SEBAGAIMANA dikatakan oleh Einstein, Keberhasilan ditentukan oleh 99 % perbuatan dan hanya 1 % pemikiran, maka sudah tidak ada kata yang dapat diucapkan kepada Peneliti dan Perekayasa kecuali Acungan Jempol terutama ketika merefleksi kembali hasil penelitian mereka yang telah banyak dibuat melalui institusi dan lembaga litbang di tempat mereka berkarya. Hal itu mengkonfirmasi bahwa kemampuan sumberdaya manusia peneliti dan perekayasa di Perguruan Tinggi dan Lembaga Litbang tidak kalah hebatnya dibanding dengan bangsa lain.

Hasil penelitian telah terbukti dapat mengusung tingkat Perguruan Tinggi tertentu menjadi berkelas Dunia, mencetak sejumlah Profesor dan Doktor yang ahli dalam bidangnya, mencetak lulusan yang memiliki kemampuan prima dibidang-bidang spesifik, termasuk mendorong sejumlah proyek-proyek besar untuk memacu pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan dan peradaban bangsa. Bukti nyata bisa terlihat dari sejumlah predikat juara yang telah disandang oleh banyak peserta didik di kancah kejuaraan dunia, tidak hanya bidang kepariwisataan, melainkan juga industri kreatif dan seni, bidang permesinan dan robotik, juga elektronik dan teknologi tinggi yang sangat bergengsi.

Menyimak apa yang telah dikatakan oleh Einstein

Kalau saya periksa diri dan metode berfikir saya, sampai pada kesimpulan bahwa karunia daya khayal lebih berarti dari pada bakat saya untuk menyerap pengetahuan”.

Hal itu menegaskan bahwa untuk mendapatkan ilmu pengetahuan tidak cukup hanya dengan menggunakan tangan dan kaki atau dengan keterampilan, tetapi juga diperlukan daya khayal yang tinggi, imaginasi. Yaitu melalui perenungan, melihat keterkaitan berbagai variable yang kompleks, membuat kombinasi suatu variable dengan variable lain, membentuk suatu formula pamungkas berguna untuk pemecahan masalah rumit. Namun bukan berarti keterampilan itu tidak penting, keterampilan digunakan untuk mengimplementasikan formula Iptek sehingga menjadi bentuk nyata yang bermanfaat. Tetapi sebaliknya jika hanya dengan daya khayal, maka kita tidak akan  pernah mendapat hasil karya cipta yang baik.

Wright brothers yang menciptakan pesawat terbang karena terinspirasi oleh burung dan dia berkeinginan untuk terbang. Thomas Alfa Edison, seorang anak tuli yang berkhayal ingin membuat lampu pijar, dengan daya khayalnya dia ciptakan lampu pijar walau dengan kegagalan mencapai 2000 kali.

Berbicara daya khayal, imaginasi seseorang ada hubungannya dengan kognitif (analisa), sensorik (panca indera dan motorik), abstraksi (pemahaman abstrak) dan kreativitas. Keempat kemampuan itu dimiliki oleh individu, dan ada kekhasan dimana setiap individu memiliki kemampuan imaginasi yang berbeda. Individu akan sulit untuk mewujudkan khayalannya jika keempat kemampuan tersebut tidak dimiliki. Meskipun individu memiliki kemampuan yang lengkap, untuk mewujudkan sebuah khayalan memerlukan proses yang panjang, dan tidak setiap khayalan akan terwujud dengan baik. Namun perwujudan dari sebuah imaginasi yang berjalan secara alamiah akan menjadi faktor pendorong dan penyemangat bagi individu mencapai daya cipta dan kreasi yang gemilang. Ketika anak ingin menjadi seorang dokter, insinyur, pilot atau menjadi orang kaya, maka hal itu tentu proses yang panjang melalui belajar, berlatih dan harus memiliki motivasi yang tinggi untuk mewujudkannya.

