Surabaya, 9 April 2017

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali mengukir prestasi dunia. Melalui tim Spektronics, ITS berhasil mendapatkan juara pertama race competition dan juara tiga poster competition di ajang kompetisi Chem-E-Car di Pahang, Malaysia, yang berakhir pada Sabtu (8/4) kemarin. Chem-E-Car adalah sebuah kompetisi mobil prototipe dengan bahan bakar racikan kimia.

Mobil prototipe yang dibawa kali ini bernama Spektronics Aerio Superior (AS). Prototipe mobil berukuran mini ini berhasil mengharumkan Indonesia. Mobil ini memiliki bahan bakar reaksi kimia hidrogen peroksida dan katalis ferri klorida. “Kami harus menyelesaikan dua tantangan untuk menjuarai kompetisi ini,” ujar Ika Yuni Rachmawati, manajer teknis tim Spektronics ITS saat dihubungi melalui pesan online, Sabtu (8/4) malam.

Tantangan pertama, mobil tersebut harus memasukkan bola ke dalam gawang dan harus berhenti di jarak yang sudah ditentukan. Berikutnya, Spektronics AS harus menjatuhkan pin bowling dan berhenti di jarak yang sudah ditentukan pula. Untuk menyelesaikan kedua tantangan tersebut, peserta hanya diberi waktu dua menit sehingga dibutuhkan reaksi kimia sifatnya cepat.

Pada tantangan yang pertama, Spektronics AS berhasil memasukkan bola dan berhenti di jarak 10,1 meter. Tim dari ITS ini sendiri diharuskan menempuh jarak 10,5 meter sehingga hanya memiliki selisih 0,4 meter. “Error 0,4 meter itu sudah yang terbaik, kalau yang lain bisa bermeter-meter,” terang Ika.

Di tantangan kedua ini Spektronics AS gagal menjatuhkan pin bowling tetapi masih berhasil meminimalisir error sejumlah 0,43 meter. “Tim yang lain pun tidak ada yang berhasil menjatuhkan pin bowling. Bahkan banyak yang didiskualifikasi karena faktor bahan kimia yang bocor dari mobil dan kehabisan waktu,” ceritanya.

Menurut Ika, kompetisi di Universiti Pahang Malaysia ini memiliki lantai yang tidak rata sehingga tidak ada yang berhasil meskipun saat latihan selalu berhasil.

Kendala lain yang ditemui tim adalah merek bahan kimia yang berbeda. Enam anggota tim Spectronics yang berangkat perlu mengkalibrasi dan mencari data ulang. “Alhamdulilah kami bisa cepat mengatasinya, jadi ini bukan masalah besar,” ucapnya lega.

Kompetisi bernama 12th National Chem-e-Car Competition Malaysia ini diikuti oleh 72 tim dari 30 universitas. Universitas dari Indonesia sendiri berjumlah tujuh.

Menurut Ika, lawan terberat ITS dalam menjuarai ini adalah University of Petronas, Monash University Malaysia, dan University Malaysia Pahang. Kemenangan di Malaysia ini merupakan batu loncatan bagi ITS untuk mengikuti AIChE Chem-E-Car di Amerika. (HUMAS ITS)