Tahukah Anda? Pada tahun 1927, Ir. Soekarno membangun lebih dulu teori politiknya. Dan, agar teori politik itu dapat cocok dengan keadaan Indonesia dan bisa menjawab persoalan rakyatnya, ia melakukan riset.

Kenapa? Itulah embrio dasar kenapa riset perlu dilakukan, yaitu untuk menjawab segala permasalahan yang terjadi disekitar manusia. Dalam skala yang lebih luas ketika manusia mencoba untuk memimpin para manusia lainnya, yaitu dari individualistik, berkumpul, lalu bersepakat, kemudian  berkelompok hingga menjadi sebuah bangsa yang besar. Keunggulan dan kekuatan sebuah bangsa “sangat bodoh” jika hanya di lihat dari kekuatan armada militernya, namun akan lebih terhormat ketika sebuah bangsa mampu menjawab semua masalahnya dengan benar, yang secara otomatis membuka ruang kepada bangsa lain untuk bertanya bagaimana bangsa itu sedemikian hebatnya.

Benar apa yang dikatakan Einstein,

“JIKA KITA MENGETAHUI APA YANG HARUS DILAKUKAN, MAKA TIDAK AKAN ADA RISET”.

Einstein sangat percaya pada intuisi dan inspirasi, baginya Imajinasi lebih penting daripada pengetahuan yang sifatnya terbatas, sedangkan imajinasi memiliki kekuatan yang tinggi sehingga mampu merangkul dunia, mendorong kemajuan dan melahirkan evolusi. Prinsip ketegasan inilah yang menjadi faktor nyata dalam melakukan penelitian ilmiah. Sejak saat itu riset dan pengembangan menjadi penting dan berkembang untuk menjawab fenomena yang tersembunyi di jagad raya.

Saat ini riset dan pengembangan memiliki peran yang sangat penting bagi suatu Negara, tidak ada bangsa yang maju dunia ini yang tidak memiliki riset dan pengembangan yang kuat. Negara-negara maju mengalokasikan anggaran cukup besar untuk sektor ini. Dalam Kacamata Negara maju, menunjukkan bahwa hasil yang dicapai dalam pengembangan dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) tidak pernah berdiri sendiri. Fenomena tersebut merupakan resultan dari kemampuan suatu bangsa dalam menumbuhkan sistem ekonomi dan sosial-kemasyarakatan, yang memungkinkan untuk membentuk fondasi dan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan kecerdasan dan kreativitas.

Secara sistematis Fellin (1996) menjelaskan bahwa pengembangan, peningkatan, maupun modifikasi dari Ilmu pengetahuan dan teknologi adalah mutlak dilakukan dan diuji oleh para pakar dan peneliti. Sistematika yang dimaksud adalah serangkaian kegiatan untuk menyelesaikan masalah dan mengembangkan pengetahuan yang bersifat Ilmiah maupun non ilmiah.

Berbicara tentang kenapa riset menjadi sangat penting tidak hanya untuk perseorangan, namun lebih luas lagi bagi keutuhan suatu bangsa. Sang pemalas akan berkata untuk apa membuat jika dapat dibeli?. Hal itu akan berbeda dengan jika manusia yang tidak pernah berhenti bertanya kenapa pesawat bisa terbang dan kenapa kapal bisa berlayar di atas lautan, bagaimana berkomunikasi tanpa bertatap, dan ketika sang pemimpin mulai resah bagaimana rakyat tidak ada lagi yang miskin?. Jawaban yang paling tepat atas seluruh pertanyaan tersebut adalah pentingnya riset dan pengembangan Iptek untuk pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Setidaknya Lean Zarrah telah mengingatkan bahwa ada 5 (lima) alasan yang sangat penting kenapa riset sangat dibutuhkan bagi Indonesia:

Pertama, riset merupakan alat untuk membangun pengetahuan (a Tool for Building Knowledge), lebih jauh bagaimana sebuah bangsa dalam mengembangkan product (benda) dan berbagai jenis pelayanan. Peran negara sangat dibutuhkan dalam melakukan kontrol  penuh atas nama undang undang agar perusahaan dapat berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan (R&D), karena ini merupakan peran penting dalam merealisasikan inovasi. Penelitian dan pengembangan akan mengamankan sudut pandang atas pesaing. Hanya dengan riset Negara dapat mencari tahu bagaimana untuk membuat sesuatu terjadi dan apa yang bisa membedakan mereka dari jenis benda yang serupa sehingga dapat meningkatkan nilai pasar bagi perusahaan. Selain dari itu Negara membantu perusahaan dalam negeri dalam meningkatkan citra komersial seperti membantu meningkatkan produktivitas dan profitabilitas.

