Purwokerto – Industri Kecil dan Menengah (IKM) menjadi bagian penting dalam proses hilirisasi hasil riset dan inovasi. Karena peran penting IKM itulah Kemristekdikti mendukung penuh agar IKM-IKM yang merupakan hasil binaan dari Perguruan Tinggi semakin berkembang. Contohnya adalah Industri Gula Kelapa yang terletak di Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas. Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir mengapresiasi produk-produk yang dihasilkan oleh IKM binaan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed). Dalam kunjungan kerjanya di Purwokerto, senin, (21/3), Nasir melihat secara langsung pembuatan gula kelapa dari proses pembuatan gula kelapa padat hingga kemudian menjadi bubuk gula kelapa yang sudah dimasukkan kedalam kemasan khusus dan sudah siap di ekspor ke luar negeri.

Dalam diskusi dengan para perajin gula kelapa didaerah Banyumas, Nasir yang didampingi oleh Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Jumain Appe dan Rektor Unsoed Achmad Iqbal mengatakan, “Inovasi seperti gula kelapa ini patut diberikan apresiasi. Inovasi seperti inilah yang patut dicontoh pula oleh Perguruan Tinggi yang lain. Unsoed harus mengembangkan riset tidak hanya di sisi hulu, tetapi sisi hilirnya juga ditingkatkan, sehingga nilai tambah bagi petani juga didapatkan.” Nasir juga menyikapi mengenai proses pembuatan gula kelapa tersebut. “Teknologi yang tepat harus digunakan dalam proses pembuatan gula kelapa, jangan hanya manual menggunakan tenaga manusia, tetapi harus dibantu dengan teknologi yang tepat untuk proses pembuatan. Hal yang kedua adalah masalah packaging yang harus diperhatikan. Buatlah kemasan yang baik dan higienis, karena itu akan menambah nilai jual produk yang dihasilkan,” tegasnya.

Sementara Achmad Iqbal menjelaskan, “bahwa kami ingin meningkatkan kualitas hasil riset dan inovasi dari pertanian di daerah Banyumas, sehingga peran Perguruan Tinggi dapat dirasakan masyarakat. Kami membantu pengembangan penelitian dan pemasaran gula kelapa hingga akhirnya konsumen/pasar menangkap dengan baik produk hasil riset dan inovasi kami. Dengan bantuan para petani lokal dan Pemda Kabupaten Banyumas, kami ingin membantu meningkatkan kesejahteraan penduduk sekitar Banyumas. Transfer teknologi kami lakukan, karena kami juga ingin memberdayakan masyarakat secara berkelanjutan,” ungkap Iqbal. Iqbal juga mengatakan bahwa salah satu produk selain gula kelapa yang juga menjadi prioritas eskpor adalah padi, yang sudah diminta untuk dibudidayakan di Negara Sudan.

Peran Pemda Banyumas dalam mendukung program hilirisasi produk hasil riset dan inovasi juga menjadi faktor utama sehingga gula kelapa dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. Bupati Banyumas Ahmad Husein mengatakan bahwa di Kabupaten Banyumas hampir setiap Kepala.Keluarga bergantung kehidupannya dari produksi hasil kelapa. “Oleh karenanya kami menjadikan produk gula kelapa ini sebagai salah satu prioritas daerah kami untuk mengembangkan industri ini. Apapun hal yang diperlukan oleh masyarakat Banyumas untuk pengolahan produk ini, kami selalu siap membantu,” ucapnya. Saat ini Pemda Banyumas juga sedang mengusahakan sertifikasi gula kristal. “Harapan kami adalah sertifikasi ini kami inginkan lahir dari Kemristekdikti dan BPPOM,” tambahnya. Para petani pun dalam diskusi yang hangat itu memberikan harapannya agar diberikan lebih banyak ilmu mengenai teknologi tepat guna agar pengembangan pertanian di Banyumas lebih baik. Membangun ekonomi melalui industri kecil dan inovasi diperlukan untuk meningkatkan daya saing bangsa. (dzi/bkkpristekdikti)

Galeri