SIARAN PERS
No.  /SP/HM/BKKP/2016

Sebagaimana kita ketahui bahwa Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 diarahkan untuk lebih memantapkan pembangunan secara menyeluruh di berbagai bidang dengan menekankan pada pencapaian daya saing kompetitif perekonomian berlandaskan keunggulan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia berkemampuan IPTEK.

Sektor pertanian, sebagaimana telah terbukti, merupakan sektor penopang stabilitas perekonomian makro kita. Sektor pertanian pun sebenarnya merupakan sektor penciptaan nilai yang besar dan apabila diupayakan sebagaimana mestinya akan terwujud terjadinya pertanian nasional yang maju dengan produk-produk berdaya saing tinggi. Presiden telah menetapkan kebijakan nasional pembangunan yang dirumuskan dalam sembilan  agenda prioritas, yang disebut sebagai NAWA CITA, dimana salah satu dari agenda prioritas ke-7, adalah “Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik”, dengan peningkatan kedaulatan pangan sebagai upaya mewujudkan kemandirian ekonomi dimaksud.

Program ini merupakan salah satu langkah nyata Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi bersama sektor terkait dan Pemda dalam mendukung NAWACITA dengan meningkatkan produktivitas masyarakat serta mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor strategis dalam hal ini sektor pertanian menuju swasembada pangan. Upaya mewujudkan swasembada pangan tidaklah mudah, paling tidak ada 5 tantangan besar seperti ketersediaan jaringan irigasi yang memadai, ketersediaan benih, ketersediaan pupuk, tenaga kerja/petani, dan penyuluh. Untuk itulah, salah satu strategi dalam upaya mencapai swasembada pangan tersebut yang terkait dengan dunia perguruan tinggi dan lembaga litbang  adalah penyediaan benih varietas unggul yang produktivitasnya tinggi dan sesuai dengan preferensi konsumen.

Berbagai lembaga litbang dan perguruan tinggi saat ini telah mampu menghasilkan berbagai varietas unggul seperti Batan yang menghasilkan varietas Sidenuk, IPB dengan varietas IPB 3S yang telah diseminasikan dan disosialisasikan melalui program demfarm. Namun demikian, keberhasilan yang dicapai saat ini masih dalam skala terbatas. Perlunya dikembangkan suatu  Sistem Perbenihan Padi Nasional yang melibatkan pemerintah, pemerintah daerah, lembaga litbang, perguruan tingi Industri Benih/Penangkar dan Masyarakat, agar varietas-varietas baru tersebut dapat memberikan kemanfaatan ekonomi bagi masyarakat luas dan sekaligus untuk menjamin ketersediaan benih tersertifikat di masyarakat yang diproduksi di dalam negeri.  Seperti kita ketahui bersama bahwa kemampuan nasional dalam menyediakan benih padi tersertifikat baru berkisar 30 persen.

Program Start Up Industri Benih Padi IPB 3S merupakan salah satu model pengembangan industri perbenihan yang menyeluruh mulai dari penyediaan benih sumber (Foundation Seed Program) sampai pemasaran produk berupa benih yang meliputi tiga tahapan produksi yaitu (1) Initial seed production, (2) Foundation seed program, dan (3) Commercial seed production.  Varietas IPB 3S ini, sebagai produk riset, diharapkan mampu meningkatkan produksi padi nasional. Demfarm di Kabupaten Karawang seluas 500 Ha memberikan hasil yang menggembirakan dengan tingkat produktivitas rata-rata 8 ton per hektar.  Jika target pemerintah tahun 2017 surplus 6 juta ton maka, varietas IPB 3S ini berpeluang untuk berkontribusi pada target pemerintah.

Program ini dapat menjadi salah satu contoh sistem perbenihan nasional melalui pengembangan Industri Benih berbasis Holding Company IPB (PT. BLST) bekerjasama dengan produsen benih yang tergabung dalam Asbenindo (Asosiasi Perbenihan Indonesia) dan penangkar. Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi melalui Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi bersama dengan IPB  berkoordinasi secara intensif dengan sektor terkait khususnya Kementerian Pertanian untuk mensinergikan program ini dengan program nasional swasembada pangan.

Lahan pertanian yang dimiliki masyarakat dengan luas lahan yang terbatas (sekitar 0.5 Ha) serta kondisi tanah dan budaya bertani yang beragam. Untuk itu, upaya memperkenalkan varietas baru produk hasil riset, memerlukan pola pendekatan yang berbeda pula. Selain kita perlu mengidentifikasi daerah-daerah yang memiliki karakter tanah yang sesuai, kita juga perlu mendalami budaya masyarakat dalam bertani. Karena bukannya tidak mungkin, meskipun secara teknis hasilnya bagus serta sesuai dengan kondisi tanah setempat, akan tetapi masyarakat masih enggan untuk memanfaatkannya, karena tidak sesuai dengan budaya bertani mereka. Untuk itulah, dalam upaya memperkenalkan pemanfatan  varietas baru ini, kita juga perlu melihat aspek social innovation. Adanya potensi perubahan masyarakat dalam bertani, identifikasi perubahan dan dampak sosial ekonomi, serta harus bisa meyakinkan bahwa perubahan-perubahan tersebut akan lebih menguntungkan masyarakat. Ini pekerjaan rumah yang besar bagi para peneliti kita, untuk selalu melihat aspek sosial, ekonomi dalam melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan.

Saat ini banyak genarasi muda kita yang kurang tertarik dengan dunia pertanian dan bahkan para petanipun banyak yang beralih ke profesi lain, rata-rata setiap tahun bisa mencapai 500 ribu petani yang beralih profesi. Program swasembada pangan yang dicanangkan pemerintah, selain harus mampu meningkatkan produktivitas lahan pertanian kita, juga diharapkan mampu untuk menarik minat generasi muda untuk terjun ke bidang pertanian.  Untuk itulah, salah satu strategi yang perlu dikembangkan adalah Pengembangan Kawasan Agribisnis Padi secara Terpadu mulai dari hulu (penyediaan benih unggul) sampai dengan hilir (pasca panen). Konsep ini memerlukan dukungan seluruh stakeholders untuk memodernisasi kegiatan pertanian salah satunya melalui mekanisasi pertanian.

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, kemampuan kita dalam riset, pengembangan dan produksi benih serta alat-alat pertanian, merupakan modal dasar kita untuk menumbuhkan kawasan kawasan agrisbisnis di beberapa daerah. Konsep ini mampu menarik minat generasi muda kita untuk terjun ke sektor pertanian, karena konsep ini didesain sesuai dengan perkembangan teknologi dan yang lebih penting lagi untuk menunjukkan bahwa sektor pertanian adalah salah satu sektor yang menjajikan secara ekonomi.

##