“Apriori” ibukota merupakan intuisi dari sebuah kecintaan yang sangat mendalam terhadap ke-bhineka-an Indonesia. Berbagai perbedaan budaya yang diakibatkan oleh luas bentang geografis Bumi Nusantara telah secara nyata berhasil mentransformasikan penduduk menjadi masyarakat modern yang memiliki ketajaman orientasi nilai budaya kehidupan kekinian maupun pada masa yang akan datang. Proses yang terjadi tersebut dengan sendirinya merubah atau bahkan meninggalkan sebagian budaya lama menjadi sebagian atau bahkan seluruh bagian budaya baru yang lebih relevan.

Hingar-bingar kemenangan pesta demokrasi tidak lain hanyalah model dari sebuah “metode histories” untuk memotivasi sebuah rasionalitas demokrasi agar tercipta nilai dominan yang memiliki norma kelaziman, tidak lain merupakan skenario untuk mewujudkan suatu pemerintahan yang memiliki kinerja nyata untuk kesejahteraan masyarakat.

Menghadapi sindrom panic casual crowd pasca pesta demokrasi pemilihan kepala daerah yang menegangkan, hendaknya disikapi dengan “bagaimana” setumpuk masalah yang terjadi dan telah melegenda itu dapat diselesaikan tuntas, cepat dan efektif sesuai norma kelaziman.

Mckensey dalam jurnal ilmiahnya menyebutkan bahwa pada tahun 2030, 60 persen populasi dunia akan tinggal di kota-kota. Itu berarti hal besar bagi pertumbuhan ekonomi jika “pemerintah” kota dapat menangani ekspansi mereka dengan sangat bijaksana.

Apa yang membuat sebuah kota menjadi besar?

Inilah sebuah point menarik yang perlu dibedah, karena data menyebut bahwa pada tahun 2030, terdapat lima miliar manusia atau sekitar 60 persen populasi dunia akan tinggal di kota-kota, dibandingkan dengan 3,6 miliar hari ini, dengan demikian para “pemimpin terpilih” harus mampu menuntaskan “urbanisasi” dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di sisi lain, di depan mata terpapar sejumlah warisan yang sedang berkembang dan bergulat dengan “infrastruktur” yang menua serta tantangan dalam mengalokasikan anggaran yang serba terbatas. Karena itu pemimpin berjuang untuk mempertahankan daya saing kota mereka untuk memberi penghidupan orang-orang yang tinggal di dalamnya. Dan semua sadar akan warisan “lingkungan” yang akan mereka tinggalkan jika mereka gagal menemukan cara pengelolaan kota yang lebih efisien.

Jika seorang pemimpin memiliki kecerdasan, maka tentu kepadanya diberi anugerah “cara” untuk mencapai pertumbuhan di sebuah kota yang cerdas pula, yaitu bagaimana mengintegrasikan pemikiran lingkungan ke dalam pengambilan keputusan strategis dalam bidang ekonomi yang di dalamnya mampu meminimalisir emisi, produksi limbah, dan penggunaan air, pada saat membangun masyarakat kota dengan kepadatan yang sangat tinggi.

Pengelolaan limbah pada saatnya menjadi sebuah kompleksitas, legal, teknis dan komersial. Pemerintah Daerah harus memiliki solusi objektif komprehensif sebagai jawaban lengkap atas kewajiban pengelolaan limbah. Dengan demikian diperlukan identifikasi dalam melaksanakan kewajiban pengeloaan limbah tersebut.

Prioritas Ibukota Terhadap Sampah menjadi Apriori

Ketika berbicara tentang sampah, berarti kita berbicara tentang “bagaimana” sebuah sistem pengelolaan dapat “fokus” pada pencegahan produksi limbah melalui teknik-teknik minimisasi limbah dan penggunaan kembali bahan limbah melalui daur ulang. Hal ini terkait langsung dengan masalah pengadaannya, di mana lokasi pengambilannya, pemasoknya siapa, perancangan ulang proses pembongkaran dan “logistic reverse” dapat mengurangi jumlah limbah yang diproduksi atau memfasilitasi daur ulang dan penggunaan ulang dengan lebih baik.

Transisi pengelolaan limbah sampah menggunakan teknologi modern memerlukan “investasi” yang cukup mahal, terstruktur dan konsisten. Pendekatan ini dapat terwujud jika Pemerintah Daerah dapat merencanakan secara lebih dini program dan kegiatannya, sebut saja botol plastik dan kaca, sayuran yang kita beli, plastik pembungkus dari berbagai jenis barang, maupun berbagai material lain yang dibeli oleh masyarakat, maka kita hanya perlu mengembalikan sistem ini ke dalam sebuah kondisi ekonomi alamiahnya, yaitu Negara wajib mengambil “deposit” dari setiap produksi yang diperjualbelikan sebagai tanggung jawab dalam pengelolaan limbahnya. Atas dasar hal tersebut, pengelolaan sampah akan secara otomatis menjadi “pranata ekonomi” bagi masyarakat.

