Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) melalui Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Ditjen Belmawa) siap membantu Kementerian Pertahanan dalam mensukseskan program Bela Negara. “Kami welcome akan program ini. Tinggal bagaimana mekanismenya agar rencana ini dapat terlaksana,” tegas Prof. Dr. Intan Ahmad, Direktur Jenderal Belmawa, ketika menerima Kepala Badan Diklat Departemen Pertahanan, Mayjend TNI Hartind Asrin di ruang rapat Ditjen Belmawa, Kamis, (18/2/2016). Pada pertemuan penjajagan kerjasama program bela negara melalui perguruan tinggi, Dirjen Belmawa didampingi Direktur Kemahasiswaan,  Didin Wahidin dan Direktur Pembelajaran Paristiyanti Nurwardani.

Lebih jauh Intan Ahmad berharap program Bela Negara di Perguruan Tinggi mempunyai kelanjutan sehingga konsep Bela Negara dapat terinternalisasi di kalangan mahasiswa. Nantinya, pelatihan Bela Negara bisa dimasukkan dalam kegiatan-kegiatan Kemahasiswaan seperti kokurikuler. Untuk materinya disediakan oleh Kementerian Pertahanan melalui koordinasi dengan Direktorat Jenderal Belmawa. Yang penting, menurut Intan Ahmad, pendekatan bela negara harus soft approach, bukan dengan kekerasan.

Di saat yang sama Kepala Badan Diklat Departemen Pertahanan, menyambut baik kesediaan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi bekerjasama dalam program Bela Negara. Menurutnya, banyak kalangan menganggap program Bela Negara sebagai mobilisasi warga negara untuk diberi pelatihan militer sehingga menjadi komponen cadangan untuk pertahanan nasional. “Saya tegaskan tanggapan ini keliru. Program Bela Negara bukan merupakan upaya memobilisir warna negara untuk bersifat militeristik, namun program ini merupakan salah satu upaya mewujudkan Revolusi Mental,” tegas Mayjend Hartind Asrin.

Lebih jauh Mayjend TNI Hartind Asrin menegaskan bahwa program Bela Negara merupakan sikap perilaku untuk cinta tanah air. Garis besar konsep Bela Negara adalah upaya menumbuhkan dan memantapkan kesadaran berbangsa terhadap berbagai ancaman multidimensi termasuk untuk menghindari separatisme di Indonesia. Baginya, ada lima unsur dasar Bela Negara yaitu: 1). Cinta tanah air, 2). Kesadaran berbangsa dan bernegara, 3). Yakin akan Pancasila sebagai ideologi Negara, 4) Rela berkorban untuk bangsa dan Negara dan 5) memiliki kemampuan awal bela Negara.

Kelima unsur ini akan terinternalisasi dalam program Bela Negara, melalui berbagai pelatihan dan kegiatan. Sehingga diharapkan akan lahir seratus juta kader pembina kader Bela Negara ataupun kader muda Bela Negara. Para pemuda khususnya mahasiswa sangat potensial menjadi kader bela Negara, ujar Mayjend Hartind Asrin.

Didin Wahidin, Direktur Kemahasiswaan menambahkan perlu ada satu pendekatan bahwa Bela Negara itu merupakan ibadah. Sehingga, pelatihan Bela Negara bukan tujuan akhir, namun berujung pada ibadah. Untuk keberlanjutan program Bela Negara, Didin Wahidin mengusulkan perlu ada koordinasi sekali sebulan antar Ditjend Belmawa dan Kementerian Pertahanan dalam mensukseskan program Bela Negara di perguruan tinggi.

Sementara itu, Paristiyanti Nurwardani, Direktur Pembelajaran menjelaskan bahwa konten Bela Negara nantinya akan dimasukkan dalam jaringan online (Daring) Pendidikan Jarak Jauh. Untuk stadium general-nya, akan diundang Kementerian Pertahanan ataupun Wakil Rektor kemahasisaan.

“Direktorat Pembelajaran mempunyai program Sarjana Mengajar di Daerah Terluar, Tertinggal dan Terdepan (SM-3T). Materi pelatihan Bela Negara sangat relevan diberikan kepada lulusan SM3T sebagai bekal mereka saat bertugas di daerah terluar, tertinggal dan terdepan (3T),” ungkap Paristiyanti.

Di akhir pertemuan, Mayjend Hartind Asrin memperkenalkan yel-yel Bela Negara kepada Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan dan jajarannya. Seraya mengepalkan tangan di dada, peserta pertemuan berteriak dengan semangat…. Bela Negara!!!!! (Henri/editor: L4)