Tanaman sikas sebagai tanaman hias yang dapat dikategorikan tanaman langka ini memiliki harga fantastis untuk setiap pohonnya yakni sekira Rp 2 juta hingga Rp 5 juta. Kehadiran hama pendatang baru A. yasumatsui banyak menimbulkan kerusakan berat pada pohon sikas, khususnya C.revoluta. Serangan kutu yang terus-menerus menghambat pertumbuhan tanaman bahkan menyebabkan kematian pohon sikas.

Hama penyerang tumbuhan Sikas ini pertama kali di temukan di dunia tahun 1977 yaitu kutu aulacaspis sikas (KAS), Aulacaspis yasumatsui Takagi (Hemiptera: Diaspididae), sedangkan di Bogor KAS pertama kali ditemukan pada akhir tahun 2011, dan menyebabkan kerusakan berat pada Cycas revoluta. Serangan berat yang terus-menerus dapat menyebabkan kematian tanaman dalam rentang waktu 2-3 bulan.

Pada keadaan serangan ringan, proporsi kutu betina lebih banyak daripada jantan. Musuh alami yang umum ditemukan adalah parasitoid Arrhenophagus chionaspidis Aurivillius (Hymenoptera: Encyrtidae) dan Signiphora bifasciata Ashmead (Hymenoptera: Signiphoridae).

Penelitian ini dilakukan oleh mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) Ridwan Sufyana Yusuf, dari Departeman Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian (Faperta). Ia melakukan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana populasi dan tingkat serangan KAS di Bogor. Selain itu Ridwan juga melakukan pengumpulan data terkait musuh alami KAS serta penyebarannya di Indonesia.

Peran A. chionaspidis sebagai musuh alami dalam menekan populasi KAS diperkirakan sangat terbatas karena hanya menjadi parasit bagi kutu jantan, dan pada saat yang bersamaan S. Bifasciata menurunkan populasinya karena bersifat sebagai hiperparasitoid. Musuh alami lain yang ditemukan adalah kumbang predator Cybocephalus nipponicusEndrody-Younga (Coleoptera: Cybocephalidae).

Hingga saat ini, A. yasumatsui ditemukan menginfestasi tanaman di beberapa tempat di Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, Jawa Tengah dan Sulawesi Utara. Upaya pencegahan perlu dilakukan agar hama ini tidak menyebar lebih luas ke wilayah lainnya Indonesia. Biasanya pemberian insektisida adalah solusi yang dilakukan oleh masyarakat. Namun ternyata insektisida tersebut bersifat racun lambung dan racun kontak. Insektisida racun lambung hanya efektif terhadap hama defoliator, yaitu pelahap daun.

Insektisida racun lambung kurang efektif karena KAS merupakan hama pengisap daun. KAS juga termasuk hama yang sulit dikendalikan dengan racun kontak karena tubuhnya yang ditutupi lapisan perisai. Namun begitu, insektisida ini cukup ampuh dalam membunuh crawler KAS yang belum memiliki lapisan perisai. Sehingga, untuk menghambat perkembangan populasi KAS, pengendalian dini perlu dilakukan dengan menyikat atau memangkas daun yang terserang.(SM)