Juarai Lomba Discovery dengan SIM Barang Hilang
28 April 2015 | 09.32 WIB

Keseharian mahasiswa di kampus dengan berbagai urusan akademik dan organisasi, tak lepas dari fenomena kehilangan barang. Seperti halnya Badrut Tamam Hikmawan, dari pengalamannya kehilangan barang berharga yang sulit ditemukan, sehingga mahasiswa Jurusan Sistem Informasi (JSI) ini berinisiatif membuat aplikasi. Sistem Informasi (SIM) Barang Hilang ini berhasil menarik perhatian para juri di lomba Discovery yang diadakan oleh program studi Sistem Informasi Universitas Jember, awal bulan Maret lalu.

Sejak bulan Februari yang lalu, mahasiswa Jurusan Sistem Informasi yang akrab disapa Tamam ini telah sibuk mempersiapkan prototype aplikasinya. Bersama kedua anggotanya, Manzilatul Rahmah dan Natanael Yabes Wirawan, ia berhasil mempresentasikan ide, prototype dan proses bisnis dari proyek Public Safety yang ia cetuskan di tahap sepuluh besar, Jumat (6/3).

Tidak disangka, mereka lolos ke tahap penyeleksian tiga besar. Pemilihan juara pun ditentukan oleh presentasi mengenai marketing dari SIM hasil karya mahasiswa ini. Akhirnya, Tamam dan kedua rekannya berhasil membawa pulang juara kedua lomba ide cipta aplikasi dengan tema Smart City ini. Adapun juara pertama diraih oleh Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS).

Aplikasi yang mereka buat menggunakan cara kerja dengan penerapan altroisme, yakni sifat mau membantu orang lain dengan ikhlas. Sehingga diperlukan keikhlasan pengguna yang merupakan penemu barang, bukan orang yang kehilangan barang. “Orang yang memasukkan data di aplikasi ini adalah orang yang menemukan barang, lalu setelah memasukkan data barang hilang, dia harus melaporkan ke kepolisian kecamatan,” ujar mahasiswa angkatan 2012 ini.

Untuk menumbuhkan semangat sifat ikhlas, sistem gamification juga diterapkan, dimana aplikasi ini akan memberikan poin yang dapat ditukar dengan berbagai macam hadiah. “Untuk mengikuti game ini, si penemu barang harus punya bukti kalau dia sudah menyerahkan barang ke kantor polisi. Seperti mengupload foto selfie dengan barang temuan di kantor polisi,” tutur mahasiswa yang aktif berkecimpung di bidang Riset dan Teknologi ini.

Bekerjasama dengan kepolisian kecamatan adalah cara yang pas untuk meningkatkan keamanan, terutama untuk melakukan verifikasi pengklaim barang temuan ini. Untuk menguji aplikasinya, Tamam telah melakukan survei ke kantor kepolisian. Hasilnya, proyek ini pun mendapatkan respon yang positif. “Penerapan proyek ini tidak akan membebani stakeholder di kepolisian. Aplikasi ini sudah dirancang proses bisnisnya agar tidak menambahi pekerjaan polisi, namun tetap aman,” pungkasnya.

Usut punya usut, ide ini dicetuskan Tamam di salah satu tugas mata kuliahnya. Tidak berhenti sampai hasil tugas saja, ia pun mengembangkannya dengan mengikuti program Start Surabaya, yakni program pengembangan bisnis yang dihelat oleh Pemerintahan Kota Surabaya bekerjasama dengan beberapa perusahaan. “Selanjutnya, kita akan mengembangkan aplikasi website dan android, serta membuat peta untuk list barang temuan, dengan memanfaatkan metode Geographic Information System (GIS),” paparnya.

Selain itu, untuk dapat dimanfaatkan dan disebarluaskan ke masyarakat, imbuh Tamam, ia akan melakukan pemasaran awal di seluruh kampus besar di Surabaya. “Untuk terjun ke masyarakat, kita berharap aplikasi ini bisa suksed dikeluarkan pada bulan Agustus nanti,” imbuhnya. (riz/fin)

Sumber:https://www.its.ac.id/berita/14852/en
Copyright © Institut Teknologi Sepuluh Nopember