Banyak Negara maju telah meninggalkan konsep sanitary landfill, namun di beberapa kota besar di Indonesia masih menggunakan model ini. Teknologi “incinerator” sampah untuk memproduksi energi listrik, atau dikenal “PLTSa” tergolong tidak termasuk bersih, karena akan mengeluarkan cemaran, abu terbang dan Karbon dioksida (CO2), sehingga tidak layak untuk dipakai di kota besar dan modern. Seperti yang terjadi saat ini di Indonesia, telah dikeluarkan putusan Mahkamah Agung yang membatalkan Peraturan Presiden Nomor 18 tahun 2016 tentang Percepatan Pembangunan Pembangkit Listrik Berbasis Sampah di DKI Jakarta, Kota Tangerang, Kota Bandung, Kota Semarang, Kota Surakarta, Kota Surabaya dan Kota Makassar, dimana ke tujuh lokasi tersebut menggunakan teknologi incenerasi.

Dr. Arnold Soetrisnanto dalam konsep ilmiahnya mengemukan bahwa yang terbaik bagi kota besar Indonesia adalah penggabungan “dua” teknologi untuk pengelolaan limbah sampah.

Pertama, yaitu teknologi “fermentasi kontinyu” dengan alasan lebih ramah lingkungan (green), zero waste, karena tidak ada proses pembakaran secara langsung, melainkan hasil “gas methane” yang langsung digunakan sebagai bahan bakar “methane engine” untuk menghasilkan listrik. Selain listrik, teknologi ini juga akan menghasilkan pupuk kompos berkualitas tinggi. Teknologi “fermentasi kontinyu” yang kebanyakan buatan Eropa saat ini masih sangat mahal harganya karena masih dibawah regim paten, dan tidak layak secara ekonomis untuk diterapkan di Indonesia. Namun sebenarnya teknologi ini sangat sederhana pembuatan maupun pengoperasiannya, yaitu bekerja pada temperaturr kamar dan tekanan atmorfer, sehingga sangat mudah untuk dibuat sendiri oleh perusahaan/industri nasional, dengan resiko kegagalan yang sangat minimal. Sehingga teknologi “fermentasi kontinyu” ini sangat layak secara teknologi dan ekonomi untuk dikembangkan di dalam negeri bekerjasama dengan lembaga penelitian/universitas, pemerintah pusat/daerah, perusahaan swasta, dan pengembang perumahan/kota.

Kedua, Meskipun demikian teknologi nasional “fermentasi kontinyu” di atas hanya mampu mengolah jenis sampah organik, sehingga teknologi ini masih perlu didampingi oleh teknologi gasifikasi yang mampu mengolah jenis sampah anorganik, seperti teknologi pirolysis. Jadi pasangan teknologi fermentasi kontinyu dan teknologi pirolysis adalah “pasangan” teknologi yang sangat tepat untuk diterapkan di kota besar/modern karena sifatnya yang saling mengisi, sehingga keduanya akan dapat memenuhi harapan sebagai teknologi “Green Zero Waste”.

Jika Pemerintah Daerah berpikir “smart” dan rasional, hal utama yang harus dilakukan adalah bagaimana perdagangan barang di kota-kota besar di Indonesia di injeksi dengan pengaturan “deposit” atas seluruh kemasan jenis barang yang diperjualbelikan di pusat-pusat niaga termasuk pasar tradisional untuk investasi pengelolaan limbah sampah yang berkelanjutan.

Selain itu, strategi mitigasi limbah yang efektif juga memerlukan penyediaan berbagai informasi terpercaya mengenai komposisi semua bagan aliran limbah sampah tersebut, dan tata cara pemisahannya dari sumber utama, oleh karena itu diperlukan cara dan metode untuk memeriksa sifat dan kualitas limbah yang dihasilkan sebagai kontribusi pada tindakan yang akan dilakukan.

Menarik merujuk pada apa yang disampaikan Antonie Ochieng dalam The Urban Waste Problem and technology solution, bahwa Inovasi pengelolaan limbah juga sebaiknya mengadopsi perkembangan perangkat lunak (software) dari technologi smartphone yang berkembang untuk mampu mengontrol secara lebih dekat sistem pengelolaan limbah dengan cepat dan efisien dengan memperkenalkan unsur-unsur berikut sebagai solusi idealnya, yaitu dengan cara:

Melanjutkan kampanye pemisahan Limbah (Campaigning for waste segregation), yaitu dengan penyediaan empat kantong pembuangan sampah untuk jenis  limbah organik, kaca atau keramik, kertas dan plastik, hal ini akan meningkatkan pemisahan limbah yang otomatis mempermudah pengumpul limbah untuk mentransfer sampah ke tempat daur ulang. SPemilahan limbah juga berarti mengurangi limbah ke tempat pembuangan akhir sampah.

