Jakarta – Peluncuran NIDK menjadi sebuah langkah strategis dan terobosan dalam berbagi sumber daya serta membangun sinergi antara jajaran akademisi, peneliti, perekayasa, praktisi, pelaku dunia usaha, dan pemerintah, demi tercapainya Indonesia yang lebih optimis.

Selasa (12/1), bertempat di Auditorium Binakarna, Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir Meluncurkan identitas baru bernama Nomor Induk Dosen Khusus (NIDK).

Esensi yang membuatnya berbeda dengan Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN) adalah dosen ber-NIDK dapat berasal dari Pegawai Negeri Sipil, TNI, POLRI, peneliti, praktisi, perekayasa, atau dosen purna tugas. Dosen yang memiliki NIDK tetap diperhitungkan rasionya terhadap mahasiswa.

Nasir mengungkapkan yang membuat NIDK ini harus menjadi terobosan baru di lingkungan Perguruan Tinggi karena banyaknya keluhan dari dosen-dosen yang belum tercatat di NIDN, Pada sambutannya Nasir mengatakan, “Saya sering mendapat curhatan bahwa yang sering terjadi di PTN dan PTS yaitu jumlah dosennya yang tidak ada ataupun yang belum dicatat NIDN-nya”.

Adapun persyaratan mendapatkan NIDK adalah telah diangkat sebagai dosen oleh Perguruan Tinggi diantaranya adalah berdasarkan perjanjian kerja, memiliki kualifikasi akademik, sehat jasmani dan rohani, dan tidak menyalahgunakan narkotika.

Selain itu, terdapat pula identitas Nomor Urut Pendidik (NUP), yaitu nomor urut yang diterbitkan oleh Kementerian untuk Dosen, Instruktur, dan Tutor yang tidak memenuhi syarat diberikannya NIDN ataupun NIDK. Peran NUP dibutuhkan untuk memenuhi relevansi keahlian dari dunia industri ke perguruan tinggi setelah memenuhi persyaratan hingga usia 70 tahun.

Persyaratan untuk memperoleh NUP meliputi, telah diangkat sebagai dosen tidak tetap, tutor, atau instruktur pada perguruan tinggi, memiliki kualifikasi akademik, sehat jasmani dan rohani, dan tidak menyalahgunakan narkotika.

Pada siang tadi, akhirnya secara resmi NIDK diluncurkan oleh Menristekdikti, “Tujuan dari NIDK ini adalah untuk meningkatkan kualitas layanan yang ada di Pendidikan Tinggi dalam proses pembelajaran di Perguruan Tinggi supaya bisa berjalan dengan baik. Dengan jumlah dosen yang cukup, rasio dosen yang lebih baik, maka Perguruan Tinggi juga akan lebih baik”, papar Nasir dalam sambutannya. (ard/bkkpristekdikti)

Galeri