SIARAN PERS

Jakarta, 19 Desember 2016

Kompetisi perebutan talenta sumber daya berkualitas dengan negara lain kini semakin tajam. Setiap negara berlomba-lomba meningkatkan kapabilitas sumberdaya manusianya masing-masing. Tidak sedikit negara-negara tersebut memanfaatkan keahlian para SDM Indonesia untuk bekerja disana. Banyak ilmuwan Diaspora Indonesia yang bekerja dan bermukim di luar negeri sehingga kemampuannya belum termanfaatkan dengan optimal untuk bangsa Indonesia sendiri.

Dengan latar belakang tersebut, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, melalui Direktorat Jenderal Sumberdaya Iptek dan Dikti, berinisiatif ‘memulangkan’ para ilmuwan Indonesia yang bekerja di luar negeri untuk bersama-sama meningkatkan gairah, iklim, kolaborasi, dan kerjasama lainnya di bidang akademik serta penelitian Indonesia melalui program “Visiting World Class Professor”, Menyalakan Indonesia di Peta Ilmu Pengetahuan Dunia, Sumbangsih Ilmuwan Indonesia Bagi Ibu Pertiwi.

Dalam program yang diselenggarakan mulai 18-24 Desember 2016 ini, Kemenristekdikti mempertemukan sekitar 42 orang akademisi dan ilmuwan asal Indonesia yang berada atau tinggal di luar negeri yang memiliki reputasi internasional dengan para akademisi dan peneliti di Indonesia dengan tujuan memotivasi dan meningkatkan gairah penelitian bertaraf internasional. Iklim akademik dan penelitian diharapkan pula bertambah baik yang dapat ditunjukan dengan indikator peningkatan kegiatan riset dan publikasi internasional.

Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla dalam pembukaan program tersebut, Senin, 19 Desember 2016, secara tegas menyebutkan bahwa tidak ada negara di dunia ini yang tidak maju karena ilmu pengetahuan dan teknologi. Iptek sangat dinamis dan berkembang luar biasa di segala ilmu. Dan ilmu-ilmu tersebut berasal dari perguruan tinggi, yang juga melakukan riset. Wapres mengemukakan sudah banyak upaya yang dilakukan untuk meningkatkan mutu riset dan pendidikan di Indonesia, diantaranya dengan menjadikan perguruan tinggi sebagai center of excellence, melalui kerja sama dengan negara-negara lain lewat penandatanganan MoU (memorandum of understanding), penetapan anggaran pendidikan dalam undang-undang dasar/konstitusi, dan lain sebagainya. Termasuk sudah banyak pula para guru besar yang berasal dari lulusan luar negeri.

“Kita ingin membangun kembali spirit itu. Sebab ilmu itu berkembang bukan hanya teknologi ilmu sosial pun demikian. Maka dari itu diperlukan jembatan dan benchmarking. Pengalaman para ilmuwan dari luar negeri yang datang ini harus digabungkan dengan praktek di dalam negeri. Pemerintah sangat menghargai kerjasama ini. Program ini dapat menggali masalah dasar secara keilmuan di masing-masing bidang, pada tahun yg akan datang saya harap menjadi kemajuan bagi bangsa ini,” jelasnya.

Para diaspora yang didatangkan dalam program ini
memang memiliki reputasi tinggi dan inovasi yang sangat baik di dunia internasional. Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir, berharap keberhasilan para diaspora di luar negeri supaya dapat ‘ditularkan’ ke Indonesia.

Pada kesempatan yang sama Menristekdikti juga mengungkapkan karena dorongan sejumlah regulasi yang sudah diterapkan, tercatat per 5 Desember 2016 ini, angka publikasi internasional sudah mencapai 9000-an. Upaya lainnya yang dilakukan Kemenristekdikti kedepan dalam meningkatkan jumlah publikasi termasuk akan mewajibkan para guru besar untuk menerbitkan publikasi internasional setiap tahunnya.

“Para diaspora saya mohon dibantu betul untuk meningkatkan mutu perguruan tinggi dan juga bukan publikasi saja tapi juga membantu peningkatan inovasi, hasil-hasil riset, prototype sampai pasa hilirisasi,” imbuhnya.

Selain meningkatkan jurnal internasional hasil kolaborasi antara Profesor Diaspora Indonesia dengan akademisi atau peneliti dalam negeri, pemerintah juga mengharapkan melalui program ini nantinya terdapat masukan dan rekomendasi terkait kebijakan strategis pemerintah dalam memajukan kualitas sumber daya manusia Indonesia secara utuh.

Terdapat 6 kluster keilmuwan dimana para ilmuwan akan berdiskusi sesuai bidang kompetensinya masing-masing yakni kluster ketahanan pangan, energi terbarukan, kesehatan dan obat-obatan, teknologi informasi dan komunikasi, politik-ekonomi-sosial-seni-budaya, dan kemaritiman. Selanjutnya para diaspora akan berkunjung dan berdikusi ke sejumlah perguruan tinggi. Di akhir program, mereka akan menyusun lalu menyampaikan rekomendasi hasil pada Kemenristekdikti.

##