Pada tanggal 09 Mei 015, bertempat di Hotel Quality Manado, Sulawesi Utara, dilakukan presentasi publik yang ke delapan pemantauan lingkungan Teluk Buyat oleh  Panel Ilmiah Independen (PII).  Presentasi publik ini memaparkan hasil pemantauan lingkungan Teluk Buyat  tahun 2014. Sesuai yang diamanatkan pada kesepakatan antara Pemerintah Republik Indonesia dan PT Newmont Minahasa Raya (NMR) yang tertuang dalam Goodwill Agreement (Perjanjian Niat Baik) pada tanggal  16 Februari 2006. Maksud utama kegiatan PII adalah untuk  mengidentifikasi ada tidaknya dampak penempatan tailing oleh NMR selama 8 (delapan) tahun (1996-2004) terhadap kualitas lingkungan laut dan kesehatan masyarakat. PII yang beranggotakan 6 (enam) orang pakar, masing-masing 3 (tiga) orang wakil pihak Pemerintah dan NMR, dan berada di bawah koordinasi Menteri Riset Teknologi, dan Pendidikan Tinggi bekerja berdasarakan Guiding Principles (Pedoman Prinsip). Setiap tahun PII mengembangkan metodologi pemantauan lingkungan, termasuk Jaminan Mutu/Kendali Mutu yang memenuhi standar nasional dan internasional.

Dalam sambutan Menteri RistekDikti yang dalam hal ini dibacakan oleh Prof. Ainun Na’im, Sekjen Kementerian RISTEKDIKTI selaku Kontak Utama Pihak RI menyampaikan bahwa Program Pemantauan Teluk Buyat telah dilakukan sejak tahun 2007 dan hasilnya telah dilaporkan secara terbuka kepada publik sejak tahun 2008, dan terakhir sebelum ini pada tahun 2014 di Manado. Pada tahun 2015 ini, Kementerian RISTEKDIKTI, melalui PII, akan melaporkan kepada publik hasil-hasil yang diperoleh sepanjang tahun 2014 dari Program Pemantauan ini.

Lebih lanjut Prof. Ainun mengatakan seperti pada tahun-tahun sebelumnya, perhatian pemantauan ditujukan kepada Toksikologi Manusia/Kesehatan Masyarakat, Geokimia Lingkungan, dan Ekologi Laut, dimana untuk tahun 2014 pemantauan dilakukan terhadap enam parameter yaitu Kualitas Air Laut, Jaringan Ikan Laut Lingkungan, Kualitas Sedimen, Makrobentos, Terumbu Karang dan Ikan Karang, serta Oseanografi Fisika. Pelaksana yang terpilih untuk melakukan pengambilan contoh di lapangan pada tahun 2014 adalah PT Intertek Utama Services (Intertek), PT Indotama Mahesa Karya (Indotama), dan Lembaga Penelitian Universitas Sam Ratulangi.

Presentasi publik hasil pemantauan lingkungan Teluk Buyat disampaikan oleh Tim Panel Ilmiah Independen yang terdiri dari Prof. Dr. Ir. Inneke F M Rumengan, M.Sc., Universitas Sam Ratulangi;  Prof. Dr. M. Irene J. Umboh, DEA, Universitas Negeri Manado; Prof. dr. Amin Soebandrio, Ph.D., Univeristas Indonesia;  Prof. Ir. Mukhtasor, M.Eng., Ph.D., Institut Teknologi Sepuluh November; Thomas Shepherd, Ph.D., Consulting for Collms Colorado; Keith Bentley, Ph.D., Centre for Enviromental Health Australia; yang dimoderatori oleh Prof. Ainun Na’im.

Secara keseluruhan hasil survei yang dilakukan PII sebelumnya menunjukkan bahwa kualitas air laut Teluk Buyat memenuhi Baku Mutu Air Laut Indonesia untuk biota laut dan tidak ada indikasi bahwa penempatan tailing di Teluk Buyat menimbulkan dampak yang buruk terhadap lingkungan. Kita semua berharap bahwa pengoperasian Tambang Messel tidak pernah dan tidak akan menyebabkan pencemaran lingkungan dan masalah kesehatan yang buruk. Namun kita semua juga sepakat bahwa diperlukan penelitian, pemantauan, dan analisis secara ilmiah lebih lanjut dan yang berkesinambungan guna memperoleh kesimpulan-kesimpulan yang bersifat final. Prioritas kita semua adalah kesejahteraan masyarakat di sekitar Tambang Messel, dan lingkungan hidup yang sehat dan aman dalam jangka panjang. Untuk mencapai tujuan ini diperlukan kerja sama yang produktif antara semua pihak terkait. Semoga hasil-hasil yang telah dan akan diperoleh dalam Program Pemantauan ini akan bermanfaat bagi semua pihak, khususnya masyarakat disekitar kegiatan penambangan. (sekr.-pii/humasristek)