Dalam rangka melaksanakan UU No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana yang menyatakan iptek sebagai salah satu azas penanggulangan bencana di Indonesia, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Pertemuan Ilmiah Tahunan Riset Kebencanaan ke-2 pada tanggal 26-28 Mei.

Pertemuan ini dihadiri oleh 500 peserta yang terdiri dari mahasiswa pascasarjana, dan ahli kebencanaan dari berbagai Kementerian/Lembaga, Perguruan Tinggi, praktisi dan lembaga-lembaga lainnya. Kegiatan ini merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan sinergitas penelitian kebencanaan di Indonesia melalui penyusunan blueprint riset kebencanaan, dimana pada periode tahun 2014-2017, riset akan diarahkan dan difokuskan pada pengembangan sistem peringatan dini (Early Warning System) terutama untuk bencana tsunami, banjir/banjir bandang, kekeringan, kebakaran lahan dan hutan dan gerakan massa/tanah longsor. Untuk mendukung kegiatan tersebut, maka tema kegiatan PIT ke-2 Tahun 2015 adalah “Membangun Kemandirian Industrialisasi dan Teknologi Berbasis Riset Kebencanaan Indonesia”. Acara ini dihadiri oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Rektor Universitas Gadjah Mada, Deputi Bidang Pendayagunaan Iptek-Kemeristekdikti, Asisten Pemerintahan dan Kesra Provinsi DIY dan dibuka oleh Kepala Badan Penanggulangan Bencana

Dalam sambutannya Deputi Bidang Pendayagunaan Iptek-Kemeristekdikti, Pariatmono menyampaikan bahwa tema pertemuan ini sangat menarik karena sudah saatnya, Indonesia yang merupakan negara yang rawan bencana, bahkan seringkali disebutkan bahwa Indonesia merupakan supermarket bencana. Untuk menjaga wilayah Indonesia dari berbagai bencana diperlukan peralatan-peralatan deteksi yang jumlahnya ratusan, bahkan ribuan. Hampir sebagian peralatan-peralatan tersebut saat ini merupakan barang-barang impor yang merupakan donor dari negara sahabat. Sudah sewajarnya kalau kita mengupayakan secara inovatif membangun industri peralatan di dalam negeri untuk memproduksi alat-alat tersebut. Upaya membangun industrialisasi peralatan kebencanaan ini memiliki tujuan ganda. Pertama, dan ini yang terpenting, masyarakat kita menjadi terlindungi dari bencana alam. Kedua, inovasi dan industri bangsa ini tumbuh sehingga dapat menggerakkan ekonomi.

Untuk mempercepat proses penemuan menjadi inovasi tidak cukup dilakukan perbaikan hanya terhadap kebijakan iptek saja, melainkan diperlukan juga penguatan terhadap berbagai kebijakan lainnya seperti kebijakan pendidikan, kebijakan ekonomi, kebijakan industri, dan lain-lain.

Rangkaian acara PIT ke-2 ini antara lain : Seminar Nasional Riset Kebencanaan, Rewiew Blue Print Riset Kebencanaan dan Kemandirian Industrialisasi Riset Kebencanaan, Concept Development Gerakan Nasional Pengurangan Risiko Bencana, Munas Nasional IABI 2015, Pendataan Anggota IABI dan Pameran Riset Kebencanaan. Pada akhir pertemuan ini akan menghasilkan blueprint riset kebencanaan yang dikelompokkan dalam 9 kluster, yaitu: (1) Gempabumi dan Tsunami, (2) Gunung Api , (3) Gerakan Tanah, (4) Banjir dan Kekeringan, (5) Cuaca dan Gelombang Ekstrim, (6) Kebakaran Lahan dan Hutan, (7) Epidemi dan Wabah Penyakit, (8) Kegagalan Teknologi dan Pengembangan Iptek dan (9) Sosio Kultural. Rekomendasi yang dihasilkan diharapkan dapat mengatasi permasalahan produktivitas riset iptek ke industri seperti hasil litbang di lembaga litbang perguruan tinggi tidak sesuai dengan keinginan industri, bahasa peneliti dan industri seringkali tidak sama, adanya perbedaan orientasi antara peneliti dan industri dalam kegiatan riset dan pengembangan serta komunikasi antara peneliti dan industri yang tidak lancar. (ad1-dep5/humasristek).