Pengamatan gerhana matahari dapat dilakukan secara aman. Namun, cahaya matahari sangat menyilaukan sehingga tidak diperbolehkan melihat langsung ke arah matahari tanpa perlindungan. Meski tertutup sebagian oleh bulan, cahaya matahari masih berbahaya bagi mata.

Pengamatan langsung dapat dilakukan menggunakan filter, kacamata las atau kacamata matahari yang hanya meneruskan sebagian kecil cahaya matahari. Kacamata hitam atau kacamata polaroid tidak aman untuk pengamatan gerhana. Pengamatan tidak langsung dapat dilakukan dengan proyektor lubang jarum yang hanya meneruskan seberkas cahaya matahari pada layar di belakangnya. Prinsip pantulan sebagian (partial reflection) oleh permukaan air juga dapat digunakan untuk melihat gerhana. Widodo menyarankan masyarakat ada baiknya harus berhati-hati jangan sampai memakai kacamata yang salah. “Hati-hati dalam penggunaan kacamata untuk melihat GMT, karena di beberapa daerah ternyata sudah ditemukan juga kacamata yang palsu. Ada baiknya belilah kacamata yang dijual secara resmi dan sudah jelas siapa yang menjual atau membuatnya. Bila tidak, resiko mata rusak akan terjadi”, ujarnya.

Bagi peneliti, GMT merupakan peluang untuk memahami alam semesta. Beberapa penemuan besar yang melibatkan gerhana di antaranya dilakukan oleh Edmund Halley (1685) dan Artur Eddington (1919). Edmund Halley menemukan adanya perlambatan rotasi bumi. Perlambatan rotasi bumi mengakibatkan satu hari menjadi lebih lama dan bulan menjadi semakin jauh dari bumi. Sementara itu, Arthur Eddington berhasil membuktikan teori relativitas Einstein dengan pengamatan pembelokan cahaya bintang saat GMT 29 Mei 1919. LAPAN sebagai penggagas acara GMT memberikan kesempatan sebesarnya kepada para peneliti. Pada GMT 9 Maret 2016 ini, LAPAN mengirimkan ekspedisi penelitian di pelosok negeri. Di Palembang, peneliti atmosfer mengamati respon atmosfer Bumi saat gerhana. Diteliti juga mengenai dampak GMT terhadap perubahan intensitas radiasi matahari dan parameter fisik seperti temperatur. Selain itu, juga dilakukan penelitian dampak GMT terhadap laju fotosintesis yang diamati dengan perubahan pola-pola diurnal karbondioksida.

“Kami harapkan banyak hasil penelitian yang akan didapat dari adanya GMT ini sekaligus menimbulkan kecintaan masyarakat terhadap penelitian dan menambah wawasan masyarakat bahwa sebenarnya fenomena GMT ini bukanlah hal yang menakutkan, dalam arti tidak menimbulkan radiasi dan bukanlah sebuah musibah bagi Indonesia”, tegas Jasyanto, Kabag Humas LAPAN dalam pemaparannya.

Guna menyambut GMT, Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, LAPAN, serta Komunitas Lubang Jarum Indonesia (KLJI) akan melaksanakan edukasi keantariksaan di Palembang pada 8 hingga 9 Maret 2016. Rangkaian kegiatan tersebut yaitu seminar GMT dan stronomi, workshop pembuatan kacamata gerhana, teropong, dan kamera lubang jarum, serta permainan edukasi.

Usai GMT, masyarakat dapat menggunakan kamera lubang jarum raksasa di Jembatan Ampera, serta permainan edukasi. Kegiatan ini sejalan dengan aktivitas Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan di Kota Palembang yang diisi dengan berbagai acara dalam menyambut GMT.(dzi/bkkp)