JAKARTA – Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menggelar press conference membahas tentang Analisis Resiko yang ada pada EDP (Eliminate Dengue Project) yaitu nyamuk Aedes Aegypti yang di berikan wolbachia untuk mengatasi penyakit demam berdarah yang menjadi salah satu penyakit “musiman” yang memakan banyak korban, Jumat (2/9).

Wolbachia adalah bakteri alami yang terdapat di 60% jenis serangga yang ada di bumi, termasuk kupu-kupu, lebah, lalat, dan buah. Wolbachia tidak terdapat dalam nyamuk Aedes Aegypti penyebab demam berdarah. Penelitian ini sudah dimulai sejak tahun 2011 tepatnya di Kabupaten Sleman dan Bantul, Provinsi Yogyakarta.

“Pada dasarnya Kemenristekdikti akan mendukung penelitian yang dilakukan oleh anak bangsa kita dalam rangka meningkatkan daya saing bangsa kita sendiri, karena itu penelitian ini sangat penting untuk dilakukan dan hasilnya cukup menjanjikan untuk mengurangi demam berdarah di Indonesia,” kata Direktur Pengembangan Teknologi Industri Kemenristekdikti Hotmatua Daulay.

Tim independen yang diawasi secara ketat oleh Kemenristekdikti jelas Daulay, terdiri dari 2 kelompok yaitu 5 orang sebagai pakar inti dan 20 orang pakar sebagai anggota tim, telah melakukan pelepasan nyamuk aedes aegypti pada tahun 2014 di Kabupaten Sleman dan Bantul. Namun tim EDP masih mengkaji resiko yang bisa terjadi karena pelepasan nyamuk dengue tersebut. Dengan metode “scenario building” yang memperhitungkan 4 kelompok besar yaitu ekonomi dan sosio kultural, pengedalian vektor, ekologi nyamuk, dan kesehatan masyarakat.

Hasil yang di dapat adalah Negligible Risk (resiko dapat di abaikan). Negligible Risk adalah resiko terendah dari lima tahap resiko yaitu Negligible Risk, Low Risk, Moderate Risk, High Risk , dan Very High Risk.

Peneliti utama EDP Yogya Bapak Adi Utarini mengatakan, “jika peletakan telur nyamuk yang ber-wolbachia yang di lakukan secara bertahap di kota Yogyakarta, ketika sebagian besar nyamuk Aedes Aegypti sudah mengandung wolbachia, maka ini akan menurunkan angka kasus demam berdarah di kota Yogyakarta.”

“Resiko tetap ada tapi sangat kecil dan efek negatif juga kecil dari pelepasan nyamuk dengue berwolbachia,” menurut Damayanti Buchori yang merupakan ketua tim kajian analisis resiko EDP.

Untuk menanggulanginya, tim kajian analisis resiko sudah memikirkan beberapa skenario yang solutif apabila efek negatif muncul, terutama kepada manusia. (Dzi/Aro)