Dirjen Dikti Tekankan Pentingnya Penanaman Karakter Pancasila melalui Kampus Merdeka dalam Menghadapi Tantangan Global

Sumbawa – Saat ini dunia tengah dihadapkan perubahan teknologi yang begitu cepat sehingga diperlukan adanya pemikiran untuk menjadi inovator dan kreator dalam perubahan tersebut. Dalam situasi ini, ditunjukkan pula pentingnya memiliki ketangkasan dan fleksibilitas dalam menghadapi dinamika perubahan yang tengah terjadi, khususnya pada masa pandemi yang memaksa setiap individu untuk beradaptasi dengan cepat.

“Dalam 10 tahun ke depan, lebih dari 23 juta lapangan pekerjaan di Indonesia akan hilang dan digantikan oleh smart computer, artificial intelligence, internet of things, dan big data analytics. Tapi akan muncul juga pekerjaan baru dua kali lipat lebih banyak dari yang hilang, namun pekerjaan tersebut belum ada, dan inilah yang menjadi tantangan bagi perguruan tinggi dan mahasiswa,” ujar Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Nizam, dalam acara Global Ambassador Scholarship Inauguration 2020 Universitas Teknologi Sumbawa, Kamis (05/11).

Jika perguruan tinggi tidak mampu beradaptasi, lanjut Nizam, maka Indonesia akan tertinggal dari perkembangan sosial, ekonomi, dan teknologi yang akan memunculkan broken link. Untuk itu perguruan tinggi perlu mendisrupsi dirinya sendiri untuk memasuki dunia pendidikan 4.0.

Nizam menyampaikan hal paling penting dalam menghadapi hal tersebut ialah memberi kebebasan belajar bagi mahasiswa dengan tetap menanamkan karakter Pancasila yang sedang diimplementasikan dalam pendidikan tinggi di Indonesia melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka. Menurut Nizam, program ini dapat meniciptakan mahasiswa menjadi pembelajar mandiri, adaptif, kreatif, dan memiliki kemampuan problem solving yang kompleks, multidimensi, multikultur, serta multidisiplin. Selain itu, mahasiswa juga dapat mengembangkan kompetensi-kompetensi baru melalui kebijakan kebebasan mengambil pelajaran di luar program studinya.

Selain itu, melalui kebebasan dalam program Kampus Merdeka, mahasiswa dapat memiliki jangkauan yang lebih luas dari berbagai kota bahkan negara serta membawanya dalam ekosistem pendidikan yang baik untuk mengembangkan budaya toleransi, budaya hidup berdampingan, dan co-creation yang berguna dalam tantangan global.

Nizam juga menegaskan, selama program ini terlaksana, mahasiswa harus mengembangkan kemampuan critical thinking, problem solving, creativity, communication skills, dan collaboration sebagai landasan kompetensi yang dibutuhkan di masa depan.

“Kompetensi dan kemampuan ini perlu dikembangkan untuk menciptakan dunia yang damai dan berkembang. Dibutuhkan pula karakter pendidikan yang baik sebab inilah yang akan dibawa hingga masa tua nanti. Kualitas karakter yang diperlukan masa abad ke-21 atau masa depan adalah keingintahuan, keinginan untuk belajar dan mengeksplor hal baru, inisiatif mengembangkan diri, siap belajar kapanpun dan dari siapapun, dan ketangguhan dalam mengambil tantangan baru serta tidak takut gagal,” jelas Nizam.

Berkenaan dengan hal tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menerapkan karakter yang dibutuhkan tersebut ke dalam karakter Pancasila yang turut ditanamkan pada program Kampus Merdeka yang bertujuan untuk menciptakan lulusan mahasiswa berintegritas tinggi dan menjadi pribadi independen, baik dalam pekerjaannya kelak maupun diri sendiri. Selain itu, karakter Pancasila juga menumbuhkan mahasiswa berjiwa Bhineka Tunggal Ika dalam menerima keanekaragaman dan memiliki keinginan untuk melihat maupun berkontribusi dalam perubahan dunia ke arah yang lebih baik.

“Pendidikan tinggi perlu menjadi kuat dalam kurikulum, fleksibel, dan kuat dalam bidang sains dan teknologi, sehingga pendidikan menjadi relevan dengan masa depan. Kebijakan mengambil pembelajaran di luar program studi diharapkan dapat membuat pendidikan tinggi menuju arah student-oriented, _stimulating, challenging_ dan memperluas learning environment,” pungkasnya.
(YH/DZI/FH/DH/NH/MFS/VAL/YJ/ITR)

Humas Ditjen Dikti
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan