REKA CIPTA INDUSTRI KELAPA SAWIT DALAM MEWUJUDKAN KEDAULATAN ENERGI

Jakarta – “Walaupun bermodal bambu runcing, ekosistem reka cipta harus tetap terwujud untuk dapat membawa kemajuan bangsa Indonesia yang berdaulat secara IPTEK,” ucap Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud RI, Nizam, sebagai Keynote Speaker pada Webinar Internasional yang diselenggarakan oleh Tim Kerja Akselerasi Reka Cipta Ditjen Dikti, Sabtu (19/9).

Webinar internasional ini bertajuk “Semangat Kampus Merdeka dalam Upaya Merajut Masa Depan Ekosistem Reka Cipta Nasional Melalui Pengelolaan Kelapa Sawit”. Kegiatan ini dihadiri lebih dari 300 peserta yang terdiri atas kalangan akademisi, peneliti, dan mahasiswa.

Pada kesempatan tersebut turut hadir Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Paristiyanti Nurwardani dan para narasumber profesor di bidang Food Science and Biotechnology International Islamic University Malaysia Irwandi Jaswir, Associate Professor Departement of Chemical Engineering & Center of Excellent di Nanotechnology King Fahd University of Petroleum & Minerals Arab Saudi Oki Muraza, Pengajar dan Peneliti di Program Food Bussines Technology Universitas Prasetya Mulya Tangerang Purba Purnama. Berti dal sebagai moderator adalah Mahir Basayut dari Tim Kerja Akselerasi Reka Cipta Ditjen Dikti.

Nizam menyampaikan bahwa saat ini dunia bergerak sangat cepat dan berubah dengan kondisi yang tidak menentu atau dikenal dengan istilah VUCA (volatility, uncertainty, complexity, ambiguity). Dunia Artificial Intellegent (AI) yang berkembang sangat pesat membawa pada reformasi zaman yang semakin cepat dan menyeluruh. Ada tiga kemungkinan di masa depan yang akan terjadi, antara lain, dunia yang semakin melokal seperti Inggris melakukan Brexit, globalisasi yang semakin intens dan tidak berbatas seperti dapat dilihat dengan hadirnya e-commerce di mana barang dan uang dapat berputar ke manapun dan dari mana pun, serta masa depan yang terakselerasi.

“Ketiga skenario tersebut membutuhkan tiap individu untuk bersinergi mengatasinya dengan baik,” ucapnya.

Paris menambahkan bahwa Ditjen Dikti senantiasa merealisasikan arahan Presiden RI untuk berdikari di berbagai bidang. Dengan luasnya lahan kelapa sawit di Indonesia sekira 16 juta hektare, maka besar pula potensi petani swadaya yang dapat didukung oleh sumber daya manusia terbaik perguruan tinggi termasuk mengoptimalkan aspek kewirausahaan mahasiswa.

Bahkan dengan pengelolaan lahan yang luas tersebut, jika dioptimalkan dengan baik, kita bisa melahirkan 12.000 CEO kelapa sawit melalui ekosistem reka cipta Kampus Merdeka di masa yang akan datang. Hal ini tentu akan mendorong kemandirian ekonomi yang sangat pesat di sektor pengelolaan kelapa sawit. Peningkatan produksi hasil sawit dalam bentuk B20 dan B30 sejatinya dapat menurunkan angka impor sebesar 100 Triliun pertahunnya.

“Saatnya kita menyingsingkan lengan baju dan bergotong royong dalam mewujudkan transformasi ekonomi melalui pendidikan tinggi dengan pengembangan pengelolaan kelapa sawit di Indonesia agar semakin berdaulat,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, ilmuwan diaspora Irwandi menjelaskan bahwa terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi perekonomian negara. Peran perguruan tinggi menjadi salah satu faktor penting, di mana advanced research yang secara signifikan berpengaruh terhadap kondisi perekonomian suatu negara. Malaysia dan Indonesia merupakan pemain utama kelapa sawit di dunia. Riset oleh perguruan tinggi Malaysia sudah banyak difokuskan ke arah bisnis. Wujud implementasinya melalui pengembangan Oil Palm 4.0 yang menitiberatkan keberlanjutan dan pembangunan yang integral agar lebih optimal serta mampu meningkatkan pendapatan petani sawit hingga 2-3 kali lipat dari pendapatan awal.

