SIARAN PERS

No. 06/SP/HM/BKKP/I/2017

Yogyakarta, 30 Januari 2017

Tidak mudah menjalankan inovasi karena harus sampai pada tahap pemasaran dan penggunaan di masyarakat. Hal tersebut diungkap Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Kemenristekdikti, Jumain Appe pada Rakernas Kemenristekdikti 2017 di Universitas Gadjah Mada, Yogayakarta, Senin, 30 Januari 2017.

Jumain menyebutkan terbesit pemikiran bahwa Tridharma Perguruan Tingggi khususnya pilar pengabdian pada masyarakat ditransformasikan menjadi inovasi bagi masyarakat. Bagaimana memanfaatkan inovasi dan sumber daya manusia yang terampil dan profesional untuk mendorong daya saing menjadi hal yang sangat penting.

“Inovasi sudah sering dilakukan namun umumnya masih skala kecil.
Belum pernah sampai pada industri besar misalnya meningkatkan inovasi di industri pertanian yang mampu mendukung sektor pembangunan ke depan,” ujarnya.

Sinergi antar lembaga litbang, perguruan tinggi, dan industri harus diintermediasi. Hal ini yang kini sedang digalakkan oleh Kemenristekdikti.

“Kami mencoba membuat model-model untuk mendorong inovasi, yang pertama bagaimana mengembangkan start up, lalu meningkatkan inovasi di industri dan ketiga kebijakan-kebijakan yang mendukung,” imbuh Jumain.

Terkait peningkatan sinergi antara universitas dan industri, lebih dari 200 program dari LPNK (BPPT, LIPI, BATAN, BAPETEN, LAPAN, BSN) ditawarkan ke universitas di seluruh Indonesia. Bukan hanya dalam bentuk program tapi juga personal penelitinya sendiri dapat ditawarkan dan bersedia menjadi pengajar. Semua lembaga juga menawarkan fasilitas riset bagi para mahasiswa S2 dan S3. Tawaran lainnya juga termasuk implementasi riset untuk bahan baku obat.

Proses yang bisa dilakukan guna mendorong inovasi juga termasuk intermediasi di perguruan tinggi dalam berbagai ruang lingkup. Ruang lingkup lembaga intermediasi di perguruan tinggi diantaranya untuk audit teknologi, kekayaan intelektual, pembelajaran berorientasi industri, perubahan angka kredit dosen, mobilitas dosen ke industri, pelayanan jasa ilmu pengetahuan dan teknologi, lisensi, inkubasi, publikasi, sertifikasi, dan standardisasi.

Oleh karena itu guna melancarkan proses sinergitas dan intermediasi tersebut, Menristekdikti, Mohamad Nasir, telah menyarankan agar pertemuan antara LPNK dan perguruan tinggi dilakukan secara rutin.

##