Kedua, riset merupakan cara untuk memahami berbagai masalah (means to Understand Various Issues). Seperti apa yang dikatakan Terry Freedman (2011) “Penelitian dapat menjelaskan masalah yang kita bahkan tidak tahu ada, dan dapat menimbulkan pertanyaan yang seharusnya tidak ditanyakan”.

Ketiga, riset adalah jalan untuk membuktikan kebohongan dan mendukung kebenaran (a Way to Prove Lies and to Support Truths). Ilmu lahir karena manusia diberkahi Tuhan suatu sifat ingin tahu. Keingin-tahuan seseorang terhadap permasalahan di sekelilingnya dapat menjurus kepada keingintahuan ilmiah. Manusia juga dibekali akal pikiran guna menjawab rasa keingin-tahuan dan masalah yang terjadi dalam kehidupannya di dunia. Sehingga konsep antara ilmu dan berpikir adalah sama. Dalam memecahkan masalah, keduanya dimulai dari adanya rasa sangsi dan kebutuhan akan suatu hal yang bersifat umum. Kemudian timbul suatu pertanyaan yang khas, dan selanjutnya dipilih suatu pemecahan tentatif untuk penyelidikan

Keempat, riset merupakan sebuah benih untuk cinta membaca, menulis, menganalisis, dan berbagi Informasi yang berharga (a Seed to Love Reading, Writing, Analyzing, and Sharing Valuable Information). Penelitian mengharuskan membaca dan menulis, dua fungsi keaksaraan inilah yang membantu mengaktifkan perhitungan dan pemahaman. Tanpa keterampilan ini, sangat kecil kemungkinan bagi siapa saja untuk menghargai dan terlibat dalam penelitian. Membaca membuka pikiran untuk cakrawala yang luas dalam memahami pengetahuan, sementara menulis membantu pembaca menggunakan perspektif sendiri dan mengubah nya menjadi sebuah ide yang lebih konkret dan dimengerti.

Kelima, riset merupakan kebutuhan dan latihan utama untuk pikiran (nourishment and Exercise for the Mind). The College Admissions Partners mencatat bagaimana penelitian ilmiah secara khusus membantu pelajar mengembangkan keterampilan penalaran kritis untuk setiap bidang pendidikan yang lebih tinggi, proses pencarian tersebut (proses berpikir) adalah makanan bagi otak, yang memungkinkan kreativitas dan logika agar tetap aktif. Hal ini juga membantu mencegah penyakit mental seperti Alzheimer. Melakukan penelitian mendorong orang untuk mengeksplorasi kemungkinan, untuk memahami isu-isu yang ada, dan untuk mengungkapkan kebenaran yang dibuat. Tanpa penelitian, kemajuan teknologi dan perkembangan lainnya bisa tetap sebagai fantasi. Membaca, menulis, mengamati, menganalisis, dan berinteraksi dengan orang lain memfasilitasi pencarian pikiran yang ingin tahu untuk pengetahuan, selain dari itu penelitian berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan tersebut.

Apakah Negara tidak lagi membutuhkan Riset?

Suatu rencana investasi perlu dianalisis secara seksama. Analisis rencana investasi pada dasarnya merupakan penelitian tentang dapat tidaknya suatu proyek dapat dilaksanakan dengan berhasil, dimulai dari metode penjajakkan dari suatu gagasan usaha/bisnis tentang kemungkinan layak atau tidaknya gagasan usaha/bisnis tersebut dilaksanakan. Suatu proyek investasi umumnya memerlukan dana yang besar. Riset memerlukan investasi yang sangat besar yang hanya dapat dilaksanakan dengan dukungan penuh pemerintah, missing puzzle yang harus segera dilakukan adalah menetapkan fokus riset yang jelas dan terarah, tanpa itu dapat dikatakan bahwa Negara memang mungkin tidak membutuhkan riset saat ini.

Investasi riset akan berjangka waktu lama dengan harapan mendapatkan keuntungan di masa-masa yang akan datang. Dalam beberapa teori ekonomi, investasi berarti pembelian dari modal barang yang tidak dikonsumsi tetapi digunakan untuk produksi di masa yang akan datang, berdampak pada kehidupan dan kesejahteran rakyat banyak. Atas dasar inilah penguatan peran dan kelembagaan pemerintah sangat penting untuk mendukung keberhasilan kebijakan investasi di bidang riset.

Dongeng masa lalu riset di Indonesia terkesan ada tekanan dari Negara lain agar Indonesia lebih baik menjadi Negara “konsumen ketimbang “produsen seakan seperti “hantu” untuk menakuti anak kecil agar tidak bermain di malam hari. Namun kenyataannya Negara membutuhkan investasi besar untuk riset jika harus dijalankan mulai dari hulu, namun hal itu bukan tanpa solusi.

