Artikel – TabloidPendidikan.Com- Wapres Jusuf Kalla, mengatakan produksi kopi dan kakao di Indonesia lebih rendah dibandingkan Vietnam, Ghana dan Pantai Gading (detikfinance, 23/5/16). Sementara itu, tiga hari sebelumnya pada tanggal 20 mei 2016, Hari Kebangitan Nasional, Menristekdikti telah meresmikan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia menjadi Sains dan Teknologi Kopi dan Kakao  (Coffee and Cocoa Science Techno Park-CCSTP) di Jember, Jawa Timur.

Sesuai dengan tekad pemerintahan Presiden Joko Widodo – Jusuf Kala, akan membangun sejumlah Science dan Technopark (STP) di daerah dengan sarana dan prasarana berteknologi terkini. Ini merupakan cita – cita besar yang perlu didukung penuh oleh berbagai stake holder dan masyarakat, khususnya Pemerintah Daerah setempat. Adanya CCSTP, dapat menjawab permasalahan yang telah disampaikan oleh Wapres – JK, akan merubah peta produksi nasional kopi dan kakao sehingga mampu berdaya saing tinggi  dikawasan regional dan internasional.

Pohon Kakau

PusatPenelitian Kopi danKakao

Mungkin masyarakat di Indonesia, belum semuanya mengetahui bahwa di Indonesia mempunyai Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka). Sejak didirikan pada tanggal 1 Januari 1911 dengan nama Besoekisch Proefstation, menjadikan penelitian kopi dan kakao sudah sangat lama dilakukan di Indonesia,  sehingga layak jika Indonesia menjadi championship di produksi kopi dan kakao di dunia

Terjadinya dualisme menejerial, menimbulkan masalah tersendiri bagi kelembagaan Puslitkoka. Dimana secara fungsional berada di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian Republik Indonesia, sedangkan secara struktural dikelola oleh Lembaga Riset Perkebunan Indonesia – Asosiasi Penelitian Perkebunan Indonesia (LRPI–APPI)

Hal inilah yang menyebabkan terjadinya beberapa kali perubahan nama dan manajemen Puslitkoka. Namun demikian, berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian RI No.786/Kpts/Org/9/1981 tertanggal 20 Oktober 1981, Puslitkoka adalah lembaga non profit yang memperoleh mandat untuk melakukan penelitian dan pengembangan komoditas kopi, kakao dan sebagai penyedia data dan informasi secara nasional.

Upaya peningkatan manajemen internal Puslitkoka terus diupayakan, dimana pada tahun 2008 mendapat akreditasi oleh Kemenristekdikti melalui Lembaga Sertfikasi KNAPPP (Komite Nasional Akreditasi Pranata Penelitiandan Pengembangan dengan Nomor Sertifikat : 006/Kp/KA-KNAPPP/I/2008. Prestasi terus digapai, setelah ditetapkan sebagai Pusat Unggulan Iptek Kakao pada tahun 2013 dan Pusat Unggulan Kopi pada tahun 2014, tahun 2015, Kemenristekdikti kembali menganugerahkan gelar Pusat Unggulan Iptek Kopi dan Kakao kepada Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia. Pencapaian ini, merupakan bukti bahwa Puslitkoka merupakan pranata litbang yang senantiasa berinovasi untuk riset dan pengembangan komoditi kopi dan kakao dalam mendukung program MP3EI (Master plan Percepatandan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia).

Mencermati dan Melilihat darivisi, misi dan dari pengalaman penelitian yang sangat panjang, puslitkoka ini, seharusnya sudah dapat mendorong tercapainya Indonesia menjadi produsen kopi dan kakao nomor satu di dunia. Mengapa demikian ? Karena budaya inovasi teknologi, industri dan senergitas dengan internasional sudah membudaya di seluruh jajaran puslitkoka,

Hal tersebut di atas, didukung oleh sumberdaya manusia yang mumpuni, berjumlah 301 orang, terbagi dalam 3 bidang: (1) Bidang Penelitiandan Pelayanan, (2) Bidang Usaha, dan (3) Bidang Administrasi/Penunjang. Peneliti berjumlah 34 orang, terdiriatas 11 orang berijasah S3, 8 orang berijasah S2, dan 15 orang berijasah S1. Berdasarkanj abatan fungsionalnya dapat dikelompokkan 11 orang Peneliti Utama, 12 orang Peneliti Madya, 1 orang Peneliti Muda, 1 orang Peneliti Pertama, dan 4 orang peneliti non kelas.

KawasanSainsdanTeknologi Kopi &Kakao

Target utama adanya sebuah Science Techno Park (STP) atau Kawasan Sains danTeknologi (KST), yaitu adanya proses penelitian dan pengembangan, proses tumbuh kembangnya perusahaan pemula berbasis teknologi (spin-off) dan proses tumbuh kembang cluster industri kedalam kawasan, sehingga terjadi ekosistem inovasi benar – benar bisa terwujud dengan melibatkan aktor – aktor Quadruple Helix, yaitu: academic, business, government, and community.

