Dosen FMIPA UI Kembangkan MikoGrow, Digitalisasi Sistem Pantau Budidaya Jamur Tiram

Setelah sukses memperkenalkan inovasi Mikoponik, Akademisi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) Dr. Retno Lestari, M.Si kemudian mengembangkan inovasi MikoGrow – sebuah terobosan baru dalam pendampingan budidaya jamur. MikoGrow merupakan sistem berbasis Internet of Things (IoT) yang dapat memudahkan para petani jamur untuk memantau dari jarak jauh produk budidayanya. Selain memberikan pendampingan pada proses budidaya, Dr. Retno dan tim melatih warga untuk melakukan hilirisasi produk olahan jamur. Program tersebut telah berlangsung selama dua tahap, dimulai pada tahun 2019 dan tahun ini merupakan tahap kedua.

Gagasan ini bermula dari dampak pandemi COVID-19 terhadap menurunnya hasil produksi panen jamur di Desa Bojong Koneng, Sentul. Kegiatan ini merupakan lanjutan dari program Mikoponik yang merupakan inovasi budidaya jamur dengan pemanfaatan limbah agrikultur sebagai media tanam. Dr. Retno dan tim terjun langsung membantu masyarakat di Sentul dalam melakukan pengembangan budidaya jamur tiram (Pleurotus Ostreatus) untuk menggerakkan perekonomian masyarakat setempat.

Dr. Retno menuturkan, “Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, panen jamur per harinya mengalami penurunan, yang dimulai pada bulan Maret lalu. Kami juga melihat, semangat warga menurun karena keterbatasan aspek mobilisasi dan juga berkumpul. Untuk itu, kami mulai melakukan inovasi monitoring jarak jauh dan kini hasil panen harian sudah mulai naik dan kami berharap dapat kembali normal dalam waktu dekat.”

“Saat ini MikoGrow sedang dalam tahap pengembangan, dan akan disosialisasikan kepada masyarakat setempat. Kami berharap, dengan menghadirkan MikoGrow, warga di Desa Bojong Koneng akan terbiasa menggunakan aplikasi teknologi dan berdampak positif terhadap produktivitas budidaya jamur yang dilakukan,” ujar Dr. Retno.

Selain mendukung budidaya jamur, tim pengabdian masyarakat (pengmas) FMIPA UI ini juga mengajak warga setempat untuk membuat aneka olahan jamur yang siap konsumsi untuk menambah nilai jual.  “Kandungan protein yang cukup tinggi pada jamur, ditambah dengan sifatnya sebagai peningkat sistem imun (imunomodulator), tentunya budidaya jamur tiram ini juga dapat membantu ketahanan pangan dalam melawan pandemi COVID-19 di Indonesia,” ujar Dr. Retno.

Sebagai bentuk keberlanjutan program, Dr. Retno dan tim juga telah memperkenalkan Rumah Jamur Mikoponik. Rumah Jamur Mikoponik ini memiliki kapasitas tamping hingga 10.000 baglog, yang dapat menghasilkan 2-3 kg jamur per baglog. Terdapat 30 rak besar di dalam rumah jamur seluas 5 x 12 m2 yang telah disediakan untuk warga melakukan budidaya jamur.

Meskipun di tengah situasi pandemi COVID-19, tidak menyurutkan semangat tim pengmas FMIPA UI. Program pengmas yang dijalankan Dr. Retno dan tim memperoleh dukungan hibah dari Program Pengmas Unggulan Perguruan Tinggi (PPMUPT) yang didanai oleh Kementerian Riset dan Teknologi – Badan Riset dan Inovasi Nasional.