BEKASI – Upaya pengembangan Kapal Pelat Datar di Indonesia terus mendapat dukungan dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Selain dapat diandalkan untuk membangun kekuatan maritim Indonesia, Kapal Pelat Datar ini juga memiliki daya saing kuat dan biaya produksinya jauh lebih murah jika dibandingkan dengan kapal-kapal berbahan baku kayu maupun fiber. Karena itu, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Memristekdikti) Mohamad Nasir sangat rajin memantau perkembangan kerja berbagai pihak yang terlibat dalam pengembangan Kapal Pelat Datar ini. Bahkan, Nasir sangat berharap agar Kapal Plat Datar karya anak bangsa Indonesia itu dapat segera diproduksi massal untuk memperkuat kekuatan bahari Indonesia.

Harapan untuk segera memproduksi massal Kapal Plat Datar tersebut juga dipaparkan Mohamad Nasir saat meninjau lokasi industri baja milik Gunung Steel Group di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Minggu (15/1).

Gunung Steel Group bekerjasama dengan PT. Juragan Kapal Indonesia dalam pengembangan produksi Kapal Plat Datar. Sehingga, dalam kunjungan di pabrik Gunung Steel Group tersebut, Menristekdikti dapat melihat langsung bagaimana proses pembuatan Kapal Plat Datar yang dilakukan oleh anak bangsa Indonesia sendiri. Tak hanya itu, Menristekdikti juga dapat melihat proses produksi baja yang dijadikan sebagai bahan dasar produksi Kapal Plat Datar.

Menurut Menristekdikti, Kapal Pelat Datar cocok untuk memenuhi kebutuhan para nelayan Indonesia.

Kemenristekdikti sendiri sudah melakukan kerjasama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan tentang pemanfaatan hasil riset untuk memperkuat pengelolaan sumber daya kelautan Indonesia. Untuk itu, Menristekdikti telah menawarkan kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan agar menggunakan Kapal Pelat Datar untuk memenuhi target pembuatan 3.500 kapal nelayan.

Pada prinsipnya, jelas Nasir, Menteri Kelautan dan Perikanan telah setuju menggunakan kapal ini untuk memenuhi kebutuhan nelayan.

“Kalau sertifikasi selesai, akan segera diambil,” papar Nasir.
Hanya saja, lanjut Nasir, target sertifikasi kelayakan kapal ini kemungkinan baru akan selesai dalam tiga bulan ke depan. Bila sertifikasi telah selesai, maka proses produksi massal Kapal Pelat Datar bisa dilrealisasikan.

Nasir yakin Kapal Pelat Datar akan mampu bersaing di Indonesia dan kelas dunia. Alasannya, kapal ini memiliki beberapa keunggulan, antara lain punya kecepatan tinggi, daya tahan lebih kuat, proses produksi lebih cepat, dan biaya produksi kapal ini juga jauh lebih murah jika dibandingkan dengan kapal berbahan kayu dan fiber.

Nasir mengatakan, walau berbahan baku baja, harga Kapal Pelat Datar justru lebih murah. Dalam ukuran sama-sama 10 GT (Gross Tonnage), harga kapal kayu 10 GT mencapai Rp 350 juta, sedang harga kapal berbahan fiber mencapai sekitar Rp 470 juta.

“Tapi Kapal Pelat Datar hanya sekitar Rp 270 juta,” kata Nasir saat menjawab pertanyaan para pewarta di pabrik Gunung Steel Group.

Keunggulan lain dari Kapal Pelat Datar ini, tambah Nasir, merupakan kapal hasil karya anak bangsa Indonesia sendiri. Sehingga proses produksinya bisa dilakukan 100 persen berbahan baku dari Indonesia.

“Kalau fiber bahannya harus impor. Jika harga di sana (luar negeri-red) naik, harga kapal juga akan naik,” ujar Nasir.

Direktur PT Gunung Steel Group, Ken Pangestu, mengatakan pihaknya mendukung produksi massal kapal ini. Salah satu alasannya, kapasitas baja nasional Indonesia saat ini berstatus over supply. Sementara Adi Lingson semdiri yakin bisa memenuhi target produksi 3.500 kapal bila pemerintah setuju menggunakan kapal pelat datar. Sebab, dalam sehari, pihaknya mampu memproduksi 10 kapal.

“Kalau ingin mengembangkan kapal perang dengan Kapal Pelat Datar, tinggal melakukan kerjasama dengan PT Pindad,” tambah Adi Lingson, yang juga pendiri Juragan Kapal Indonesia itu. (SUT)

Galeri