Lebih lanjut, keberhasilan pembangunan STP ini harus diikuti adanya implementasi, kesinambungan, kontinuitas, konsistensi, dan komitmen dalam pelaksanaan program hilirisasi iptek lintas sektoral sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan sekaligus perekonomian daerah. Semua halter sebut bukan mustahil untuk diterapkan di Indonesia tergantung dari tingkat sinergitas seluruh aktor yang terlibat di dalamnya

Timbul pertanyaan, apakah Puslitkoka ini layak meningkat menjadi sebuah STP/Kawasan Sains & Teknologi, sesuai yang diharapkan pemerintah ?. Ada beberapa fasilitas yang cukup sebagai prasyarat menjadikan STP, yaitu: (1) Taman eduwisata kopi dan kakao terlengkap di Asia, (2) Plasma nuftah kopi terbesar se-Asia Pasifik, (3) Plasma nutfah kakao terbesar se-Asia, (4) Perpustakaan kopi dan kakako terlengkap se-Indonesia, (5) Pabrik pengolahan hilir kopi dan kakao, dan (6) Unit workshop alat mesin pengolahan dan pertanian.

Ini ditunjang oleh adanya luas kawasan yang sangat memadai, seperti adanya kebun percobaan dan areal kantor seluas 380 ha, terdiri atas kebun percobaan kopi arabika (KP. Andungsari ketinggian 100-1.200 m dpl.), kopi robusta dan kakao (KP. Kaliwining dan KP. Sumber asin ketinggian 45-550 m dpl.).Adanya, laboratorium seluas 2.365 m2 dengan peralatan sejumlah 850 unit. Terdiri dari Laboratorium Pemuliaan Tanaman, Laboratorium Fisika Tanah, Kimia Tanah dan Biologi Tanah, Laboratorium Kultur Jaringan, Laboratorium Mekanisasi Pertanian, Laboratorium Pengolahan Hasil, Laboratorium Pengawasan Mutu, Pusat Informasi dan Pelatihan. Koleksi buku dan majalah di perpustakaan sebanyak 38.706 juduldan 38.983 eksemplar, terdiri atas 7.622 judul artikel tentang kopi, 5.024 judul artikel kakao, dan lebih dari 15.677 judul artikel tentang karet, tembakau, dan tanaman lainnya.

Dari sisi inovasi ipteknya, Puslit kakao telah menghasilkan klon baru tanaman kakao (Theobroma Cacacao L), hasil kultur jarigan dan pemuliaan kakao Sulawes i – 1, yang diberikan nama oleh Menristekdikti, yaitu Monasa dan Hanasa. Monasa dapat menghasilkan buah hingga 4,8 ton per hektar dan Hanasa mencapai 3,2 ton per hektar melebihi kakao Sulawesi – 1 hanya 2,2 ton per hektar. Untuk kopi, telah dilakukan persilangan klon antara klon Quilo yang tahan hama dan klon dari kopi Robusta BP-409 yang rendah tingkat keasamaannya, menjadi “Kopi Super”. Produksi bibit kopi dan kakao terus meningkat, dalam empat tahun terakhir mencapai 70 juta batang. Sementara kinerja terus ditingkatkan, khususnya dalam pengembangan jaringan riset dan bisnis dengan terus memperdayakan petani dan swasta melalui inovasi.

Sementara itu, Menristekdikti dalam salah satu kesempatan kunjungannya ke Puslitkoka, terus mengingatkan perlunya dan pentingnya hilirisasi produk, sehingga tercipta pusat ekonomi baru yang ditandai dengan lahirnya perusahaan pemula berbasis teknologi yang secara berkelanjutan.“Klon-varietas unggul yang telah dihilirkan keseluruh perkebunan kopi dan kakao Indonesia ini harus dikembangkan baik dengan perbanyakan konvensional maupun dengan metode Somatic Embryogenesis (SE). Integras itanaman kopi dan kakao dengan ternak (sapi dan kambing), serta biogas juga perlu dikembangkan di samping memperkuat teknologi pasca panen.

Pengembangan IPTEK merupakan salah satu unsur penting dalam membangun dan memajukan suatu bangsa. Terlebih lagi, persaingan ekonomi membuat berbagai bangsa di dunia berlomba dalam penguasaan teknologi sehingga menjadi bangsa yang yang memiliki daya saing (competitiveness). Dalam konteks global, salah satu upaya yang dilakukan dalam perekonomian berbasis teknologi /  iptek adalah dengan membangun Techno Park / Science Park atau dikenal dengan STP.

Upaya lebih lanjut adalah meningkatkan dan memperkuat sisi kelembagaan Iptek, Puslitkoka. Pemerintah, harus terus mengkaji !. Apakah mungkin menjadi Badan Layanan Umum ? Sehingga pola pengelolaan keuangan yang memberikan fleksibilitas berupa keleluasaan untuk menerapkan praktek – praktek bisnis yang sehat untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Akhirnya, akan mempercepat harapan terjadinya inkubasi di hilir oleh Taman Sain dan Teknologi Kopi dan Kakao tercapai ? Semoga !. [Adi]

Sumber: http://www.tabloidpendidikan.com/sains-dan-teknologi/kebangkitan-kopi-dan-kakao-indonesia-dari-jawa-timur