Jakarta – Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, M. Nasir menerima kunjungan Menteri Pendidikan, Urusan Masyarakat Aborigin, Urusan Pemilihan, Australia Barat, Peter Collier MLC (04/05).

Menteri Collier membawa delegasi yang terdiri dari rektor dan wakil rektor dari lima universitas besar di Australia Barat (The University of Notre Dame Australia, The University of Western Australia, Murdoch University, Curtin University dan Edith Cowan University), serta penasehat Menteri. Total delegasi adalah 14 orang. Maksud kunjungan ini adalah untuk mengembangkan dan meningkatkan kerja sama di bidang pendidikan tinggi.

“Sebagaimana diketahui bahwa jumlah mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Australia Barat cukup signifikan,” ujar Menteri Collier, mengawali sambutannya.

Delegasi didampingi oleh Duta Besar Australia untuk Indonesia, Paul Grigson dan Konselor bidang Pendidikan dan Sains, Astrida Upitis.

Menteri Nasir mengapresiasi kerja sama yang telah berjalan. Namun, lebih lanjut dikatakan bahwa kerja sama ini perlu ditingkatkan lagi, terutama dalam bidang riset. Dalam kesempatan yang sama, Menteri Nasir juga kembali menyatakan concern Pemerintah Indonesia tentang mahalnya biaya kuliah di Australia dan besarannya yang bisa berubah setiap tahun.

“Hal ini cukup memberatkan pengaturan pemberian beasiswa, karena di Indonesia besaran biaya kuliah ini bersifat tetap sampai mahasiswa tersebut lulus,” ujarnya.

Menanggapi hal itu, para rektor dari Australia Barat akan melakukan koordinasi bersama dan menyampaikan hasil rekomendasinya kepada Indonesia.
Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti, Ali Ghufron, juga turut menyampaikan beberapa usulan kerja sama, diantaranya adalah (i) co-sharing funding untuk program doktor, 3+1 (3 tahun biaya dari pemerintah Indonesia, dan 1 tahun dari pemerintah Asutralia), (ii) pelatihan untuk registered nurse dan (iii) program mengundang profesor dari universitas luar negeri untuk mengajar dan memberikan bantuan akademik di Indonesia.

Menyambung usulan tersebut, Direktur Riset dan Pengabdian Masyarakat, Ocky Karna Radjasa memberikan gambaran tentang empat klaster perguruan tinggi di Indonesia berdasarkan kemampuan risetnya, yaitu (i) Mandiri, (ii) Utama, (iii) Madya dan (iv) Binaan.

“Pembagian berdasarkan klaster ini kiranya dapat menjadi referensi bagi Universitas di Australia dalam melakukan kerja sama,” ujar Ocky.

Lebih lanjut Ocky juga menjelaskan tentang kerja sama antara Indonesia dan Australia dalam kerangka Australia Indonesia Center (AIC). Ocky berharap agar ke depan akan ada kerja sama dalam payung bilateral dalam bidang riset yang dapat mendongkrak jumlah publikasi internasional para peneliti Indonesia.

“Pemerintah Indonesia akan sangat mendukung kerja sama internasional. Dan tahun 2017 nanti, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi akan mempunyai program International Integrated Collaboration yang akan dijadikan salah satu bentuk dukungan program bagi para peneliti dan akademisi dalam melakukan kerja sama riset internasional,”ujarnya.

Dubes Grigson menyambut baik tawaran tersebut dan akan mensinergikan dengan Program Knowledge Sector Initiative yang telah berjalan.
Sebelum mengakhiri pertemuan, Menteri Nasir mengingatkan pelaksanaan the 2nd Joint Working Group on Science, Technology and Higher Education yang dijadwalkan pada semester kedua 2016 kiranya dapat dijadikan platform bagi implementasi seluruh program bilateral kedua Negara.

Turut mendampingi Menteri Nasir pada pertemuan ini adalah Staf Khusus Menteri, Abdul Wahid Maktub; Staf Ahli Menteri Bidang Akademik, Paulina Pannen; dan Kepala Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik, Nada Marsudi. (ts/bkkp)

Galeri