Dalam rangka Optimalisasi dan Komersialisasi Hasil Penelitian untuk Meningkatkan Daya Saing Bangsa, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) bekerjasama dengan PT. Kalbe Farma Tbk (Kalbe) dalam program Ristekdikti-Kalbe Science Awards (RKSA) yang berlangsung di auditorium gedung D Kemristekdikti, Selasa (15/03/2016).

Program RKSA merupakan penghargaan bagi para peneliti terbaik di Indonesia yang telah berkontribusi aktif di dunia penelitian dan pengembangan khususnya bidang kesehatan dan life science. Dalam RKSA 2016 bidang kajian penelitian yang dapat disertakan meliputi Bahan Obat/Sediaan Obat, Diagnostik dan Metode Pengobatan, Pangan Fungsional.

Dalam acara peluncuran program RKSA tersebut, Menteri Ristekdikti, Mohammad Nasir menyampaikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tentang pengobatan sangat berkembang pesat dan sejalan dengan penemuan-penemuan pengobatan baru sehingga memicu sumber daya manusia untuk memahami dan menguasainya.

“saya sangat menyambut baik inisisasi yang dilakukan Kalbe Farma bersama Kemristekdikti dalam rangka mengembangkan riset di Indonesia, khususnya dibidang life science dan yang terkait kesehatan dan obat-obatan.” Ujarnya.

Menurut M. Nasir menjaring tema penelitian terbaik yang ada di pusat-pusat penelitian bukan persoalan mudah dan perlu waktu yang cukup lama untuk mendapatkan hasil yang baik. Oleh karena itu program Ristekdikti-Kalbe Science Award merupakan alternatif dari sekian banyak alternatif penelitian di Indonesia. Penghargaan dan dukungan penelitian dalam bidang kesehatan ini cukup memberikan angin segar ditengah-tengah ketergantungan terhadap bahan baku obat.

“Seperti yang diketahui kebutuhan akan bahan baku obat di Indonesia sangat tinggi dan 95% kebutuhan bahan baku obat banyak dipenuhi melalui impor.” Ungkapnya. Persoalan tersebut belum cukup lama terjadi dan secara tekhnologi belum mampu menjawab persoalan impor. Untuk itu adanya program RKSA diharapkan akan menghasilkan scientist dan peneliti yang menekuni dibidang tersebut.

Kemristekdikti pun akan membangun suatu model mulai dari riset dasar, riset terapan sampai riset pengembangan atau Technology Readiness Level (TRL). Model seperti ini akan mengeleminir kelemahan-kelemahan lembaga sehingga akan menghasilkan produk komersil yang lebih cepat sampai ke pengguna dan hasilnya tidak hanya dokumen ilmiah saja, namun juga prototype fisiknya. (ifa/bkkp)

Galeri