KECE, Handsanitizer Non-Alkohol Berbahan Tanaman Toga

Unesa.ac.id-Surabaya, Di tengah pandemi covid 19, Unesa kembali berkreasi. Kali ini, melalui tim PKM dosen, Unesa memproduk handsanitizer non-alkohol berbahan tanaman toga yang diberi nama KECE Handsanitizer. Tim PKM tersebut terdiri dari Prof. Dr. Wahyu Sukartiningsih, M.Pd, Prof. Dr. Tukiran, M.Si, dan Mauren Gita Miranti, S.Pd., M.Pd.

Ide membuat handsanitizer non alkohol tersebut, menurut ketua Tim PKM Prof. Wahyu Sukartingsih didasari pada beberapa studi literatur dan melihat kurangnya persediaan alkohol di pasaran. Hal itu kemudian dipadukan dengan kemampuan bidang keilmuan yang dimiliki anggota tim.

Selain itu, terang Wahyu, pemilihan bahan pembuatan produk handsanitizer non-alkohol juga mempertimbangkan persediaan tanaman organik yang mudah dijumpai di pasar-pasar tradisional Indonesia sehingga akan mempermudah proses produksi Handanitizer.

Lebih lanjut, Wahyu menyampaikan bahwa produk ‘Kece Handsanitizer non-alkohol’ sudah menghasilkan sekitar 500 botol (berukuran 100 ml) ditambah dengan 300 botol (berukuran 250 ml). Dari hasil produksi tersebut, Wahyu dan Tim segera menyerahkan kepada pihak Unesa Crisis Center (UCC) agar dapat segera didistribusikan ke masyarakat sekitar Unesa yang terdampak covid-19 dan membutuhkan produk handsanitizer.

Produk Kece handsanitizer non-alkohol ini memiliki ciri khas terbuat dari bahan-bahan alami seperti siri dan jeruk. Hal itulah yang membuat produk handsanitizer non-alkohol ini memiliki keunggulan yakni lebih ramah lingkungan dan tidak menimbulkan dampak yang tidak diinginkan untuk pemakaian jangka panjang.

“Kandungan yang terdapat di dalam handsanitizer tersebut adalah daun sirih yang sudah melalui proses tertentu, air jeruk nipis, dan senyawa kimia (Glicerin, dan H2O2),” terang Wahyu.

Wahyu dan Tim menyadari masih banyak kekurangan dari produk Kece handsanitizer non-alkohol yang diproduksi. Oleh karena itu, ia berharap ada kesempatan untuk mengembangkan dengan melakukan penelitian kembali karena produk itu marketable. “Kami yakin produk ini layak untuk diproduksi secara massal sehingga dapat dijadikan produk unggulan Unesa,” ungkap Wahyu.

Wahyu juga berharap, ke depan PKM ini tidak hanya sekadar memroduksi handsanitizer non-alkohol, tapi sekaligus melatih keterampilan lembaga Pondok Pesantren Bahriyatul Maghfiroh Nurul Karomah Pasuruan dalam meningkatkan kualitas. Sehingga, nanti santriwan maupun santriwati dapat memroduksi sendiri handsanitizer non-alkohol tersebut dan dapat dipakai sendiri untuk lingkungan pondok pesantren.

Wahyu memberikan tips bagi masyarakat yang ingin membuat handsanitizer sendiri di rumah. Pertama, harus dipertimbangkan kandungan atau takaran agar aman jika digunakan. Kedua, harus diperhatikan jangka pemakaian produk agar tidak kadaluarsa. (nov/sir)