Beranda » Info Kontributor » Belajar Sejarah Untuk Tranformasi Bangsa “Lidi” Menjadi Bangsa “Sapu Lidi”

Belajar Sejarah Untuk Tranformasi Bangsa “Lidi” Menjadi Bangsa “Sapu Lidi”

Kelompok-Kelompok  dalam masyarakat

Kasus apapun yang didera oleh suatu individu atau organisasi pasti menimbulkan tanggapan dari pihak-pihak yang peduli dengan hal tersebut. Reaksi ada jika ada aksi. Begitulah hukum alam yang berlaku pada semua hal. Ada kejadian maka akan selalu ada tanggapan. Tangapan-tanggapan ini nantinya akan disikapi dengan sikap berbagai macam. Ada yang menganggapi dengan positif, tengah-tengah, dan negatif. Tanggapan-tanggapan hal tersebut adalah hal wajar mengingat semua orang memilki haknya dalam memberikan penilaian.

            Berbagai kasus yang menjadi isu hangat di tanah air telah menimbulkan kelompok-kelompok yang terbentuk berdasarkan pandangan mereka masing-masing.  Kelompok dengan pandangan positif  tidak akan pernah “seiya dan sekata” dengan kelompok dengan pandangan negatif. Antara keduanya terdapatkelompok tengah-tengah yang tidak memberikan pandangan sama sekali terhadap kasus-kasus yang ada. Mereka dikenal dengan kelompok apatis. Kelompok ini tidak memilki kepedulian sama sekali terhadap apa yang terjadi pada lingkungan sekitar. Urusan orang lain adalah urusan yang harus diurus sendiri oleh oarng tersebut dan urusan sendiri adalah urusan yang akan dikerjakan sendiri oleh kelompok ini. Selama tidak menimbulkan kerugian, kelompok ini tidak akan peduli dengan kasus ataupun permasalahan yang terjadi di lingkungan masyarakat.

            Jika diperhatikan dengan seksama sebenarnya semua orang adalah apatis, jika memakai asumsi sikap peduli berlaku untuk keseluruhannya, baik yang merugikan atau yang tidak merugikan. Suatu yang memilki permasalahan akan mendapatkan simpati dari kelompok yang merasa dirugikan dengan permasalahan yang sedang didera oleh kelompok tersebut. Hanya beberapa kelompok saja yang peduli dengan permasalahan-permasalahan yang sedang di alami kelompok lain.  Hal inilah yang terjadi di masyarakat Indonesia. Keegoisan dan opurtunis, tidak salah jika itu dialamatkan kepada setiap kelompok-kelompok yang ada. Nilai-nilai kebersamaan yang merupakan nilai luhur bangsa harus  terkikis semakin harinya karena ketidakdewasaan dalam menyikapi permasalahan-permasalahan yang sedang didera bangsa.

Belajar Dari Sejarah

Pelajaran berharga bisa kita ambil dari perjuangan-perjuangan para pejuang bangsa. Iman Bonjol di Perang Paderi, Diponegoro di Diponegoro dan banyak perjuangan-perjuangan pasca kemerdekaan yang memperjuangkan bangsa dengan tujuan yang sama, yaitu kemerdekaan, kemandirian, dan berdikari seperti yang dinyatakan oleh Soekarno. Semuanya berjuang demi tujuan yang sama dan pada akhirnya berhasil bersatu membentuk kekuatan yang solid.

Asas “sapu lidi” selalu berlaku untuk semua hal, dari hal yang besar sampai hal yang kecil. Bangsa ini dulu adalah bangsa kecil diakibatkan menjadi budak penjajah. Setelah memilki tujuan yang sama barulah bangsa ini menjadi besar. Barulah pada saat itu bangsa ini menjadi sapu lidi. Dahulu adalah lidi sekarang telah jadi sapu. Semuanya bisa dibersihkan dengan sapu dan tidak demikian dengan lidi. Bersyukur Yang Maha Kuasa  memberikan bangsa ini kesamaan tujuan sehingga lahirlah bangsa baru yang bisa menyapu penjajah dan segala kepentingannya.

Semuanya itu tidaklah proses yang mudah karena ada banyak pengorbanan. Tidak sedikit harta benda yang habis terpakai untuk memperjuangkan itu. Tidak sedikit seorang istri menjadi janda dan seorang anak menjadi yatim karena pengorbanan-pengorbanan yang diberikan. Tidak ada unsur keterpaksaan, karena rasa sakit dijajah jauh terasa lebih sakit daripada kehilangan hal-hal yang berharga. Tidak ada yang menjadi masalah jika ada yang harus dikorbankan demi untuk satu tujuan bersama. Tidak ada yang menjadi persoalan jika semua itu adalah untuk generasi yang akan datang dan generasi itu adalah generasi bangsa saat ini.