BJ Habibie mengatakan bahwa riset tidak selalu dimulai dari hulu, riset dapat dilakukan “mulai dari akhir dan berakhir di awal”.

Karena itu pilihan riset selanjutnya dapat dilakukan melalui “reverse engineering”. Tidak hanya itu, banyak Perusahaan kecil Pemula berbasis Teknologi (PPBT) yang memiliki berbagai patent dan lisensi yang ada di luar negeri, dapat diakuisisi oleh pemerintah menjadi pendorong pembangunan ekonomi, tentu harus dipilih perusahaan yang selaras dengan arah kebijakan dan fokus pembangunan.

Pertanyaan selanjutnya adalah kenapa Negara tidak membeli lisensi, alih teknologi atau kerjasama dengan negara lain  yang  memiliki hasil riset yang siap untuk dihilirisasikan di Indonesia, atau bahkan mengakuisisi PPBT luar negeri, bukankah itu lebih efisien dan aman?. Ada banyak riset dan perusahaan kecil pemula berbasis teknologi di dunia yang relevan terhadap pembangunan untuk kemandirian di Indonesia, paling tidak bisa menjadi pertimbangan jika pola tata kelola riset dimulai dengan cara ini.

Di sisi lain, Pemerintah menargetkan 10,7 juta lapangan kerja baru, serta menurunkan tingkat kemiskinan menjadi sekitar 8-10% pada akhir tahun 2014. target itu tentu dapat tercapai asalkan setiap tahunnya perekonomian meningkat 30% lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Untuk mengakselerasi hal itu, pemerintah fokus pada tiga hal, yaitu ekspor, investasi pemerintah dan publik, serta konsumsi yang memihak penciptaan lapangan kerja. Meskipun hasilnya belum begitu kelihatan, tetapi geliat itu sudah dibuktikan melalui beberapa capian pembangunan infrastruktur. Secara otomatis akan menyedot investasi asing ke negara kita, yang berarti semakin banyak produk yang dibuat dan dipasarkan, maka negara memiliki devisa untuk dapat meningkatkan investasi riset. Meskipun negara telah di-supply dengan berbagai produk hasil riset dari luar untuk diindustrialisasi di Indonesia, tetapi kita memiliki potensi anggaran yang dapat digunakan untuk mengakselerasi riset bagi kemandirian di masa yang akan datang.

Bukan tanpa alasan jika Anggaran Riset di Indonesia sangat kecil (0,09% GDP), kenapa?. Berbagai kemungkinan bisa terjadi, diantaranya karena kegiatan riset memang tidak memiliki fokus yang jelas dan memerlukan investasi yang sangat besar untuk mencapai target goal yang ditetapkan, apalagi jika harus dimulai dari hulu. Jadi wajar saja jika ada pemangkasan anggaran karena anggapan negara terhadap riset di Indonesia adalah kegiatan investasi tanpa ada peningkatan capaian outputyang bermanfaat.  Selain itu, mungkin karena tidak memiliki analisis rencana investasi riset, yaitu penelitian tentang dapat tidaknya suatu kegiatan (baik besar atau kecil), atau karena ada tidaknya studi kelayakan tentang arah kebijakan dan kegiatan riset serta inovasi dapat dilaksanakan.

Apa yang harus dilakukan?

Riset memang memerlukan dana yang besar, namun bagi negara yang ingin mensejahterakan masyarakatnya, ingin berdiri kokoh di antara bangsa-bangsa lain, ingin berdaulat dalam politik dan pembangunan ekonomi, ingin menjadi negara yang berkepribadian dan maju, tidak ada kata“menyerah”, kita bisa menjadi negara maju dan menjadi “Top Seven Country in the World, in 2045” jika mampu melakukan perencanaan investasi riset secara komprehensif, terintegrasi dan terstruktur dalam jangka panjang. Potensi sumberdaya manusia peneliti, perekayasa dan akademisi yang berkompetensi tinggi, kreatif dan tahan malang menambah keyakinan terhadap keberhasilan kemandirian pembangunan jika dan hanya jika didukung oleh dana riset dalam jumlah yang memadai. Reverse Engineering, Pola Lisensi, Joint Riset dan bahkan akuisisi Perusahaan pemula berbasis Teknologi yang selaras dengan pembangunan menjadi pilihan tepat yang bisa mendorong hilirisasi, pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Oleh: Agus Puji Prasetyono, Staf Ahli Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi bidang Relevansi dan Produktivitas.

Sumber: http://www.wargapeduli.com/2016/09/me-reformasi-arah-kebijakan-dan-tata-kelola-riset-di-indonesia/