img_8355-kcl-1200x800

Aktivitas riset seringkali hanya dikonsumsi oleh sumber daya dari pendidikan tinggi yang kemudian membentuk kelompok minoritas bernama peneliti. Kelompok inilah yang kemudian berkembang seiring dengan lahirnya teori invensi, difusi hingga inovasi berbasis aplikasi modernitas teknologi.

Sistematika dan intensivitas siset dipercaya mengandung nilai kebenaran yang sangat tinggi, yang dilakukan berlandaskan pada analisis serta konstruksi yang dilaksanakan secara sistematis, metodologis dan konsisten.

Riset bertujuan untuk mengungkapkan kebenaran yang bisa digunakan sebagai sebuah manifestasi hasrat manusia untuk bisa mengetahui apapun yang akan dihadapi di dalam kehidupan, sebagai sarana bagi ilmu pengetahuan tertentu untuk kemudian dikembangkan dengan ilmu pengetahuan lainnya.

Sejak masih berstatus ‘anak’, manusia dibekali hasrat ingin tahu. Dari hasrat ini , muncul berbagai macam pertanyaan. Sebagai akibatnya, anak berusaha mencari jawaban atas pertanyaan yang muncul. Hasrat ingin tahu tersebut akan terpenuhi jika mereka memperoleh pengetahuan baru atau mampu memecahkan masalahnya.

Kristalisasi terhadap makna dari penalaran ini oleh John Dewey teridentifikasi dengan timbulnya rasa kesulitan, dalam bentuk penyesuaian terhadap suatu peralatan, kesulitan mengenai sifat, ataupun kesulitan dalam menerangkan berbagai hal yang muncul secara tiba-tiba.

Kesulitan inilah yang didefinisikan sebagai permasalahan. Ide dari pemecahan tersebut diuraikan secara rasional dengan jalan mengumpulkan bukti atau data yang diperkuat dan disimpulkan melalui keterangan maupun percobaan.

Saat mendidik anak-anak, Montessori mengingatkan mereka adalah individu yang unik dan akan berkembang sesuai dengan kemampuan mereka sendiri. Tugas pendidik adalah memberikan sarana, dorongan belajar dan memfasilitasinya saat mereka dinyatakan siap mempelajari sesuatu.

Tahun-tahun pertama kehidupan anak merupakan masa-masa yang sangat baik untuk suatu formasio (pembentukan). Masa inilah yang paling penting dalam masa perkembangan anak, baik secara fisik, mental maupun spritual. Akan sangat baik dan tepat bagi setiap orang tua dan pendidik untuk terlibat penuh pada proses pembentukan ini. Yakni mengetahui dan memahami perkembangan anak sejak usia dini.

Ironisnya, para pendidik di Indonesia belum memiliki based line data holistik yang menginformasikan perkembangan perilaku dan kesulitan belajar anak terhadap berbagai sub kompetensi materi yang tergolong sulit. Informasi ini sangat diperlukan untuk menyiapkan treatment berjenjang sesuai perkembangan anak sejak usia dini hingga  dewasa.

Pervasionitas riset sejak usia dini menjadi relevan untuk diterapkan guna mengenalkan anak sejak dini pada lingkungan di sekitarnya, suara-suara, benda-benda, dan penanaman nilai komunikasi nyata agar mereka berkembang menjadi anak yang normal dan sehat.

Retreatisme Riset Sejak Dini

Retreatisme riset sejak dini merupakan upaya untuk mengisi gap di tiap jenjang pendidikan. Pendidikan anak usia dini dipercaya sebagai investasi besar bagi keluarga, dan negara. Sebab, anak-anak inilah yang kelak membangun Indonesia menjadi bangsa yang maju. Masa depan bangsa ini sangat ditentukan oleh pendidikan yang diberikan kepada anak-anak kita di masa sekarang.

Para peneliti membuktikan, 50% kemampuan belajar manusia ditentukan dalam empat tahun pertama dan seseorang membentuk 30% yang lain sebelum mencapai usia delapan tahun. Ini tidak berarti bahwa seseorang menyerap 50% pengetahuan, 50% kebijaksanaan, atau 50% kecerdasan pada ulang tahun yang ke-4. Artinya, pada tahun pertama, seseorang membentuk jalur belajar utama di dalam otak dan menyerap sejumlah informasi dalam empat tahun pertama. Dengan demikian, seluruh pembelajaran berikutnya akan terbentuk dari dasar tersebut.

