JAKARTA – Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi melalui Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi menggelar sebuah pertemuan dalam rangka mensosialisasikan inovasi di benih padi dan bibit sapi lokal guna mendukung ketahanan pangan nasional. Pertemuan itu diadakan di Gedung BPPT II, Jl. MH Thamrin pada hari Jumat (11/03/2016).

Inovasi yang diperkenalkan pada pertemuan tersebut adalah Varietas IPB 3S yang merupakan benih padi unggul tipe baru. Aplikasi varietas padi tipe baru ini dapat menjadi strategi pencapaian swasembada beras nasional.

Direktur Jendral Penguatan Inovasi, Jumain Ape menuturkan bahwa terdapat 3 komoditas pangan karbohidrat yang akan didorong menjadi swasembada, yaitu padi, jagung, dan kedelai. Dalam mengembangkan ketiga komoditas ungul tersebut, Kemenristekdikti akan bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) dan beberapa perusahaan untuk menjadi Pelaksana Industri Benih Unggul Nasional.

Selain itu, guna memenuhi kebutuhan daging secara mandiri, berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk memacu percepatan swasembada daging. Salah satunya dengan menyiapkan bibit unggul dengan kualitas genetik sapi lokal Indonesia yang diperoleh melalui implementasi riset ilmu pengetahuan dan teknologi.

Jumain juga menegaskan bahwa hingga kini Indonesia masih belum swasembada daging dikarenakan sebagian besar bibit sapi unggul masih impor, sehingga kebutuhan akan daging masih belum bisa dipenuhi secara mandiri. Oleh karena itu program Kemenristekdikti kali ini berfokus pada  pengembangan industri bibit unggul.

“Bekerja sama dengan Kementrian Pertanian, Kini telah ada pusat-pusat industri benih sapi. Sejauh ini sudah ditetapkan terdapat 5 wilyah yaitu Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur, dan Lampung. Jika pusat industri benih sapi tersebut dapat dikembankang dengan baik, kita pasti bisa memenuhi kebutuhan daging nasional dalam 2 sampai 3 tahun kedepan,” tegas Jumain dalam pertemuan tersebut.

Salah satu kawasan pusat pengembangan industri perbibitan sapi lokal yang sudah ditetapkan adalah Maiwa Breeding Centre (MBC), UNHAS, Sulawesi Selatan yang pengembagangannya berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Kawasan ini dijadikan pusat perbibitan sapi agar nantinya kualitas sapi dapat tetap stabil.

Jumain berharap, berbagai upaya tersebut dapat mempercepat hilirisasi hasil-hasil riset dan pengembangan di perguruan tinggi khususnya dan lembaga litbang pada umumnya, agar dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan berkontribusi dalam pembangunan nasional. (Alv/ristekdikti)