Salah satu perhatian khusus yang perlu didukung untuk memperkuat kuantitas dan kualitas penelitian adalah infrastruktur. Indonesia harus mengedepankan infrastruktur, mengingat seorang peneliti harus berada dekat obyek penelitian dan dengan komunitas untuk mendiskusikan letak permasalahannya di mana tanpa halangan pekerjaan lain.  Terutama terkait penyusunan pertanggung jawaban keuangan yang relatif kaku. Oleh karena itu, dibutuhkan terobosan kebijakan baru guna menciptakan lingkungan yang kondusif untuk melaksanakan riset, sehingga para peneliti dapat menghasilkan kinerja yang lebih produktif, terukur, dan bermanfaat bagi masyarakat.

Hambatan kegiatan penelitian selama ini ada dalam struktur penganggaran akun belanja barang (52), yang menyebabkan pertanggungjawaban keuangan dibebankan kepada peneliti. Untuk menjawab permasalahan tersebut, Kemenristekdikti melakukan berbagai diskusi dengan instansi terkait. Salah satu usulan adalah Penyederhanaan Pertanggungjawaban Anggaran Penelitian. Kemenristekdikti menyusun Rencana Induk Riset Nasional (RIRN) sebagai panduan peta kerja teknis bagi seluruh pemangku kepentingan nasional dalam tahap perencanaan sampai evaluasi, khususnya terkait dengan anggaran.  Sehingga para peneliti dapat berkinerja sesuai standar global, yaitu melakukan riset dengan baik, mempublikasi hasilnya, mempatenkan, dan bertransaksi lisensi secara terhormat.

Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan, Muhammad Dimyati menerangkan pada acara Coffee Morning – Kabar Terhangat Ristekdikti (19/02/2016) di Gedung D Senayan, bahwa keberhasilan penelitian di Indonesia bukan hanya tergantung pada kualitas peneliti, kelengkapan sarana prasarana, dan pendanaannya, tapi justru yang paling penting adalah bagaimana mengkomunikasikan hasil-hasil yang diteliti kepada publik itu menjadi variabel penentu.

“Jika kita berbicara tentang penelitian itu indikatornya adalah kemanfaatan dengan masyarakat, untuk itu saya mengajak seluruh teman-teman jurnalis untuk sesering mungkin berkomunikasi dengan seluruh peneliti yang ada di seluruh Indonesia. Banyak peneliti yang memiliki penelitian luar biasa namun tidak memiliki kemampuan untuk mengkomunikasikan kepada masyarakat, sehingga penemuan-penemuan tersebut seolah-olah lenyap ditelan angin,” ujar Dimyati.

Untuk itu keterlibatan teman-teman jurnalis menjadi bagian penting keberhasilan penelitian di indonesia. Bersama kita bantu keberhasilan penelitian di Indonesia. (flh/bkkp)

Galeri