Beranda » Berita Pendidikan » Baterai Kering Isi Ulang Karya Unair

Baterai Kering Isi Ulang Karya Unair

JAKARTA - Baterai AA kerap digunakan pada berbagai peralatan elektronik. Sayangnya, baterai ini menggunakan bahan baku yang tidak ramah lingkungan dan tidak mudah untuk didaur ulang. Untuk itu mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) Surabaya menghasilkan inovasi baru untuk baterai kering ini.

Adalah tiga mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unair, yaitu M Ridwan Arifin (2008), Atina Husnayatin (2011), dan Muthmainnah Windawati (2001). Ketiganya mengaku menciptakan baterai ramah lingkungan dari biji tanaman Nyamplung (Calophyllum inophyllum L.) dilatarbelakangi banyaknya pemakaian baterai AA sekali pakai di pasaran yang tidak ramah lingkungan.

“Baterai sekali pakai berbahaya bagi lingkungan, setelah habis lalu dibuang. Padahal di dalamnya terdapat senyawa berbahaya yang tidak gampang terurai misalnya katnium, timbal dan sebagainya,” ungkap Ridwan, seperti dikutip dari situs Unair, Selasa (24/7/2012).

Dia mengungkapkan, bahaya baterai kering bila asal dibuang dan terkena air atau panas dapat meledak. Konsumsi baterai kering sekali pakai tiap tahun bisa mencapai 500 juta buah, oleh karena itu Ridwan dan teman-temannya memperoleh ide untuk menciptakan baterai yang bisa diisi ulang untuk menekan limbah baterai. “Kita pun mencari bahan yang bisa mengganti serbuk karbon pada baterai sekali pakai. Akhirnya kita dapat biji nyamplung,” katanya.

Dari hasil penelitian sebelumnya, Ridwan menuturkan, nyamplung sudah dipakai sebagai bahan baku untuk bensin. “Kita lalu mengkaji ulang senyawa asam apa yang cocok. Ternyata, kandungan asam kalofilat dan asam takawahol pada biji nyamplung berpotensi untuk menjadi pengganti pasta karbon baterai,” papar Ridwan.

Setelah melakukan pengujian, didapatkan kuat arus baterai nyamplung hampir mendekati baterai komersial. “Baterai nyamplung voltasenya 1,45 volt. Hanya terpaut 0,05 volt. dari baterai ABC,” ungkapnya.

Selain itu, kuat arus baterai nyamplung juga terpaut sedikit dengan baterai biasa, yaitu 0,055 A dengan 0,06 A. Ridwan menuturkan, pembuatan baterai nyamplung berasal dari biji yang ditumbuk halus setelah melalui proses pengeringan. “Jika dijemur di bawah sinar matahari langsung hanya memakan waktu tiga hari, tapi bila memakai oven akan lebih cepat,” tuturnya.

Menurut Ridwan, baterai bernama Brain itu banyak memiliki keunggulan. “Pertama, harganya jauh lebih murah, yakni Rp30 per buah. Selain itu, baterai tersebut juga bisa diisi ulang, sehingga kalau habis tidak langsung dibuang,” katanya menambahkan.

Inovasi ini, lanjutnya, akan menjadi solusi bagi daerah terpencil yang sulit untuk mengakases listrik bila jadi diproduksi masal. “Untuk isi ulang, kita hanya butuh serbuk baru lalu dimasukkan ke baterai dan ditutup kembali,” tukas Ridwan.

Ternyata, produk inovatif Ridwan dan kawan-kawan telah dilirik oleh industri. “Kita baru saja memulai penjajakan kerja sama dengan PT Infoma, salah satu perusahaan hardware telekomunikasi di bidang renewable energy. Semoga langkah berikutnya bisa diproduksi massal,” imbuhnya.

Ke depan, tiga mahasiswa ini akan terus menyempurnakan inovasi mereka. “Tahap berikutnya adalah untuk membuat baterai ini tahan lama. Di penelitian awal ketahanan baterai yang kami ujikan pada jam beker hanya bertahan selama 17 hari saja,” tandasnya.

Ridwan mengaku akan mencari tambahan bahan untuk dicampurkan pada serbuk biji nyamplung agar lebih tahan lama. “Selama ini kami masih murni menggunakan nyamplung tanpa tambahan bahan apapun,” paparnya.

Penelitian ini mereka tuangkan dalam Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian (PKMP), namun belum berhasil lolos seleksi untuk mengikuti Pekan Ilmiah Nasional (Pimnas) XXV. Meski demikian, Brain pernah meraih juara III Pekan Ilmiah Mahasiswa (PIM) internal Unair, Finalis LKTI Universitas Al-Azhar, dan finalis di ajang MIPA Untuk Negeri (MUN).(mrg)

Sumber: Okezone