SIARAN PERS
Peluncuran Registrasi Pendidik di Perguruan Tinggi
No. 02/SP/HM/BKKP/I/2015

Secara perhitungan nasional, jumlah tenaga dosen yang tersebar di Indonesia masih masuk dalam kategori terbatas kendati berbagai upaya pembinaan telah dilakukan. Selama ini, pelaksanaan proses rekruitmen hanya menjangkau kalangan tertentu yang dimulai dari jabatan paling rendah (single entry), sehingga kurang menjaring banyak kandidat untuk menjadi dosen. Melihat fenomena tersebut Kemenristekdikti lalu berinovasi, menetapkan sistem multi entry yang dapat merekruit dosen dari kalangan lebih luas yang berasal dari berbagai jabatan, termasuk mereka yang sudah bertitel profesor, peneliti, praktisi, perekayasa, dan sebagainya.

Pada Selasa, 12 Januari 2016, bertempat di Auditorium Binakarna, Gedung Bidakara, Jakarta Selatan, identitas baru bernama Nomor Induk Dosen Khusus (NIDK) ini pun diluncurkan. NIDK akan diberikan kepada Dosen yang diangkat perguruan tinggi berdasarkan perjanjian kerja setelah memenuhi persyaratan. Esensi yang membuatnya berbeda dengan Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN) adalah dosen ber NIDK dapat berasal dari pegawai negeri sipil, TNI, POLRI, peneliti, praktisi, perekayasa, atau dosen purna tugas. Dosen yang memiliki NIDK tetap diperhitungkan rasionya terhadap mahasiswa.

Bagi Profesor, NIDK berlaku hingga Dosen bersangkutan berusia 70 tahun, sedangkan bagi Dosen selain Profesor berlaku hingga berusia 65 tahun. NIDK bagi Profesor dapat diperpanjang untuk 5 tahun dan dapat diperpanjang kembali sebanyak 2 kali, masing-masing untuk 2 tahun. NIDK bagi Dosen selain Profesor dapat diperpanjang untuk 5 tahun. Perpanjangan ini dilakukan dengan melampirkan perjanjian kerja dengan perguruan tinggi, serta surat keterangan sehat jasmani dan rohani dari rumah sakit. Sementara untuk Dosen Purna Tugas, NIDK dapat diberikan untuk pertama kalinya pada usia 70-78 tahun bagi Profesor, dan 65-69 tahun bagi Dosen selain Profesor. Sedangkan untuk Dosen pindah perguruan tinggi, NIDK tetap berlaku.

Adapun persyaratan mendapatkan NIDK adalah telah diangkat sebagai Dosen oleh perguruan tinggi berdasarkan perjanjian kerja; memiliki kualifikasi akademik; sehat jasmani dan rohani; dan tidak menyalahgunakan narkotika.

Selain harus memenuhi syarat NIDK di atas, Dosen berkewarganegaraan asing dapat pula memperoleh NIDK dengan penambahan syarat, meliputi memiliki izin kerja di Indonesia; memiliki jabatan akademik minimal associate professor, dan memiliki minimal 3 publikasi internasional dalam jurnal internasional bereputasi.

Selanjutnya, terdapat pula identitas Nomor Urut Pendidik (NUP), yaitu nomor urut yang diterbitkan oleh Kementerian untuk Dosen, Instruktur, dan Tutor yang tidak memenuhi syarat diberikannya Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN) ataupun NIDK. Peran NUP dibutuhkan untuk memenuhi relevansi keahlian dari dunia industri ke perguruan tinggi. NUP diberikan kepada Dosen Tidak Tetap, Tutor, dan Instruktur setelah memenuhi persyaratan hingga usia 70 tahun. Dan jika Dosen Tidak Tetap, Tutor, serta Instruktur pindah perguruan tinggi, NUP tetap berlaku.

Persyaratan untuk memperoleh NUP, meliputi telah diangkat sebagai Dosen Tidak Tetap, Tutor, atau Instruktur pada perguruan tinggi; memiliki kualifikasi akademik, sehat jasmani dan rohani; dan tidak menyalahgunakan narkotika.

Pada akhirnya, peluncuran NIDK ini menjadi sebuah langkah strategis dan terobosan dalam berbagi sumber daya serta membangun sinergi antara jajaran akademisi, peneliti, perekayasa, praktisi, pelaku dunia usaha, dan pemerintah demi tercapainya Indonesia yang lebih optimis.