Siaran Pers
Nomor : 053/Sipers/2020

Jakarta – Pelaksana Tugas (plt.) Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Nizam, menjelaskan bahwa pandemi Covid-19 telah menuntut perguruan tinggi untuk melakukan transformasi teknologi pembelajaran dalam waktu yang pendek. Perguruan tinggi dipaksa untuk melakukan revolusi proses pembelajaran melalui pemanfaatan teknologi pembelajaran daring. Hal ini disampaikan Nizam pada webinar dengan tajuk “Optimalisasi Pembelajaran Daring dalam Merdeka Belajar” yang diselenggarakan oleh Universitas Negeri Padang (UNP) pada Sabtu (9/5).

Nizam jelaskan pemanfaatan teknologi untuk pembelajaran daring telah dirintis sejak tahun 2000 lalu melalui berbagai platform antara lain GDLN-INA, INHERENT, Jardiknas dan ID-REN. Kemudian pada 2014 Kemdikbud meluncurkan platform SPADA. Namun saat itu belum banyak Kampus yang tertarik menggunakannya. “Semua berubah sejak pandemi ini. Tiba-tiba hampir seluruh kampus melakukan pembelajaran daring pada masa pandemi saat ini. Ini luar biasa sekali,” jelas Nizam.

Nizam juga menjelaskan bahwa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi telah menyediakan platform pembelajaran daring yang dapat digunakan secara bersama lintas kampus melalui SPADA. Platform ini juga bisa digunakan oleh kampus-kampus yang belum memiliki Learning Management System (LMS) untuk pelaksanaan proses pembelajaran daring. Saat ini di dalam SPADA terdapat 244 perguruan tinggi yang berbagi modul perkuliahan dan lebih dari 3.000 konten yang dapat digunakan dalam pembelajaran daring. “Dosen dan mahasiswa dapat mengakses dan menggunakan modul-modul pembelajaran di SPADA secara gratis,” jelas Nizam

Dalam masa pandemi ini, Nizam menjelaskan bahwa pembelajaran tidak hanya dapat dilakukan secara daring namun banyak pilihan model pembelajaran yang dapat dilakukan oleh mahasiswa. Hal ini selaras dengan kebijakan Merdeka Belajar yang esensinya pembelajaran tidak hanya terbatas pada ruang kelas, perpustakaan dan laboratorium semata. Mahasiswa dapat melakukan metode pembelajaran lainnya misalnya proyek mandiri, penelitian bersama dosen atau peneliti, atau pembelajaran dengan terlibat secara langsung pada program-program kemanusiaan.

Rektor Universitas Negeri Padang (UNP), Ganefri, dalam paparannya menyampaikan bahwa pada masa pandemi ini 72% dosen UNP melakukan pembelajaran daring dengan menggunakan platform e-learning UNP. UNP juga memberikan kebebasan mahasiswa dalam berkreasi dan melakukan inovasi-inovasi baru dalam pembelajaran. “Fokus dalam pembelajaran adalah bagaimana mahasiswa memperoleh nilai tambah baik dari sisi keilmuan maupun pengembangan kompetensi yang dimiliki,” papar Ganefri.

Selain itu, untuk meringankan beban mahasiswa, UNP juga menyalurkan bantuan pulsa kepada 35.000 mahasiswanya.

Seminar webinar dengan tajuk “Optimalisasi Pembelajaran Daring dalam Merdeka Belajar” ini diikuti 1.259 peserta dari seluruh Indonesia. Seminar ini juga menghadirkan pembicara Rektor Universitas Terbuka Ojat Darojat dan Direktur Eksekutif BAN-PT T. Basaruddin. (MSF/AND)

Humas Ditjen Dikti
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan