Gempa bumi berskala 6,5 skala richter mengguncang wilayah Pidie Jaya, Aceh pada Rabu, 6 Desember 2016 pukul 05.03 WIB. Gempa berpusat di darat pada koordinat 5,19 ° LU dan 96,38 BT dengan kedalaman 10 kilometer. 
 
Pakar gempa dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Gayatri Indah Marliyani, S.T., M.Sc., mengatakan gempa bumi yang terjadi di Pidie merupakan dampak dari aktivitas sesar aktif di wilayah tersebut. Pergerakan sesar aktif yang terjadi bersifat mendatar dan dekstral (menganan). 
 
“Gempa Pidie Jaya ini disebabkan oleh pergerakan sesar aktif di kawasan tersebut,” tuturnya, Rabu (8/12) di Departemen Teknik Geologi UGM. 
 
Gayatri menjelaskan bahwa sesar aktif yang bergerak di Pidie Jaya ini merupakan cabang dari sesar Sumatera di bagian utara. Sesar ini berorientasi barat laut-tenggara. Gempa ini terjadi karena pengaruh dari pergerakan sesar yang sudah ada tapi belum terpetakan sebelumnya. 
 
“Adanya tekanan dari zona subduksi atau penunjaman di selatan Sumatera memberikan gaya tekan yang kuat ke daerah permukaan dan akibatnya membentuk sesar-sesar yang aktif, gempa terjadi akibat pergerakan dari sesar-sesar ini,” urai geolog UGM ini.
 
Goncangan gempa terasa kuat di daerah ini, kata dia, karena di wilayah dekat pusat gempa tersusun oleh batuan yang tidak kompak. Gelombang gempa merambat lebih cepat pada batuan kompak dan melambat ketika melewati batuan yang lepas-lepas. Ketika melewati daerah dengan batuan yang lepas-lepas, amplitudo gelombang gempa akan membesar untuk bisa merambatkan energi yang sama, sehingga getaran yang dirasakan pada daerah ini lebih kuat. Getaran yang kuat dari gempa bumi ini juga bisa menimbulkan longsoran. 
 
Anggota tim revisi peta gempa nasional ini menjelaskan dikarenakan pergerakan sesar yang bersifat mendatar dan terjadi di kedalaman yang dangkal, maka gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Akan tetapi, gempa yang terjadi ini bersifat merusak, terutama disebabkan oleh kedalamannya yang dangkal dan terjadi di kawasan pemukiman padat penduduk. 
 
“Banyaknya kerusakan disebabkan karena jarak antara pusat gempa dengan permukaan sangat dekat dan energi yang dilepaskan besar, sehingga ketika mencapai permukaan gelombang dengan energi yang besar ini bersifat merusak,” paparnya. 
 
Meskipun tidak berpotensi tsunami, Gayatri meminta masyarakat untuk tetap waspada dan mengantisipasi kejadian gempa susulan, walapun gempa susulan yang terjadi memiliki kekuatan yang lebih kecil dan akan terus menurun. Yang harus dilakukan terutama adalah memeriksa kondisi bangunan karena jika bangunan sudah rusak atau retak parah, getaran gempa yang kecil pun mampu merubuhkan bangunan.
 
Mengingat Indonesia merupakan wilayah rawan gempa bumi, Gayatri menekankan pentingnya upaya mitigasi bencana gempa. Salah satu langkah yang perlu segera dilakukan adalah memetakan jalur sesar atau patahan aktif di seluruh kawasan Indonesia, terutama di kawasan padat penduduk atau perkotaan. 
 
“Indikasi bahwa sesar ini aktif adalah adanya kegempaan di daerah sesar tersebut. Ketika sesar bergerak dan menimbulkan gempa, sesar ini akan cenderung bergerak lagi di masa yang akan datang,” urainya.
 
Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian geologi secara mendalam tentang sejarah kegempaan di sepanjang sesar tersebut. Penelitian untuk menyingkap sejarah gempa di masa lalu, jauh melampaui batas rekaman sejarah. Selain itu, setelah terjadi gempa sebaiknya langsung melakukan pemetaan.
 
“Pemetaan setelah gempa penting dilakukan untuk mengetahui potensi gempa di masa mendatang,” pungkasnya. (Humas UGM/Ika)