JAKARTA – Kinerja Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tahun 2016 ini mendapat apresiasi positif dari Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohammad Nasir. Sebab, capaian kerja BAN-PT selama tahun 2016 dinilai memiliki progress yang baik.

“Progresnya sudah cukup baik. Yang paling tampak adalah perguruan tinggi yang terakreditasi A, institusinya ada lompatan luar biasa,” papar Mohammad Nasir saat tampil menjadi pembicara kunci dalam pembukaan Rapat Kerja Tahunan Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Tinggi (BAN-PT) 2016 yang digelar di Hotel Sari Pan Pacific Jakarta, Kamis malam (8/12).

Selain dihadiri para anggota Dewan Eksekutif dan Dewan Majelis BAN-PT, acara pembukaan Raker Tahunan BAN-PT tersebut juga dihadiri Sesjen Kemenristekdikti Ainun Naim, Dirjen Belmawa Intan Ahmad, serta para Rektor Perguruan Tinggi Negeri maupun Swasta.

Lebih jauh Nasir mengatakan, jumlah Perguruan Tinggi di Indonesia sudah mencapai kurang lebih 4.405 buah. Namun jumlah Perguruan Tinggi yang masuk dalam World Top 500 Universities masih kecil dan tak signifikan dengan jumlah Perguruan Tinggi yang telah didirikan. Karena itu, Nasir meminta BAN-PT untuk terus mendorong peningkatan kualitas Perguruan Tinggi di Indonesia agar masuk ke kelas dunia.

Pentingnya Mutu

Nasir menegaskan, di era kompetisi ini mutu Perguruan Tinggi menjadi sangat penting. Hal ini menjadi tanggung jawab utama para Rektor, sedang BAN PT bertugas melakukan evaluasi.

“Jangan sampai kita meninggalkan kualitas. Kalau kita tidak bersaing, kita akan ketinggalan. Era kita adalah era kompetisi, maka kita harus selalu meningkatkan kualitas. Semua orang harus mengacu pada kualitas. Kalau tidak, kita akan mengalami ketertinggalan luar biasa,” tegas Nasir.

Masalah yang sering dihadapi Perguruan Tinggi, ungkap Nasir, biasanya menyangkut keberadaan dosen dan publikasi internasional. Untuk mengatasi masalah ini, jelas Nasir, Kemenristekdikti sudah melakukan penataan regulasi. Dalam pelaksanaan riset misalnya, kini sudah tidak berbasis pada aktivitas, tapi sudah diganti berbasis pada output. Dalam upaya mendorong peningkatan kualitas Perguruan Tinggi tersebut, kini Nasir akan menagih para Guru Besar agar menunjukkan hasil karyanya pada publikasi internasional.

Pada kesempatan ini, Nasir juga menyoal adanya akreditasi 1.882  program studi (prodi) yang dibiarkan kadaluarsa. Disebutkan, jumlah program studi Perguruan Tinggi di Indonesia sudah di atas 24 ribu. Sedang prodi yang telah diakreditasi baru mencapai 19 ribu, tapi 1.882 prodi di antaranya telah kadaluarsa.

“Ini bisa menimbulkan masalah lagi. Karena itu, hal ini harus segera diatasi. Kalau dibiarkan, Saya khawatir ijazah yang dikeluarkan Perguruan Tinggi menjadi tidak sah dan akan menimbulkan persoalan lain lagi,” papar Nasir.

Menurut T. Basaruddin dari Dewan Eksekutif BAN-PT, 1.882  program studi yang dianggap kadaluarasa karena Perguruan Tinggi tidak melakukan reakreditasi berdasar masa berlakunya surat keputusan akreditasi. Disebutkan, enam bulan sebelum masa SK Akreditasi habis, Perguruan Tinggi yang bersangkutan harusnya melakukan reakreditasi. Kenapa Perguruan Tinggi yang bersangkutan tidak melakukan reakreditasi, BAN PT mengaku belum tahu pasti.

“Apakah mereka mengalami kesulitan melakukan reakreditasi, kami belum tahu. Yang pasti, Perguruan Tinggi yang memiliki program studi berakreditasi kadaluarsa, tidak diperbolehkan mengeluarkan ijazah”, tegasnya.

Dalam pembukaan Raker Tahunan BAN-PT 2016 tersebut, Menristekdikti juga meresmikan pelaksanaan Sistem Akreditasi Pendidikan Tinggi Online (SAPTO). Pelaksanaan SAPTO tersebut dinilai positif oleh Nasir karena dianggap bisa mendorong peningkatan kualitas Perguruan Tinggi di Indonesia. (SUT)

Galeri