Jika peneliti atau perekayasa memiliki impian membuat produk inovatif, maka dia harus memiliki  imaginasi secara menyeluruh apakah impian itu mempunyai tingkat fisibilitas tinggi, proses perencanaan yang matang dan komprehensif maupun proses teknis untuk mewujudkannya. Peneliti harus mengumpulkan sumberdaya yang dimiliki, termasuk kesiapan teknologi, membentuk organisasi pelaksanaan pekerjaan, mengembangkan partnership serta  mengembangkan management resiko,  mampu membangun kolaborasi dan kelompok kerja yang diperlukan.

Hakekat Kaca Benggala Iptek

Bentuk fisik dari kaca benggala adalah berupa cermin yang tebal dan luas, yang apabila kita berada didepan kaca itu maka kita akan mengetahui wajah kita secara menyeluruh dan sempurna termasuk apabila ada cacat, luka atau terkena penyakit. Dengan kaca benggala, kita tidak kesulitan untuk melihat, mengontrol, menganalisa, memodifikasi atau memperbaiki tentang apa yang kita lihat dengan cepat dan sempurna. Sehingga kaca benggala dapat diartikan sebagai sebuah alat untuk mawas diri, melihat secara menyeluruh tentang apa yang seharusnya kita lakukan. Karena itu ;

Hakekat Kaca Benggala Iptek adalah khayalan untuk diwujudkan menjadi hasil karya cipta melalui sebuah proses kreatif, yang tidak akan ada artinya jika tidak ada manfaatnya bagi masyarakat luas, bangsa dan negara. 

Mengembangkan Iptek pada hakekatnya tidak boleh berhenti dalam ranah pendidikan dan hasilnya ditaruh diperpustakaan dan almari laboratorium, namun semestinya harus dapat dimanfaatkan di masyarakat agar bisa meningkatkan daya saing dan kesejahteraan. Lebih dari  itu,  hasil penelitian dan pengembangan Iptek tidak seharusnya terbatas pada pembuatan prototipe skala  industri saja tetapi juga bagaimana peran SDM peneliti dalam meningkatkan kapasitas produksi, kontribusi ilmu pengetahuan untuk meningkatkan kemungkinan alih teknologi dalam proyek-proyek strategis, juga iptek untuk sektor-sektor yang memiliki potensi pasar tinggi.

Bercermin kepada salah satu ilmuwan paling aktif di masanya, Thomas Alva Edison telah melakukan penelitian sejak tahun 1872 dan sejumlah sekitar 2.332 hasil penemuannya telah dipatenkan di seluruh dunia. Namun, dari ribuan penemuan yang telah dhasilkan, lima di antaranya tercatat menjadi yang paling terkenal sekaligus mampu merubah hidup umat manusia yaitu Fonograf, lampu Pijar, Kinetoskop, alat voting Elektronik dan Mesin Pemisah Biji Besi. Hasil penemuannya banyak digunakan oleh para peneliti menjadi dasar dari penemuan penting lainnya yang secara nyata berperan merubah dan memajukan hidup manusia.

Merefleksi diri di depan kaca benggala Iptek

Banyak kajian, penelitian dan rekayasa yang didorong oleh Perguruan Tinggi dan Lembaga Litbang, dinilai sukses dalam meningkatkan kapasitas sumberdaya manusia. Tidak sedikit para pakar, peneliti dan perekayasa juga sangat menonjol  dalam membuat produk-produk penelitian, bahkan beberapa diantaranya memperoleh paten, hak cipta dan kekayaan intelektual lainnya. Tidak sedikit mahasiswa yang mengawal penelitian dan perekayasaan iptek di laboratorium, juga telah sukses dalam menempuh seluruh mata kuliah jenjang sarjana, master atau doktor, bahkan diantaranya lulus dengan sempurna.

Bercermin penelitian Thomas Alfa Edison, menegaskan kita bahwa dalam mengupayakan agar iptek berperan membangun Indonesia, tidak sedikit hasil penelitian yang gagal dimanfaatkan sebagai faktor pendorong pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Dari fenomena itu kita semestinya tidak boleh turun semangat dan putus asa jika kita ingin kemandirian dibidang Iptek  bisa benar-benar terwujud di bumi pertiwi. Tanpa kemandirian Iptek, maka inovasi tidak akan bisa direalisasi, jika itu terjadi, tidak ada cara kita dapat menghindar dari  Middle Income Trap yang akhir-akhir ini selalu menghantui Indonesia.

