Semarang – Sebagai upaya pencegahan paham radikal terorisme dan ISIS di kalangan Perguruan Tinggi, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) bersinergi dengan Badan Nasionalisme Penanggulangan Terorisme (BNPT) mencegah bentuk radikalisasi di dunia kampus. Sinergi tersebut tertuang dalam Komitmen Bersama yang ditandatangani oleh pihak Kemenristekdikti yang diwakili Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Intan Ahmad, serta Kepala BNPT Komjen Pol. Saud Usman Nasution di Universitas Diponegoro, Senin (29/02).

“Kampus sebagai ranah publik mudah dijadikan sasaran teroris untuk menanamkan paham radikalisme ke mahasiswa,” ungkap Intan. Lanjutnya, mahasiswa rawan sekali terhadap radikalisme karena mereka memiliki jiwa muda yang masih ingin mencari jati dirinya. Kedua, mahasiswa cenderung memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap sesuatu. Untuk itu, pihaknya berharap bahwa mahasiswa harus mampu berpikir kritis sehingga dapat memahami persoalan yang ada di masyarakat.

Intan juga menjelaskan penanaman ideologi Pancasila dan pendekatan agama menjadi faktor penting untuk mencegah masuknya paham radikalisme di kampus. “Tidak hanya sebagai MKU (Mata Kuliah Umum-red) semata, namun bagaimana implementasinya di dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.

Sebagai aksi nyata, Intan menambahkan, Kementerian telah membahas persoalan ini pada Rapat Kerja Nasional Kemristekdikti akhir Januari lalu dengan mengundang Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan. Dalam forum tersebut, dilihat  bagaimana permasalahan itu muncul dan upaya apa yang sudah dilakukan. Sebagai tindak lanjut, Kemristekdikti akan melakukan revitalisasi mata kuliah dasar seperti kewarganegaraan dan agama.

“Mata kuliah yang baik harus mampu menjawab permasalahan yang ada di lingkungan. Mahasiswa sebagai kaum intelektual harus bisa memahami dan ikut mencegah terjadinya masalah tersebut,” ujar Intan.

Terakhir, Intan menegaskan bahwa upaya pencegahan paham radikal terorisme di perguruan tinggi harus dilakukan secara berkesinambungan. Penyadaran tidak hanya dilakukan oleh pemerintah saja, namun juga dosen dan mahasiwa harus memiliki kepedulian untuk melawan radikalisme.

Senada dengan Intan, Saud Usman Nasution mengatakan penanaman ideologi Pancasila dan UUD 1945 penting bagi mahasiswa dan kampus agar tidak mudah disusupi terorisme. BNPT telah melakukan upaya pencegahan radikalisme ke perguruan tinggi secara lebih masif dan terstruktur di tahun 2016, melalui program nasional dalam bentuk dialog publik.

Pada kesempatan yang sama, berlangsung dialog publik bertema Pencegahan Paham Radikal Terorisme dan ISIS di Kalangan Perguruan Tinggi se-Jateng yang dihadiri 1000 mahasiswa dari 10 Perguruan Tinggi di Jawa Tengah.  Dari dialog tersebut diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada sivitas akademika tentang paham radikal terorisme dan bersama-sama mencegahnya masuk ke perguruan tinggi. (sh/bkkp)

Galeri