Pemetaan Geospasial (Digital geo-spatial mapping), “Zonasi digital” dari pusat agregasi limbah, titik transit dan tempat pembuangan sampah untuk memudahkan pengoptimalan sumber daya dan redistribusi oleh pemerintah kota. Ini akan membantu dalam perencanaan output, pelacakan dan ketertelusuran limbah yang dibuang karena para stakeholder di daerah tersebut mendaftarkan limbah yang dikumpulkan di wilayah tertentu pada waktu tertentu, beserta dengan jumlah volume limbah yang ada. Oleh karena itu pihak pengambil keputusan dapat melakukan tracking terhadap penerimaan limbah dari masyarakat dan melacak limbah tersebut di sepanjang supply/value chain.

Sinergi Pemerintah bersama Pemulung dan operator swasta (Forging municipal synergies with informal waste collectors and private operators) sebagai media untuk menyelaraskan program dan kegiatan antara pemerintah daerah dan pihak terkait yang bergerak dibidang angkutan persampahan. Strategi tersebut mengadopsi pendekatan dual-front dengan memberdayakan pemulung menjadi strategi untuk meningkatkan efisiensi dalam mengurangi limbah.

Pemetaan rute transit untuk limbah dan redistribusi ke tempat-tempat daur ulang (Mapping of transit routes for waste: and redistribution to places of need such as recycling plants) untuk jangkauan spasial yang lebih luas terhadap limbah yang dibuang secara tidak teratur juga dihitung secara akumulatif menjadi data yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan oleh pemerintah kota dan aktor pengelolaan lingkungan lainnya.

Langkah-langkah strategis…..

Dari berbagai uraian diatas, maka sejumlah langkah strategis berikut dapat digunakan untuk mengatasi sampah ibukota, sehingga sampah menjadi komoditas yang menguntungkan, antara lain :

Membuat Bank Sampah, untuk memfasilitasi masyarakat dalam mengumpulkan sampah yang kemudian dapat ditukarkan dengan barang atau jasa yang menarik. Sedangkan sampah yang diterima diproses daur ulang, dipergunakan untuk kembali menjadi sesuatu yang lebih berguna. Sistem ini dapat diterapkan dilingkungan perumahan dan dapat diintegrasikan dengan program lingkungan lainnya.

Memelihara lingkungan secara progresif yaitu dengan membangun sistem limbah diubah menjadi energi secara efisien yang mampu memberikan energi listrik langsung kepada penduduk. Dengan cara mendaur ulang dan memilah sampah secara efektif, akan mengurangi sampah yang dideliver ke tempat pembuangan akhir.

Mempromosikan kesadaran lingkungan, misalnya dengan menggerakan masyarakat menciptakan sebuah taman hiburan untuk anak-anak dari bahan bekas, yang terdiri dari limbah plastik, kertas dan sebagainya. Inisiatif kreatif ini dapat memberikan manfaat besar bagi lingkungan, pendidikan dan kesehatan.

Mengubah sampah plastik biasa menjadi pengganti aspal, dimana plastik sebagai bahan utama aspal yang digunakan untuk konstruksi jalan. Dengan melihat peningkatan kadar sampah plastik karena perkembangan ekonomi yang cepat maka sampah plastik dapat dimanfaatkan dan ternyata akan mereduksi biaya konstruksi hingga 15 persen dari aspal lebih mahal biasanya digunakan.

Membuat lokasi pembuangan sampah menjadi pembangkit dengan system hybrid yang integrasikan beberapa pembangkit seperti turbin angin, sel surya dan energi yang berasal dari gas metana yang dihasilkan dari sampah. Tempat pembuangan sampah ini dapat dijadikan lokasi wisata energi untuk pembelajaran generasi muda dan anak-anak.

Pada akhirnya, pemimpin yang cerdas adalah seperti apa yang diungkapkan oleh Koontz dan O’Donnell, yaitu tidak hanya “mempengaruhi” orang, tetapi bagaimana untuk mendengar dan mengikuti berbagai ide positif untuk pencapaian tujuan bersama. Dengan cara yang diarahkan atau “ditentukan” oleh pemimpin itu sendiri.

Ibukota yang bersih adalah ibukota yang bebas dari sampah. Menyelesaikan sampah kota tidak hanya sekedar masalah teknologi tetapi juga masalah manajemen, organisasi, networking dan partnership. Dan menjadi kota yang cerdas, seperti Jakarta, memerlukan intuisi yang tajam dalam menyelesaikan sampah ibukota. Walahualam…

oleh: Agus Puji Prasetyono