Apa yang terjadi di Indonesia?

Sebut saja misalnya, mobil listrik yang waktu itu begitu gencar dikumandangkan menjadi jargon dibidang peralatan transportasi ramah lingkungan kini seolah sudah tertelan bumi. Rekayasa hebat peneliti dalam membuat sejumlah peralatan kesehatan juga mengalami stagnan dan bahkan sejumlah hasil penelitian mengalami kendala terkait dengan uji klinis yang sangat ketat.  Walaupun riset dan pengembangan iptek bidang pertanian dan pangan terus menerus dikembangkan oleh para ahli, namun kenyataannya harga cabe masih tinggi dan belum bisa dikendalikan dengan baik. Ketersediaan beras yang sangat terbatas, Indonesia masih harus impor dari luar negeri, sehingga swasembada pangan belum bisa terwujud. Buah-buahan hasil karya dan budidaya petani lokal masih sangat terbatas, jika kita lihat hampir semua buah-buahan yang dijual adalah buah impor, yang sebenarnya hal itu bisa diproduksi dalam negeri.

Pembangunan Energi juga masih banyak kendala, riset dan pengembangan iptek energi dalam negeri dinilai masih minim, sehingga impian mewujudkan kedaulatan energi juga sulit untuk direalisasi. Hal ini tentu akan berdampak pada kemandirian dibidang industri dan alih teknologi karena maju-mundurnya industri di Indonesia salah satu kendalanya adalah terbatasnya ketersediaan energi. Kemacetan lalulintas yang berdampak pada peningkatan gas rumah kaca menjadi persoalan sendiri di kota-kota besar. Pengelolaan laut yang ramah lingkungan diperlukan untuk menjaga ekosystem sehingga terjadi keseimbangan siklus makhluk yang hidup dan berkembang di laut. Industri selalu mengeluarkan limbah bila tidak ditangani dengan baik, akan menjadi masalah lingkungan yang sangat merugikan bagi kehidupan.

Sejumlah masalah strategis yang terjadi di atas menegaskan bahwa Kaca Benggala Iptek masih diperlukan dalam rangka membangun indonesia yang sejahtera.

Yang harus dilakukan?

Meningkatkan daya saing, kesejahteraan dan peradaban akan berhasil jika kita selalu bercermin pada filosofis dasar tentang bagaimana membangun ilmu pengetahuan dan teknologi. Prinsipnya adalah bahwa hasil penelitian, pengembangan Iptek haruslah bermanfaat bagi masyarakat khususnya dalam bidang sosial dan ekonomi, meningkatkan pertumbuhan, daya saing dan kesejahteraan. Kaca benggala Iptek merupakan salah satu cara merefleksi diri dan melihat secara utuh apakah hasil penelitian dan pengembangan Iptek yang kita lakukan sudah sepenuhnya sesuai kebutuhan dan bermanfaat bagi masyarakat. Di depan kaca Benggala Iptek dapat kita temukan hasil penelitian dan pemikiran kreatif yang telah kita hasilkan dan disana kita bisa melihat kekurangannya hasil penelitian bisa diperbaiki sehingga menjadi sempurna. Sesuatu yang tidak terpisahkan dari Kaca Benggala Iptek adalah bahwa hasil penelitian akan bermakna jika sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memperbaiki kehidupan mereka, termasuk untuk meningkatkan daya saing, kesejahteraan dan peradaban bangsa.

Marilah kita meneliti, mengembangkan dan membangun Indonesia berbasis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat agar Indonesia secepatnya bisa maju, berdaya saing dan sejahtera.. Amin…

oleh: Agus Puji Prasetyono

sumber: http://indonews.id/berita/kaca-benggala-iptek/