SIARAN PERS

Jakarta, 2 Desember 2016

Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi telah menginisasi program peningkatan kualitas kelembagaan Iptek dan Dikti melalui Program Pengembangan Pusat Unggulan Iptek (PUI) untuk penguatan kapasitas dan kapabilitas lembaga litbang yang diarahkan dalam menjawab tantangan ke depan yaitu (1) meningkatkan dukungan nyata iptek terhadap peningkatan daya saing sektor-sektor produksi barang dan jasa; (2) meningkatkan dukungan iptek untuk keberlanjutan dan pemanfaatan sumberdaya alam baik hayati maupun nir-hayati; dan (3) meningkatkan dukungan iptek untuk penyiapan masyarakat Indonesia menyongsong kehidupan global yang maju dan modern.

Program peningkatan kualitas kelembagaan Iptek dan Dikti ini terus dikembangkan agar lembaga litbang mampu menghasilkan produk iptek yang berbasis demand/market driven dalam rangka mendukung peningkatan daya saing sesuai potensi ekonomi daerah.

Guna memperkuat posisi Indonesia sebagai negara maritim dan mendorong pemanfaatan potensi perikanan yang melimpah, PUI yang dikembangkan dalam fokus unggulan maritim dan perikanan telah menghasilkan beberapa produk inovatif. Begitu banyak hasil penelitian yang sebenarnya dapat digunakan oleh masyarakat guna meningkatkan kekuatan sektor maritim Indonesia.

“Kita harus memberikan kontribusi nyata pada perekonomian. Dengan kapasitas litbang kita dorong untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Sistemnya bisa disesuaikan, alatnya bisa dikembangkan, fitur apa yang dibutuhkan,” jelas Yudho Baskoro, Kasubdit Lemlitbang Pemerintah Pusat Kemenristekdikti pada acara Coffee Morning Public Expose PUI, Jumat, 2 Desember 2016.

PUI yang tergabung dalam Klaster PUI Maritim dan Perikanan antara lain terdiri dari PUI Pemuliaan Ikan – KKP, PUI Bahan Aktif Laut – KKP, PUI Hidrodinamika Bangunan Apung – BPPT, PUI Broadband Wireless Access – ITB, dan PUI Permodelan Data Atmosfer Indonesia – LAPAN.

PUI Pemuliaan Ikan pada Balai Penelitian Pemuliaan Ikan – Kementerian Kelautan dan Perikanan telah mengembangkan kapasitas riset pemuliaan ikan dalam mendukung sumber daya perikanan air tawar. Ikan Nila Srikandi merupakan strain ikan nila unggul yang dipersiapkan untuk perairan bersalinitas tinggi yang merupakan hasil persilangan antara ikan nila hitam nirwana betina dan ikan nila biru jantan dan secara resmi dilepaskan ke masyarakat. Strain Udang Galah GI Macro II merupakan strain unggul udang galah yang dibentuk dari empat strain udang galah yang secara geografis berasal dari tempat yang berbeda, yakni Barito (Sungai Barito, Kalimantan Selatan), Musi (Sungai Ogan, Sumatera Selatan), Asahan (Sungai Asahan, Sumatera Utara) dan Ciasem (Sungai Ciasem, Jawa Barat) serta strain udang galah GI Macro.

Ikan Lele Mutiara merupakan strain unggul ikan lele yang dibentuk dari gabungan persilangan strain ikan lele Mesir, Paiton, Sangkuriang dan Dumbo yang diseleksi selama 3 generasi pada karakter pertumbuhan. Ikan Mas Mustika merupakan strain unggul baru ikan mas Rajadanu yang telah ditingkatkan ketahanannya terhadap penyakit KHV (Koi Herpes Virus) melalui program seleksi berdasarkan marka molekuler MHC II spesifik pada alel Cyca-DAB1*05. Jenis yang telah dihasilkan ini telah dilepas ke masyarakat.

PUI Bahan Aktif Laut pada Puslitbang Daya Saing Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan – Kementerian Kelautan dan Perikanan telah menghasilkan karya inovatifnya dalam pemenuhan bahan baku, bahan bantu dan produk berbasis sumber daya hayati laut dalam mendukung industri pangan dan kesehatan. Produk inovatif tersebut antara lain (1) Fukoidan, bahan aktif laut yang berasal dari rumput laut coklat yang ketersediaannya sangat melimpah. Dengan teknologi ekstraksi/produksi yang dikuasai fukoidan digunakan sebagai ingredient untuk produk supplemen,kosmetik dan farmasi, (2) Produk Home dan Personal Care Berbasis Rumput Laut, yang bisa memperbaiki sel-sel kulit sehingga tidak keriput
(3) Produk minyak ikan dengan konsentrasi tinggi PUFA yang siap sebagai ingredient pangan fungsional dan minyak ikan layak konsumsi atau minyak ikan untuk pangan, dan (4) Enzim protease mikroba laut dari sumber air laut panas telah diproduksi untuk membuat hidrolisat protein ikan (HPI) secara biologi. Enzim ini dapat memecah protein sehingga nilai gizinya tetap ada tapi mudah untuk dicerna.

PUI Hidrodinamika Bangunan Apung – BPPT dalam rangka mendukung Program Pemerintah di bidang Maritim khususnya Tol Laut, telah mengembangkan Rancang Bangun Kapal Kontainer 100 TEUs. Kapal tersebut dirancang untuk mampu membawa 100 kontainer berukuran 20 feet. Kapal ini mempunyai ukuran panjang keseluruhan 79,45 m, lebar 17,40 m, draft 3 m dan kedalaman 4,5 m. Proses desain dan uji coba model telah dilakukan pada kegitan riset tahun 2013 dan detail desain serta key plan diselesaikan pada tahun 2016. Dan saat ini desain gambar key plan dalam proses sertifikasi oleh Biro Klasifikasi Indonesia (BKI).

“Dengan dibangunnya tol laut permintaan kapal untuk Kemenhub terutama kapal ikan kami mendapatkan order yang sangat besar tahun ini. Dari segi penerimaan naik sekitar tiga kali lipat,” ujar Taufiq Aris, Kepala Balai Teknologi Hidrodinamika BPPT.

PUI Hidrodinamika Bangunan Apung – BPPT juga melakukan layanan jasa teknologi berupa pengujian ship powering, manouevering dan seakeeping. Beberapa jenis kapal yang diuji adalah : Kapal Perinstis, Kapal Ferry, Tug Boat, Kapal Sungai, Kapal Kontainer, Kapal Riset Geomarine, Kapal Kenavigasian, Kapal Perambuan, Kapal Ikan, Kapal Penyeberangan. Dalam rangka mendukung program pemerintah di bidang hankam, PUI ini juga berperan dalam pengujian-pengujian berbagai model kapal perang dan kapal selam.

“Proses transfer teknologi dari negara lain mengenai hal ini sangat sulit dan ketat. Kalau transfer produk sendiri gampang. Karena itu kami bekerjasama dengan Kementerian Pertahanan melalui suatu konsorsium, disitulah kami bisa masuk pada bidang desain dan pengujian. Kami juga berkonsolidasi dengan industri lainnya untuk bisa menguji kapal selam,” imbuh Taufik.

PUI Broadband Wireless Access pada Pusat Mikroelektronika Institut Teknologi Bandung, telah mengembangkan produk inovatif dalam mendukung pemanfaatan sumber daya maritim yaitu melalui produk OWN GRID yakni suatu Perangkat telekomunikasi untuk Nelayan.

Produk OWN GRID merupakan perangkat telekomunikasi untuk mendukung nelayan ketika sedang melakukan aktifitas melaut. Perangkat ini merupakan integrasi antara modul radio (Long Range atau LoRa) dengan smartphone berbasiskan Android Operating Sistem. Perangkat “e-Nelayan” ini mendukung banyak fitur yang memberikan informasi kepada nelayan seperti: Prakiraan cuaca, Prakiraan posisi ikan, Harga jual/beli ikan, Navigasi, Perekam rute jelajah nelayan, Fitur percakapan, Sinyal SOS, dan fitur lainnya.

“Kalau sekarang mereka (nelayan) melakukan sistem ‘mengepul’ ke tengkulak sehingga mengakibatkan kesejahteraan nelayan kurang. Kalau mereka tahu harga jual sebelumnya dari aplikasi ini mungkin itu bisa meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri,” tutur Febri Dawani, peneliti Pusat Mikroelektronika ITB. Meskipun diakui Febri saat ini respon para nelayan terhadap aplikasi ini sendiri masih kurang, sehingga dirinya menilai diperlukan pelatihan lagi agar nelayan terbiasa dengan penggunaan smart phone.

Kemudian PUI Permodelan Data Atmosfer Indonesia pada Pusat Sains dan Teknologi Atmosfir – LAPAN mengembangkan Sistem Embaran Maritim (Semar) sebagai sebuah sistem Pendukung Keputusan (SPK) atau Decision Support System (DSS berbasis komputer. DSS Maritim ini telah digunakan pada Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD) Pelabuhan Perikanan Pantai (P3) Dinas Kelautan dan Perikanan DIY dalam proses pengambilkan keputusan. DSS Maritim memberikan informasi pengamatan berbasis satelit, radar, sensor di daratan dan lautan secara near real time serta prediksi kondisi atmosfer dan lautan di wilayah perairan selatan Yogyakarta berbasis model atmosfer/laut sebagai dasar pengambilan keputusan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan untuk mendukung keselamatan pelayaran dan peningkatan produksi perikanan tangkap.

##