Respons Pendidikan Tinggi selama Pandemi Covid-19

Jakarta – Pada masa pandemi seperti saat ini, inovasi dalam berbagai bidang sangat dibutuhkan, salah satunya inovasi pada bidang teknologi. Pada acara talkshow bertajuk “Inovasi Teknologi di Masa Pandemi: Solusi untuk Negeri” yang digelar Jumpa.id secara virtual pada Senin (02/11), Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud, Nizam, mengatakan bahwa lebih dari 1.000 inovasi yang diciptakan oleh mahasiswa. Inovasi tersebut dituangkan dalam bentuk karya teknologi yang lebih canggih seperti Augmented Reality (AR), Artificial Intelligence (AI), hingga praktikum secara virtual. Nizam menjelaskan inovasi tersebut bukan hanya menjadi prototipe saja melainkan diproduksi secara massal.

Pada kesempatan tersebut, Nizam juga menyampaikan mengenai respons pendidikan tinggi dalam menghadapi pandemi Covid-19. Di bidang ekonomi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah merealokasikan anggaran sebesar 1 triliun rupiah untuk membantu para mahasiswa yang orang tuanya terdampak pandemi seperti di PHK (Pemutusan Hubungan Kerja).

“Terdapat sebanyak kurang lebih 400 ribu mahasiswa dan masing-masing mendapatkan bantuan dana sebesar 2,4 juta. Bukan hanya itu, Kemendikbud bekerja sama dengan Kementerian Keuangan, untuk membantu penyediaan akses internet secara gratis untuk 8 juta mahasiswa dan dosen, serta kurang lebih 60 juta siswa,” paparnya.

Selain itu, upaya penanggulangan Covid-19 di bidang kesehatan juga dilakukan dengan merealokasikan anggaran yang ada untuk membantu Rumah Sakit Pendidikan dan Fakultas Kedokteran. Seluruh Fakultas Kedokteran dari Rumah Sakit Pendidikan itu dimobilisasikan untuk menjadi pusat tes (test center) yang dimanfaatkan untuk menangani tes Covid-19 dan dalam waktu yang singkat dapat melakukan tes untuk 8.000 orang.

“Selain itu kami memobilisasikan relawan mahasiswa kesehatan sebanyak kurang lebih 15.000 mahasiswa yang dibentuk menjadi Relawan Covid-19 Nasional (RECON). Para relawan mahasiswa ini membantu dalam hal mitigasi, terutama dalam KIE (Komunikasi, Informasi, dan Edukasi),” jelasnya.

Adapun dalam hal pembelajaran di perguruan tinggi, Nizam mengatakan terdapat sebanyak 4.700 kampus yang ada dan hanya sekitar 200 kampus yang memiliki Learning Management System (LSM) dan 4.500 lainnya tidak memiliki. Lebih dari 3.000 modul telah disiapkan pada laman Sistem Pembelajaran Daring (SPADA). Maka dari itu, bagi para kampus yang belum siap dengan modul pembelajaran daring, maka dapat mengakses laman SPADA sebagai platform untuk berbagi modul pembelajaran dan LSM.

“Kami melakukan survei yang diikuti oleh seluruh mahasiswa dari Sabang sampai Merauke dan lebih dari 200 ribu mahasiswa mengisi survei tersebut. Ternyata dalam waktu singkat kampus mampu melakukan transformasi pembelajaran menjadi pembelajaran daring,” ujar Nizam.

Selama pembelajaran daring, lanjut Nizam, secara umum mahasiswa dapat menerima materi kuliah dengan baik. Selanjutnya, kendala pembelajaran daring seperti kualitas koneksi tidak memiliki korelasi yang tinggi terhadap capaian pembelajaran mahasiswa. Hal tersebut dikarenakan dosen tetap membagikan seluruh modul ajarnya kepada mahasiswa, sehingga capaian pembelajarannya tetap baik.
(YH/DZI/FH/DH/NH/MFS/VAL/YJ/ITR)

Humas Ditjen Dikti
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan