Komite Kerjasama Iptek ASEAN (ASEAN COST) bekerjasama dengan Perwakilan Tetap Amerika Serikat untuk ASEAN (US Mission to ASEAN) memiliki program ASEAN–U.S. Science and Technology (S&T) Fellows. Program ini merupakan kegiatan magang oleh para peneliti dari kalangan luar pemerintahan untuk bekerja di lembaga pemerintahan yang menangani kebijakan iptek di negara masing-masing selama 1 (satu) tahun. Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi merupakan focal point untuk Indonesia. Program ini merupakan batch ketiga setelah diinisiasi pada tahun 2014.

Senin (23/5) telah diselenggarakan penyambutan bagi para ASEAN – US Fellows 2016–2017 dan penutupan program ASEAN – US Fellows 2015–2016 di Jakarta. Tran Dong Phuong, selaku Director, Sectoral Development Directorate, ASEAN Secretariat memberikan pidato pembukaan pada acara tersebut. Phuong mengatakan, “tahun ini merupakan tahun ketiga pelaksanaan Program ASEAN – US Fellows 2016–2017, dan diharapkan para fellows dapat berkontribusi pada proses pembangunan masyarakat ASEAN dengan penggunaan ilmu pengetahuan dan hasil penelitian yang diaplikasikan menjadi tindakan nyata dan dapat memajukan kerja sama regional yang merupakan prioritas strategis ASEAN”.  Selain itu, Phuong mengucapkan selamat kepada 15 orang fellows terpilih dari negara-negara ASEAN dan berharap bahwa kesempatan ini dapat dimanfaatkan para pemenang untuk belajar tentang adanya gap antara kebijakan dan ilmu pengetahuan sehingga nantinya menghasilkan suatu rekomendasi kebijakan berdasarkan temuan ilmiah yang akan mendorong kemajuan masyarakat ASEAN.

Nada Marsudi, Kepala Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik, selaku perwakilan dari Kemristekdikti memberikan sambutan pada acara tersebut. Nada mengatakan, “sejak pertemuan para pemimpin ASEAN pada KTT ASEAN ke-27 tahun 2015 di Kuala Lumpur, bidang riset dan teknologi masuk pada pilar ekonomi karena diharapkan hasil penelitian diarahkan pada pembangunan ekonomi global”. Nada menambahkan bahwa para fellows merupakan kepanjangan tangan dari pemerintah selaku agen, sehingga mereka bisa menyuarakan visi dan tujuan ASEAN Plan of Action on Science, Technology and Innovation (APASTI) 2016–2025, kepada pemerintah mereka guna mendukung pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan kesejahteraan nasional di masing–masing Negara.

Rangkaian acara ASEAN–US S&T Fellows Orientation Workshop akan berlangsung hingga tanggal 29 Mei 2016. Para Fellows selain dibekali dengan materi penyusunan Plan of Action (PoA) untuk proyek individual, juga diberikan wawasan tentang kerja sama ASEAN, isu-isu penting di ASEAN Science Diplomacy, strategi efektif untuk melibatkan pemangku kebijakan dan paparan tematik seperti bidang energi, kebijakan sains, teknologi dan inovasi dan perubahan iklim.   

Tahun ini terdapat 2 (dua) orang fellows dari Indonesia yang terpilih untuk mengikuti program ASEAN–US Science and Technology Fellowship 2016–2017, yaitu Edi Kurniawan, Pusat Penelitian Informatika, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (bidang Science, Technology and Innovation Policy) dan Frida Sidik, Kementerian Kelautan dan Perikanan (bidang Climate Change and Climate Variablity). Diharapkan hasil penelitian mereka selama 1 (satu) tahun ke depan dapat diimplementasikan guna kesejahteraan masyarakat Indonesia. (nf/bkkp)