“Komponen oil palm 4.0 antara lain eco-fertigation terkait tanah yang dikelola dengan baik dengan konsep tanah sebagai awal mula sawit yang baik, eco-harvestor, eco-logistics, eco-mill system, eco-refinery, eco-bio mass, bio ester for new products, eco-fuel, eco management, dan international collaboration system,” jelasnya.

Sedangkan Oki memaparkan mengenai fokus bidang energi terbarukan yang memiliki potensi kenaikan angka produktivitas dalam lima tahun kedepan. Hadirnya sentuhan inovasi di industri kelapa sawit oleh perguruan tinggi dapat memperkuat ketahanan energi nasional dan penciptaan lapangan kerja baru. Adapun tantangan Indonesia di bidang energi di antaranya adalah tingginya kebutuhan dan impor energi, kurangnya produksi BBM (bensin) dalam negeri, serta tingginya impor LPG untuk rumah tangga.

“Sejalan dengan besarnya potensi kebun kelapa sawit di Indonesia, maka pendekatan technology advancement akan sangat berpengaruh terhadap ketahanan energi nasional,” jelas Oki. Perlu sinergi di dunia migas itu sendiri karena bio energi sejatinya bukanlah kompetitor melainkan, produk yang dapat saling melengkapi dengan energi yang sudah ada.

“Disamping itu, limbah produk energi tersebut juga dapat dimanfaatkan lewat beragam inovasi yang akan bermuara pada terciptanya lapangan pekerjaan baru,” sambungnya.

Selain itu, Purba menjelaskan bahwa berbagai bagian dari kelapa sawit dapat digunakan. Untuk itu, perlu dipahami agar kelapa sawit dapat secara optimal berdampak bagi Indonesia. Dibutuhkan beragam inovasi atau reka cipta dalam mengelola kelapa sawit. Kontribusi ekspor nasional kelapa sawit sangat besar dengan posisi kedua setelah batu bara. Biodiesel sebagai turunan dari sawit sejauh ini masih didapatkan melalui impor, terlepas industri migas di Indonesia sudah besar. Penggunaan biodiesel ini di Indonesia sudah jauh meningkat, yaitu B30 yang diarahkan ke B40 dan selanjutnya ke B100. Dari segi lingkungan, biodiesel dianggap lebih ramah lingkungan dibanding dengan petroleum. Dari segi sosial, berdampak pada pembukaan lapangan kerja yang bermuara pada kesejahteraan. Dari segi ekonomi, penggunaan biodeisel dapat menurunkan penggunaan crude oil sekaligus meningkatkan nilai biodiesel ini sendiri.

“Saat ini, saya sedang mengembangkan suatu proyek menggandeng peneliti di IPB untuk mendesain suatu alat yang dapat memberikan laporan secara real-time dengan galah, yang selanjutnya akan dikembangkan melalui drone agar dapat dikalkulasikan jumlah panen dengan melihat kematangan kelapa sawit berdasarkan pemetaan yang dilakukan di lapangan,” jelasnya.

Nizam menjelaskan bahwa tanpa sumber daya manusia unggul sulit untuk mengoptimalkan sumber daya alam agar membawa kebermanfaatan bagi masyarakat. Ditengah kondisi ketidakpastiaan ini, sangatlah sulit bagi manusia untuk memprediksikan hari esok. Maka dari itu cara terbaik yang dapat dilakukan adalah dengan menciptakan hari esok bersama-sama untuk kemajuan bangsa Indonesia.

“Sawit menjadi komoditas produksi Indonesia terbesar di dunia, dan tugas kita adalah bagimana memberikan nilai tambah melalui dukungan reka cipta sumberdaya manusia perguruan tinggi demi kemajuan bangsa,” pungkasnya.
(YH/DZI/FH/DH/NH)

Humas dan Tim Akselerasi Reka Cipta Ditjen Dikti
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan