SIARAN PERS
No.  /SP/HM/BKKP/VI/2016

29 Juni 2016

Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi ancaman. Sejak pertama kali ditemukan di tahun 1960-an, angka kematian akibat DBD bisa ditekan, namun begitu, angka kejadian terus bertambah. Maraknya kasus DBD, mendorong berbagai pihak untuk melakukan upaya pengendalian baik yang bersifat program maupun penelitian. Di Indonesia pada tahun 2014 terdapat 100.347 kasus dan 641 orang diantaranya meninggal dunia (Kemenkes RI).

Pemerintah telah melakukan langkah-langkah pencegahan dan penanggulangan DBD. Di antaranya, menyebarluaskan informasi tentang cara-cara pencegahan dan penanggulangan DBD melalui media masa, mengaktifkan kader Jumantik (Juru Pemantau Jentik) sampai di tingkat Rukun Tetangga (RT), menyediakan abate bagi masyarakat yang membutuhkan di setiap puskesmas dan mendorong Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) mandiri oleh masyarakat. Hal ini karena nyamuk Aedes Aegypti yang menjadi penyebab DBD ditemukan sepanjang tahun.

Eliminate Dengue Project Yogyakarta (EDP-Yogya) adalah kegiatan penelitian yang dilaksanakan oleh Fakultas Kedokteran UGM dan didanaiYayasan Tahija Jakarta. EDP-Yogya sedang mengembangkan metode alami untuk mengurangi kasus DBD. Metode ini menggunakan bakteri alami bernama Wolbachia yang terbukti mampu menekan perkembangan virus demam berdarah dengue di dalam tubuh nyamuk Ae. aegypti.

 Penelitian EDP yang dilakukan di Kabupaten Sleman dan Bantul menunjukkan Wolbachia mampu berkembang biak di wilayah alaminya. Pelepasan di Kabupaten Sleman dilakukan sejak Januari dan berakhir Juni 2014 dengan metode pelepasan nyamuk dewasa. Sementara untuk Bantul, dilakukan peletakan telur nyamuk dalam ember kecil mulai November 2014 hingga Mei 2015. Ember tersebut dititipkan ke rumah-rumah warga. Monitoring nyamuk dilakukan hingga saat ini, dan hasilnya menunjukkan bahwa mayoritas nyamuk di wilayah tersebut telah ber-Wolbachia.

Hasil lainnya yang ditemukan adalah bahwa Wolbachia mampu mencegah terjadinya penularan lokal DBD di wilayah penelitian. Artinya, ketika ada satu warga yang tertular DBD di satu rumah tangga,  tidak ditemukan warga lain yang tertular dalam radius 200 meter dari lokasi selama dua minggu.Namun kejadian DBD  masih ditemukan karena  pergerakan warga yang memungkinkan mereka tertular di tempat lain dan ketika Wolbachia belum mencapai nilai ambang minimal di masyarakat. Selama penelitian di kedua wilayah, hingga kini EDP terus melakukan pemantauan jumlah populasi nyamuk, pemantauan kejadian demam dan demam berdarah, serta pemantauan tanggapan masyarakat.

Teknologi Wolbachia ini tidak menggantikan teknologi yang sudah ada dan tidak mengubah kebiasaan masyarakat dalam penanggulangan DBD. Di kedua wilayah, EDP terus menggalakkan Pemberantasan Sarang Nyamuk bersama masyarakat.

Setelah membuktikan bahwa Ae. aegypti ber-Wolbachia mampu bertahan wilayah di Sleman dan Bantul, EDP Yogya merencanakan memperluas wilayah penelitiannya di Kota Yogyakarta. Tujuan utamanya adalah membuktikan dampak teknologi Wolbachia terhadap penurunan kasus DBD di Kota Yogyakarta. Saat ini tengah dilakukan sosialisasi intensif ke masyarakat dan pemerintah, serta persiapan peletakan nyamuk ber-Wolbachia pada wilayah-wilayah terpilih di kota Yogyakarta. Kami sangat berharap untuk dapat bekerjasama dengan masyarakat dan pemerintah daerah dalam upaya untuk menurunkan kejadian DBD di masa mendatang.

Pada April 2016 lalu, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, M. Nasir meninjau keberhasilan penelitian pengendalian demam berdarah dengue (DBD) yang dilakukan oleh Eliminate Dengue Project (EDP-Yogya) di wilayah Sleman dan Bantul. “Teknologi nyamuk ber-Wolbachia merupakan teknologi  baru yang saya pikir merupakan terobosan yang luar biasa dalam dunia kesehatan dewasa ini”, demikian disampaikan oleh M. Nasir.

Hal ini selaras dengan harapan Menristekdikti bahwa peran serta dunia riset dan pengembangan sangat dibutuhkan untuk menjawab tantangan persoalan-persoalan kesehatan masyarakat. Universitas Gadjah Mada telah memberikan perhatian dan contoh postif untuk mengurangi demam berdarah dengue.

Teknologi ini telah pula direkomendasikan oleh WHO. Bulan Maret lalu The World Health Organization(WHO) mengeluarkan pernyataan bahwa Wolbachia merupakan teknologi baru yang menjanjikan untuk menekan replikasi virus dengue, chikungunya dan zika dalam tubuh nyamuk Ae.aegypti. Pernyataan  WHO ini mendukung penelitian yang tengah dilakukan oleh EDP di Kota Yogyakarta.

##