GRESIK – Kemandirian produk enzim Indonesia semakin meningkat dengan diresmikannya Fasilitas Unit Produksi Enzim BPPT-PT Petrosida Gresik, Jumat (28/4), oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) M. Nasir.

Kebutuhan enzim cenderung meningkat setiap tahunnya, dan di Indonesia sendiri diperkirakan mencapai 2.500 ton dengan nilai impor sekitar 200 Milyar Rupiah pada tahun 2017, dengan laju pertumbuhan volume rata-rata 5-7% per tahun. Suatu nilai yang cukup besar untuk mendorong upaya kemandirian dalam memproduksi enzim nasional.

“Penggunaan enzim akan semakin meluas dan dapat menggantikan peranan bahan-bahan kimia yang selama ini dipakai industri,” ujar Unggul Priyanto selaku Kepala BPPT.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melalui Pusat Teknologi Bioindustri telah berhasil mengembangkan teknologi produksi enzim menggunakan sumberdaya hayati lokal. Dan BPPT bekerjasama dengan PT Petrosida Gresik berhasil mengembangkan teknologi produksi enzim dalam skala komersil. Dengan dukungan Kemenristekdikti, BPPT akan melakukan pendampingan produksi untuk mendorong hilirisasi dan komersialisasi produk enzim.

“Enzim merupakan salah satu produk bioteknologi yang potensial dan akan banyak dimanfaatkan untuk berbagai industri seperti pertanian, pangan, kertas dan pulp, pembersih, lingkungan, dan peningkatan daya guna limbah,” ungkap Nasir dalam sambutannya.

Besar harapan Nasir, Fasilitas Unit Produksi Enzim BPPT-PT Petrosida Gresik ini dapat mengurangi ketergantungan pada impor enzim dalam memenuhi kebutuhan enzim nasional. (FLH/SB)