Anak usia dini memiliki karakteristik yang khas baik secara fisik, psikis, sosial, dan moral. Inilah masa paling penting di sepanjang hidupnya, masa pembentukan pondasi dan dasar kepribadian yang akan menentukan pengalamannya.

Retreatisme riset sejak usia dini adalah mengaplikasikan ilmu atau pengetahuan yang diterapkan pada penciptaan barang yang diperlukan, dimana teknologi juga bisa disebut aplikasi dari prinsip prinsip keilmuan sehingga menghasilkan sesuatu yang berarti bagi kehidupan manusia.

Prinsip ini dapat dipervasionitasikan dalam bentuk penggunaan teknologi yang mampu memengaruhi perkembangan kognitif guna merangsang anak terus belajar menemukan (how to discover) dalam memanipulasi objek yang dipelajari. Contoh sederhananya adalah dengan melihat, merasakan, mencium, dan mendengar menggunakan perangkat teknologi maupun secara sosioteknologi.

Melalui aplikasi inilah ilmu menemukan arti sosialnya dan bukan demi kepuasan intelektual ilmu semata. Dalam telaah lebih dalam, bukan hanya teknologi yang menggantungkan diri kepada penemuan sains namun perkembangan sains mengikuti irama perkembangan teknologi.

Menemukan gap

Pendidikan usia dini berfungsi menumbuhkembangkan seluruh potensi anak secara optimal sehingga terbentuk perilaku dan kemampuan dasar agar siap memasuki pendidikan lanjutan. Studi berjudul Digital Citizenship Safety among Children and Adolescents in Indonesia (Keamanan Penggunaan Media Digital pada Anak dan Remaja di Indonesia) menyebut, setidaknya ada 30 juta anak-anak dan remaja di Indonesia yang menjadi pengguna internet dan media digital.

Studi tersebut juga menemukan, dari 80% pengguna internet yang disurvei, terdapat kesenjangan digital yang kuat antara mereka yang tinggal di wilayah perkotaan dan lebih sejahtera dengan mereka yang tinggal di daerah perdesaan dan kurang sejahtera. Jika kesenjangan ini tidak diwadahi dengan model pervasionitas riset sejak dini dikhawatirkan akan mendorong generasi belia Indonesia terjebak efek negatif dari pemakaian teknologi.

Berangkat dari fenomena itulah, pembangunan di masa depan harus bisa menciptakan manusia tangguh yang mampu mengatasi perubahan, tanggap terhadap risiko maupun tahan terhadap kejutan kejutan. Pertumbuhan ekonomi inklusif yang berkontribusi terhadap lingkungan diharapkan mampu menguatkan kembali jiwa gotong royong serta bermanfaat bagi pembangunan ekonomi lokal dan lahirnya budaya dan perilaku saling memakmurkan.

Kesemua nilai dan norma tersebut harus terintegrasi di dalam suatu wadah soft technology berwujud technopark yang dapat diaplikasikan pada level pendidikan usia dini. Efek negatif dari sebuah teknologi harus dapat dikurangi atau bahkan dihilangkan dari anak anak sejak dini, dengan pendampingan guru ahli di dalam proses belajar mengajar di level usia dini.

Pengalaman internasional telah menghasilkan beberapa konsep mekanisme yang efektif untuk meningkatkan inovasi di pasar teknologi tinggi melalui penciptaan zona technopark baik dari sisi hard technology maupun pendampingan soft technology-nya.

Pengembangan aspek metodologis teknologi pendidikan dan technopark di jenjang pendidikan dini harus memajukan peradaban yang positif di tiap jaringan anak berbasiskan nilai kemanusiaan, ilmu pengetahuan, tenaga kerja, budaya, komunikasi, produksi, ekonomi, gaya hidup dan lain-lain.

Ke depan, technopark harus fokus pada perbaikan terus-menerus pada proses pendidikan yang menggunakan alat dan teknologi baru. Penciptaan dan pengembangan jaringan antara proses belajar nyata dapat  dikombinasikan dengan sekolah berbasis digital sebagai pusat informasi asimetris yang berdasarkan pada infrastruktur yang telah disediakan oleh pemerintah maupun dari konsep tradisional yang belum dapat  tergantikan. Upaya mencapai efektivitas teknologi pendidikan dengan cara memenuhi kebutuhan informasi dapat terus dilakukan melalui pemanfaatan dan pendampingan di dalam wadah technopark yang berbasis pada teknologi komputer dan internet sehingga memiliki sistem perlindungan anak dari informasi yang merusak moral di lingkungan pendidikan.

Penulis adalah Staf Ahli Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Bidang Relevansi dan Produktivitas.