Penjajahan yang terulang

            Walaupun telah merdeka tapi bangsa ini masih memiliki kebergantungan. Kebergantungan menyebabkan tidak mandiri dan berarti telah terjadi pengalihan kontrol dari bangsa ini kepada bangsa lain. Artinya penjajah telah  datang lagi namun dalam model yang berbeda.  Banyak cara yang dilakukan oleh penjajah dan pada intinya itu semua ibarat trik sulap. Permainan kata-kata atau istilah-istilah menjadi kemasan untuk penjajahan era modern ini.  Akibatnya bangsa ini terlalu mudah untuk dipermainkan. Media masa menjadi alat yang ampuh. Lewat media masa penjajah era modern akan mengendalikan opini bangsa. Arahnya persis sama seperti yang terjadi pada zaman penjajahan sebelumnya. Pembentukan opini-opini itulah yang mereka lakukan. Dari opini-opini ini lahirlah sikap-sikap yang sesuai dengan opini-opini yang diinginkan terbentuk. Suatu akan benar jika media menyatakan benar dan begitu juga sebaliknya. Pihak yang membantah hanyalah orang-orang yang merasa dirugikan dari adanya suatu kasus atau permasalahan.

            Pembentukan opini-opini melahirkan kelompok-kelompok di masyarakat yang ada karena perbedaan opini yang dibentuk. Hasilnya bangsa ini masih tetap terpecah belah dan lagi-lagi terjadi kecolongan untuk kedua kalinya. Bukankan hal ini adalah penjajahan?. Tidak adanya kemerdekaan dalam menentukan sendiri pandangan terhadap suatu kasus membuat bangsa ini harus kembali merasakan masa-masa penjajahan pada era klasik. Penjajah tidak akan berlama-lama dari urusannya yang lama karena mereka sekarang sedang berkutat dan berkamuflase pada bangsa ini.

Indonesia adalah tempat yang empuk jika dijadikan tempat tidur bagi penjajah. Mereka mengeruk keuntungan dari sumberdaya yang dimilki lewat pembentukan opini. Para pemuda, itulah sumber daya yang dimanfaatkan untuk kepentingan penjajah. Alangkah lebih membahayakan kalau para pemuda terdidik juga menjadi sumber daya yang termanfaatkan. Salah satu pemuda terdidik yang berada pada strafikasi tertinggi pendidikan adalah mahasiswa.  Mahasiswa adalah kaum intektual. Jika kaum intelektual telah dikalahkan  semakin mudahlah untuk mengalahkan bangsa ini karena Cuma mahasiwa yang berani dan memiliki waktu untuk melakukan kritisi terhadapap segala hal yang mengancam persatuan bangsa.

Belajar Sejarah

Soekarno menyatakan kalau bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Untuk menghargai tentu diperlukan informasi dan bagaimana dengan informasi yang kita inginkan. Semuanya adalah jalan untuk mengenal. Darisinilah dituntut sikap proaktif untuk mendapatkan informasi tentang jasa-jasa para pahlawan.Beberapa pelajaran yang bisa diambil dari Soekarno adalah, beliau mengingatkan bangsa ini untuk selalu berhati-hati akan datangnya kembali penjajahan. Pola dan sistim yang sama pasti akan terulang kembali. Soekarno telah memprediksikan itu semua dan kita bisa belajar dari pahlawan-pahlawan bangsa ketika dulu mereka berjuang.

            Kondisi yang sama dan stategi penjajahan yang sama, sudah seharusnya kalau bangsa ini melakukan perlawanan. Adanya kelompok yang terpecah belah sama seperti masa-masa perjuangan klasik. Sekarang bangsa ini masih “lidi” dan butuh waktu untuk menjadi “sapu lidi” mengingat realita yang tidak bisa dipungkiri. Ketika bangsa ini sedang dalam proses menjadi “sapu lidi” semangat untuk tetap belajar harus ada karena itu juga dilakukan oleh para pejuang era klasik. Belajar dan terus belajar sampai masa perjuangan datang.

         Akibat dosa-dosa yang dilakukan oleh bangsa ini –tidak menjalankan amanah para pahlawan- berbagai bencana  menimpa bangsa ini. Mulai dari bencana alam sampai bencana moral. Bencana-bencana itu adalah pesan kalau bangsa ini harus sadar kalau penjajahan itu telah datang lagi. Selama ini terlalu banyak tidak peduli dan itu membuat  lengah. Bencana-bencana itu juga menjadi pertanda kalau bangsa ini harus melakukan evaluasi. Artinya kembali lagi melihat kebelakang dan sejarah bangsa ini. Mempelajari sejarah akan membuat bangsa tau akan jasa-jasa para pahlawan. Jika sudah seperti itu barulah bisa disebut sebagai bangsa yang besar. “Bangsa yang seperti sapu lidi”. Kuat dan bisa membersikan penjajah dan segala sampah-sampah kepentingan.

______________________________________________

Penulis

M. Zulfitra Rahmat

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan IPB