SIARAN PERS
No.  /SP/HM/BKKP/IX/2016

Jakarta, 16 September 2016

 

Peningkatan kualitas pendidikan tinggi dan pelayanan kesehatan merupakan satu kesatuan yang harus dijalankan secara sinergis. Relevansi kompetensi pendidikan terhadap kebutuhan pelayanan kesehatan sangat penting untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak (krusial & kritis), pembangunan kesehatan bangsa, dan tuntutan globalisasi/daya saing tenaga kesehatan pada era globalisasi.

Untuk itu, sistem pendidikan tinggi kesehatan dan sistem pelayanan kesehatan merupakan sistem dinamik yang harus berinteraksi dengan harmonis agar sistem dapat berjalan dengan sinergis. Berbagai aturan perundangan baru mendorong harmonisasi kebijakan dan proram Kemristekdikti dan Kemkes, diantaranya UU No.20/2013 tentang Pendidikan Kedokteran, UU No.36/2014 tentang Tenaga Kesehatan, UU No.38/2014 tentang Keperawatan, PP No.93/2015 tentang Rumah Sakit Pendidikan, dan RPP tentang Pelaksanaan UU No.20/2013. Untuk itu, perlu mekanisme koordinasi dan konsolidasi yang lebih erat untuk integrasi sistem pendidikan dan pelayanan kesehatan, dimulai dari perencanaan, implementasi, pemantauan, hingga evaluasi yang berkesinambungan dan harmonis.

Penguatan kolaborasi atau kerjasama antar profesi kesehatan yang akan menumbuhkan budaya kolaborasi dalam pelayanan, demi keselamatan pasien perlu ditingkatkan. Kolaborasi tersebut salah satunya diwujudkan melalui Komite Bersama Kemristekdikti dan Kemkes tentang Peningkatan Kualitas Pendidikan, Penelitian, dan Pelayanan Kesehatan yang ditetapkan melalui Kepmenristekdikti No.288/M/KPT/2016. Kekompakan masyarakat profesi kesehatan dengan pemerintah menjadi kunci untuk mengawal misi keberlanjutan program peningkatan kualitas pendidikan, penelitian dan pelayanan kesehatan ini.

 Output Komite Bersama adalah sebagai berikut :

  • Terselesaikannya amanah dari UU dan peraturan perundangan lanjutan yang terkait (termasuk hingga petunjuk teknis)
  • Merintis implementasi aturan baru agar dapat dijalankan dengan baik di lapangan
  • Mengevaluasi dan menganalisis berbagai masalah dan tantangan dalam implementasi dan memberikan rekomendasi solusi
  • Mengembangkan berbagai program di masing-masing kementerian, sebagai upaya menjaga keberlanjutan misi dan outcome dari program Komite Besama.

Menristekdikti, M. Nasir berharap agar anggota Komite Bersama ini dapat menjadi model institusionalisasi kolaborasi lintas sektor yang dapat mengimplementasikan strategi komunikasi efektif dan penguatan stakeholders engagement yaitu bekerjasama dengan mitra secara kompak, mengingat pada akhirnya outcome program perlu dikoordinasikan dengan sektor yang lebih luas, demi mencapai tujuan nasional, Indonesia yang lebih berkualitas.

Di sisi lain, secara khusus Menkes, Nila F Moelek  berharap agar Komite Bersama ini dapat memberikan rekomendasi kebijakan terkait peningkatan kualitas pendidikan tinggi kesehatan, perbaikan strategi distribusi tenaga kesehatan, peningkatan kualitas pelayanan kesehatan dengan mengantisipasi permasalahan kesehatan yang ada, serta mendorong pengembangan riset untuk obat/vaksin/alat kesehatan atau riset yang berbasis di pelayanan kesehatan.

Selanjutnya, dalam rangka sosialisasi program dan penyusunan rencana kerja Komite Bersama, maka Menristekdikti dan Menkes melakukan peluncuran program dan pengukuhan anggota Komite Bersama. Acara ini diharapkan dapat menjadi langkah awal Komite Bersama dalam mengimplementasikan program kolaborasi untuk peningkatan kualitas pendidikan, penelitian dan pelayanan kesehatan di Indonesia.

##