SIARAN PERS

Kupang, 16 Desember 2016

Era sekarang adalah era bersaing dan kompetisi dimana penguatan perguruan tinggi menjadi hal yang penting. Untuk itu, strategi bagaimana Indonesia mampu memenangkan persaingan ini harus direncanakan secara matang.

Cuaca gelap dan hujan deras tidak menutup semangat para mahasiswa Universitas PGRI Kupang siang itu untuk menanti kedatangan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir. Penantian mereka tidak lain adalah untuk mendengarkan kuliah umum Menristekdikti yang bertema “PENGUATAN KELEMBAGAAN PERGURUAN TINGGI MENUJU DAYA SAING BANGSA”.

Dalam pertemuan yang berlangsung di Kantor Gubernur Nusa Tenggara Timur tersebut, Menristekdikti menyebutkan hal pertama yang harus disiapkan guna memenangkan persaingan adalah tenaga kerja yang terampil. Kalau kita bisa menghasilkan tenaga kerja terampil ini maka lembaga perguruan tinggi berarti menghasilkan lulusan yang mampu bersaing.

“Syaratnya apa saja, salah satunya perguruan tinggi lembaganya harus sehat. Kalau lembaganya tidak sehat berarti perguruan tinggi itu tidak baik,” ujar Nasir.

Oleh karena itu keberadaan lembaga harus berjuang menjadi lebih berkualitas. Menristekdikti menghimbau perguruan tinggi khususnya Universitas PGRI Kupang untuk melupakan semua konflik, yang terkait pada sentimen, maupun intrik-intrik tertentu.

“Ayo kembali membangun Universitas PGRI menjadi unggul, menjadi satu,” tuturnya

Nasir kemudian meminta kepada Gubernur Nusa Tenggara Timur yang juga hadir dalam kesempatan yang sama untuk mengamankan dan menyelamatkan pendidikan anak-anak (mahasiswa). Pemerintah dalam hal ini selalu menjaga para mahasiswa agar jangan sampai dirugikan karena permasalahan tertentu. Tak luput, Menristekdikti pun berpesan kepada para rektor di wilayah NTT, terutama Rektor Universitas Cendana untuk membantu membimbing perguruan tinggi lainnya di daerah ini.

Sementara kepada para mahasiswa yang hadir Menristekdikti secara khusus berkali-kali berpesan supaya menghindari demonstrasi.

“Kita kembali ke tujuan Universitas PGRI Kupang yaitu untuk mencapai daya saing bangsa,” ujarnya.

Dorongan untuk kembali membangun lulusan yang unggul disinggung oleh Menristekdikti sehubungan dengan turunnya posisi daya saing Indonesia dalam Laporan Indeks Daya Saing (World Economic Forum) yang sebelumnya di urutan 41 kini menjadi 37. Sehingga hal ini mengakibatkan perguruan tinggi harus bekerja lebih keras untuk naik dengan bersaing secara global.

“Anak-anak (mahasiswa) yang bertikai dan tercerai berai harus disatukan kembali untuk belajar dengan baik. Negara harus hadir menyelesaikan masalah-masalah yang dialami mahasiswa. Harus menjadi satu untuk Kupang, bagaimana pendidikan untuk daerah ini menjadi lebih baik. Dan jangan sampai ada ijazah palsu, karena akan saya pidanakan, yang menjual 10 tahun, yang memegang (memiliki) 5 tahun,” jelasnya.

Empat tahun kedepan Nasir berharap Universitas PGRI ini menjadi kampus yang sehat.

“Karena ini baru saja selesai konfliknya, maka akreditasinya masih harus terus didorong menjadi lebih baik,” imbuhnya. Ia juga meminta supaya daftar nama para mahasiswa sesegera mungkin dimasukkan ke dalam pangkalan data universitas.

Sementara itu, Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Frans Lebu Raya sangat mendukung apa yang disampaikan Menristekdikti. Ia turut menghimbau para mahasiswa untuk menjaga persatuan dan kesatuan, dan memfokuskan diri untuk mencetak sumberdaya yang unggul.

##