Tangerang Selatan – Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir baru saja berkunjung ke RPH (Rumah Potong Hewan) di Karawaci Tangerang, Banten, Rabu malam (25/4). Kunjungan ini untuk menyaksikan proses rangkaian persiapan perlakuan teknologi Transfer Embrio (TE) pada sapi ditempat tersebut.

TE merupakan generasi kedua bioteknologi reproduksi setelah inseminasi buatan (IB). Teknologi ini memiliki kelebihan dari ilmu reproduksi lainnya seperti IB. Transfer embrio merupakan suatu proses, mulai dari pemilihan sapi-sapi donor, sinkronisasi birahi, superovulasi, inseminasi, koleksi embrio, penanganan dan evakuasi embrio, transfer embrio ke resipien sampai pada pemeriksaan kebuntingan dan kelahiran. Transfer embrio memiliki manfaat ganda karena selain dapat diperoleh keturunan sifat dari kedua tetuanya juga dapat memperpendek interval generasi sehingga perbaikan mutu genetik ternak lebih cepat diperoleh.

TE seekor betina unggul yang disuperovulasi kemudian diinseminasi dengan sperma pejantan unggul dapat menghasilkan sekitar 40 ekor anak sapi unggul dan seragam setiap tahun, bila dibandingkan dengan perkawinan alam atau IB hanya mampu melahirkan 1 ekor anak sapi pertahun. Bahkan bisa dibuat kembar identik dalam jumlah yang banyak dengan menggunakan teknik “Cloning“. Teknologi TE juga dapat membuat jenis kelamin (jantan atau betina) anak sapi yang diinginkan.

Terkendalanya lokasi laboratorium dengan RPH (Rumah Pemotongan Hewan) ke tempat laboratorium yang sekarang hanya ada di Bogor masih menjadi masalah karena Transfer Embrio ini hanya bertahan sekitar 6 jam.

“Saya ingin ada satu paket ditempat ini dari mulai pemotongan hewan sampai laboratorium untuk melakukan proses Transfer Embrio disini, saya juga menghimbau untuk tidak memotong sapi betina lokal, tujuannya untuk perbaikan genetika sapi-sapi lokal yang harus ditingkatkan terus.” tutur Nasir.

Laboratorium dan Penyimpanan yang kurang memadai menjadi masalah oleh para peneliti Transfer Embrio pada sapi ini kemudian memanfaatkan sapi lokal dari kupang yang juga harus diperhatikan oleh Kemristekdikti. Ia juga menargetkan pada 2019 mendatang bisa terealisasikan swasembada daging yang juga nawacita Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo.

Kepala Lab. Reproduksi Pemuliaan dan Kultur Sel Hewan Puslit Bioteknologi LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), Syahrudin Said sependapat perkataan Menristekdikti terkait  ingin terus meningkatkan kualitas Laboratorium-laboratorium di Indonesia dan mendukung proses Transfer Embrio (TE) pada sapi lokal ini. “Saya harap ada Standar Pemeliharaan dan SOP yang jelas maka saya yakin Transfer Embrio pada sapi-sapi ini akan berjalan baik,” imbuhnya.

Harapan Menristekdikti para peneliti Indonesia untuk segera mepatenkan agar dunia Internasional tahu bahwa sapi lokal Indonesia dari sumba adalah hasil dari penelitian yang dilakukan oleh anak-anak Indonesia. (ard/bkkp)

Galeri