Tanggal 20 Mei 1908 adalah hari didirikannya organisasi Boedi Oetomo, hari tersebut merupakan hari momentum perjuangan seluruh rakyat Indonesia sehingga dijadikan sebagai Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas). Kebangkitan nasional merupakan bangkitnya semangat nasionalisme, persatuan, kesatuan, dan kesadaran sebagai sebuah bangsa untuk memajukan diri melalui gerakan organisasi modern yang sebelumnya tidak pernah muncul selama penjajahan.

Melalui peringatan Harkitnas, kita kenang kembali bagaimana semangat perjuangan The Founding Fathers bangsa besar ini untuk diambil sebagai teladan bagi kita semua. Dokter Wahidin Soedirohoesodo dan dr. Soetomo telah menanamkan konsep perjuangan intelektual melalui pembentukan organisasi untuk membangun kebersamaan dan persatuan antar elemen bangsa. Proses panjang perjuangan mereka yang dilanjutkan para pejuang lain telah menghasilkan lahirnya bangsa besar dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita kenal sekarang ini.

Pada hari ini 20 Mei 2015 bertepatan dengan Harkitnas ke-107, seluruh pegawai Kemenristekdikti melaksanakan upacara peringatan Harkitnas dengan Menristekdikti selaku Pembina Upacara. Tema Harkitnas ke-107 ini adalah “Melalui Hari Kebangkitan Nasional Kita Bangkitkan Semangat Kerja Keras Mewujudkan Indonesia Maju dan Sejahtera”. Tema ini mengandung makna bahwa Kebangkitan Nasional sekarang lebih difokuskan pada perwujudan kerja nyata dengan bekerja lebih keras dan bukan sekadar pengembangan wacana. Tuntutan untuk terus maju dan mewujudkan Indonesia sebagai Negara sejahtera telah menjadi pemicu pentingnya merealisasikan semangat kebangkitan nasional dengan kerja keras, kerja cerdas dan produktif.

Dalam sambutannya Menristekdikti mengatakan bahwa sesuai dengan visi misi Presiden dan Wakil Presiden RI, pembangunan mental dan karakter bangsa menjadi salah satu prioritas utama program pembangunan pemerintah sekarang ini. Pembangunan karakter tidak hanya di di jajaran birokrasi namun juga pada seluruh komponen masyarakat. Pembangunan karakter yang disebut “revolusi mental” tersebut diharapkan akan menghasilkan sumber daya manusia Indonesia yang kreatif, inovatif, berdedikasi, disiplin, kerja keras, dan taat aturaan.

“Berhasilnya pembangunan mental dan karakter yang baik akan mewujudkan masyarakat yang tertib dan terbuka sebagai modal sosial yang positif bagi kemajuan bangsa,” ujar Menristekdikti.

Selain para pejabat teras Kemenristekdikti, turut hadir pada upacara tersebut adalah Deputi Bidang Informasi dan Pemasyarakatan Standardisasi BSN Ibu Dewi Odjar Ratna Kumala  dan Deputi bidang Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa BPPT Bapak Erzi Agson Gani. (flh/humasristek)